Menteri PKP Dorong Pengembang Jatim Perbanyak Rumah Subsidi FLPP

MALANG – Pemerintah mengajak masyarakat berpenghasilan rendah memanfaatkan program rumah subsidi melalui skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) untuk mempercepat pengurangan backlog kepemilikan rumah. Ajakan tersebut disampaikan bersamaan dengan dorongan kepada pengembang perumahan di Jawa Timur (Jatim) agar terus meningkatkan penyediaan hunian bersubsidi yang layak dan terjangkau.

Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait mengatakan kebutuhan rumah masyarakat masih tinggi sehingga dukungan pengembang menjadi faktor penting dalam memperluas akses kepemilikan hunian. Pernyataan itu disampaikan usai meninjau rumah subsidi di Lawang Park Residence, Kabupaten Malang, Rabu (01/07/2026), sebagaimana diwartakan Antara, Rabu (01/07/2026).

“Pengembang di Jawa Timur semangat menyiapkan rumah untuk rakyat,” kata Maruarar.

Menurut Maruarar, pemerintah telah mempertahankan suku bunga FLPP sebesar 5 persen hingga akhir masa tenor yang dapat diperpanjang sampai 40 tahun. Selain itu, uang muka atau down payment (DP) rumah subsidi ditetapkan mulai 1 persen dari harga rumah sehingga diharapkan semakin memudahkan masyarakat memiliki hunian.

“Masih banyak backlog yang belum punya rumah. Saya pikir mohon Pak Wakil Gubernur Jawa Timur bisa mendorong karena demand-nya pasti tinggi,” katanya lagi.

Selain memperluas pembangunan rumah tapak bersubsidi, Kementerian PKP juga menyiapkan solusi berupa hunian vertikal dalam bentuk rumah susun untuk mengatasi keterbatasan lahan di kawasan perkotaan. Sementara itu, penanganan rumah tidak layak huni (RTLH) dilakukan melalui program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

Maruarar menilai kualitas rumah subsidi di Lawang Park Residence telah memenuhi aspek kelayakan, mulai dari konstruksi bangunan, kualitas air, hingga sistem drainase kawasan.

“Di sini (kualitas) airnya bagus, saya sudah mengecek rumahnya dan bagian dalam bagus, tembok tebal, lantainya tidak ada yang retak. Saya mengecek dengan warga juga dan tidak banjir,” katanya pula.

Salah seorang penghuni Lawang Park Residence, Yeni, mengaku program FLPP membantunya memiliki rumah dengan biaya awal yang terjangkau. Ia membeli rumah seharga Rp166 juta dengan DP Rp1,6 juta dan masa cicilan selama 20 tahun. Hunian tersebut terdiri atas dua kamar tidur, ruang tamu, kamar mandi, dan dapur.

“Setelah melihat, diproses BI checking dan langsung ACC (disetujui) terus tidak sampai dua bulan sudah akad. Setiap bulan membayar (angsuran) Rp1.072.000,” ujarnya pula.

Pemerintah berharap perluasan penyediaan rumah subsidi melalui FLPP, rumah susun, dan program BSPS dapat mempercepat pengurangan backlog perumahan sekaligus meningkatkan kualitas hunian masyarakat berpenghasilan rendah. []

Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *