Ketua ARSADA Kalbar Ungkap Tantangan Besar Rumah Sakit Daerah
Ketua ARSADA Kalbar, drg. Hary Agung Tjahyadi, M.Kes yang juga Direktur RSUD dr. Soedarso Pontianak.
PONTIANAK – Ratusan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) yang beroperasi saat ini, baru sekitar 20 hingga 25 rumah sakit yang dinilai mampu berdiri secara finansial tanpa bergantung penuh pada dukungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
Persoalan tersebut menjadi salah satu isu utama yang mengemuka dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) XVI Asosiasi Rumah Sakit Daerah Seluruh Indonesia (ARSADA) yang digelar di Kota Pontianak, Kalimantan Barat, Kamis (11/6/2026).
Menurut Ketua ARSADA Kalbar, drg. Hary Agung Tjahyadi, M.Kes tingkat kemandirian rumah sakit daerah di Indonesia saat ini masih sangat beragam. Ada yang telah mandiri, ada yang sedang menuju mandiri, dan masih banyak yang belum mampu memenuhi kebutuhan operasionalnya secara mandiri.
“Diperkirakan sekitar 20 sampai 25 rumah sakit di Indonesia yang mandiri. Selebihnya belum mandiri. Artinya pendapatannya masih belum mampu menutupi seluruh biaya operasional,” ungkap Hary yang juga Direktur RSUD dr. Soedarso Pontianak ini.
Menurutnya, rumah sakit berstatus Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) dapat dikategorikan mandiri apabila mampu menutup lebih dari 80 persen kebutuhan operasional dari pendapatannya sendiri.
Hary yang juga menjabat sebagai Direktur RSUD Soedarso Pontianak menyebut rumah sakit yang dipimpinnya kini telah mencapai tingkat kemandirian sekitar 86 persen. Dalam beberapa tahun terakhir, pendapatan BLUD RSUD Soedarso terus meningkat sehingga ketergantungan terhadap APBD mulai berkurang.
“Dukungan APBD saat ini lebih banyak diarahkan untuk pengembangan fasilitas dan belanja modal. Namun dukungan pemerintah daerah tetap sangat penting, terutama untuk rumah sakit yang belum mampu mandiri,” ujarnya.
Selain persoalan keuangan rumah sakit daerah, kualitas pelayanan juga menjadi tantangan yang tidak kalah besar. Tingginya jumlah pasien peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) atau BPJS Kesehatan membuat rumah sakit dituntut memberikan pelayanan yang lebih cepat, ramah, dan berkualitas.
“Bukan hanya soal teknologi, tetapi juga bagaimana mengelola hospitality, keramahan kepada pasien, dan kecepatan pelayanan. Ini yang masih menjadi tantangan rumah sakit daerah,” katanya.
Di RSUD Soedarso sendiri, jumlah pasien rawat jalan setiap hari mencapai 800 hingga 1.000 orang. Sementara pasien yang datang melalui Instalasi Gawat Darurat (IGD) berkisar antara 80 hingga 120 orang per hari.
Tingginya angka kunjungan tersebut berdampak langsung pada tingkat keterisian tempat tidur yang kerap mendekati kapasitas maksimal.
“Nah ini saya kira tantangan juga untuk rumah sakit daerah, agar memberikan pelayanan lebih cepat. Sekali lagi ya, menambah sarana-prasarana dan juga menambah SDM,” ujar Hary.
Sementara itu, Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan mengakui RSUD Soedarso masih menghadapi persoalan kepadatan pasien karena menjadi rumah sakit rujukan utama dari berbagai daerah di Kalbar.
“Permasalahannya sekarang sering penuh tempat tidurnya karena pasien dari mana-mana dirujuk ke Soedarso,” kata Norsan.
Ia menjelaskan, saat ini RSUD Soedarso memiliki 585 tempat tidur rawat inap dan kapasitas tersebut masih dapat ditingkatkan hingga sekitar 680 tempat tidur.
Untuk mengurangi beban layanan di RSUD Soedarso, Pemprov Kalbar berharap keberadaan rumah sakit baru di Kabupaten Kubu Raya dapat membantu menampung pasien rujukan dan memperluas akses layanan kesehatan bagi masyarakat.
Selain itu, Pemprov Kalbar juga masih menghadapi tantangan dalam pemerataan dokter spesialis di seluruh kabupaten dan kota. Menurut Norsan, kebutuhan tenaga dokter spesialis masih belum sepenuhnya terpenuhi meski sejumlah program telah dijalankan.
“Untuk pemerataannya kita sudah berusaha semaksimal mungkin. Namun memang kita masih kekurangan dokter spesialis,” tuturnya.
Saat ini, Pemprov Kalbar terus mendorong program hospital base serta pengembangan pendidikan dokter spesialis melalui Universitas Tanjungpura sebagai salah satu solusi jangka panjang untuk mengatasi kekurangan tenaga medis spesialis.
Rakernas XVI ARSADA yang berlangsung pada 11 hingga 13 Juni 2026 mengusung tema “Mewujudkan RSUD Unggul melalui Transformasi Tata Kelola serta Reformasi Pelayanan Berbasis Penguatan SDM dan Keuangan”.
Kegiatan ini diikuti perwakilan rumah sakit daerah dari berbagai provinsi di Indonesia dan dirangkai dengan seminar, diskusi, pameran rumah sakit daerah, serta pameran alat kesehatan.(*)
