BI Balikpapan Dorong UMKM Kaltim Kuasai Pasar Digital

BALIKPAPAN – Bank Indonesia (BI) Balikpapan mempercepat transformasi digital pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kalimantan Timur (Kaltim) melalui Program Onboarding DIGDAYA UMKM 2026. Program tersebut difokuskan untuk memperkuat kemampuan pelaku usaha lokal dalam memanfaatkan transaksi digital, live selling, hingga pembayaran berbasis Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS).

Kepala Perwakilan BI Balikpapan, Robi Ariadi, mengatakan perubahan pola konsumsi masyarakat membuat pelaku UMKM harus segera beradaptasi dengan ekosistem ekonomi digital agar tetap mampu bersaing di pasar yang semakin kompetitif.

“Program DIGDAYA UMKM 2026 dirancang tidak hanya sebagai pelatihan semata, melainkan juga sebagai rangkaian program pembinaan UMKM yang dilaksanakan secara berkelanjutan dan terstruktur,” kata Robi Ariadi, sebagaimana dilansir Kaltim Post, Jumat, (29/05/2026).

Menurutnya, digitalisasi transaksi menjadi salah satu kunci memperluas pasar sekaligus mempercepat arus pembayaran usaha. Karena itu, BI Balikpapan mendorong penggunaan QRIS di kalangan UMKM agar pencatatan keuangan dan proses transaksi menjadi lebih efisien.

Selain pembelajaran transaksi digital, peserta juga dibekali strategi pemasaran melalui live selling yang kini berkembang pesat di berbagai marketplace dan media sosial. Metode tersebut dinilai efektif karena konsumen cenderung tertarik pada interaksi langsung dan demonstrasi produk secara real time.

BI Balikpapan menilai masih banyak pelaku UMKM yang belum memahami cara kerja algoritma media sosial dalam meningkatkan penjualan produk. Kondisi tersebut membuat produk lokal sering kalah bersaing dengan merek besar yang lebih kuat dalam promosi digital.

Melalui program DIGDAYA, peserta dilatih menyusun konten promosi yang lebih terarah, membangun identitas merek, serta memanfaatkan fitur pemasaran digital secara optimal agar mampu menguasai distribusi produk di pasar daring.

Sebanyak 44 UMKM dari sektor makanan olahan, fesyen, dan kerajinan mengikuti program tersebut. Mereka menjalani workshop intensif selama tiga hari sebelum memasuki tahap coaching dan pemantauan berkala hingga Oktober 2026.

Robi menegaskan keberhasilan UMKM digital tidak hanya diukur dari peningkatan transaksi penjualan, tetapi juga kemampuan membangun tata kelola usaha yang lebih modern dan adaptif terhadap perkembangan teknologi.

“Program ini diharapkan mampu menciptakan UMKM mitra yang lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi, memiliki tata kelola usaha yang lebih baik, serta mampu menjadi role model pengembangan UMKM digital di wilayah masing-masing,” ujarnya.

Transformasi UMKM digital juga dipandang menjadi bagian penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN). Seiring berkembangnya kawasan Nusantara, kebutuhan produk lokal berbasis digital diperkirakan terus meningkat, mulai dari kuliner, fesyen, hingga suvenir khas daerah. []

Penulis: Ulil Mu’Awanah | Penyunting: Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *