PLN Targetkan Listrik Kalbar Pulih 11 Juli, Tokoh Masyarakat Tagih Evaluasi
PONTIANAK – Pemulihan sistem kelistrikan di Kalimantan Barat (Kalbar) ditargetkan tuntas pada 11 Juli 2026. Target tersebut menjadi sorotan para tokoh masyarakat yang mendesak PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi (UID) Kalbar tidak hanya memastikan pasokan listrik kembali normal, tetapi juga melakukan evaluasi menyeluruh, memperbaiki komunikasi publik, serta memberikan perhatian kepada pelanggan yang terdampak akibat gangguan kelistrikan.
Harapan tersebut mengemuka dalam pertemuan antara manajemen PLN UID Kalbar dengan sejumlah tokoh adat dan masyarakat di Pontianak, Selasa (07/07/2026). Dalam forum itu, masyarakat menyampaikan berbagai masukan terkait dampak blackout yang mengganggu aktivitas warga, perekonomian, hingga pelayanan kepada pelanggan.
General Manager (GM) PLN UID Kalbar, Maria G. I., mengatakan seluruh personel saat ini difokuskan untuk mempercepat proses pemulihan sistem kelistrikan agar pasokan listrik kembali stabil. Menurutnya, PLN terus melakukan penanganan teknis dan pemulihan jaringan secara bertahap dengan mengerahkan seluruh sumber daya yang tersedia.
“Kami menyampaikan permohonan maaf atas apa yang terjadi. Kami memohon doa dan dukungan dari seluruh masyarakat Kalbar agar proses recovery kelistrikan ini berjalan lancar dan sistem segera pulih seperti sediakala,” kata Maria G. I., sebagaimana dilansir Antara, Selasa, (07/07/2026).
GM PLN UID Kalbar menambahkan target pemulihan penuh diharapkan dapat tercapai pada 11 Juli 2026 sehingga pelayanan kelistrikan kepada masyarakat kembali berjalan normal.
Di sisi lain, Wakil Ketua I Dewan Adat Dayak (DAD) Kota Pontianak, Alex Sandra Djaoeng, menilai proses pemulihan harus diikuti dengan pembenahan sistem agar gangguan serupa tidak kembali terjadi. Menurutnya, sebagai penyedia tenaga listrik bagi masyarakat, PLN memiliki tanggung jawab memastikan kualitas pelayanan tetap terjaga.
“Kami berharap ada kompensasi, misalnya berupa voucher atau bentuk bantuan lainnya bagi pelanggan yang terdampak,” katanya.
Alex juga menyoroti pentingnya penyampaian informasi resmi kepada masyarakat. Ia berharap perkembangan penanganan gangguan disampaikan langsung oleh manajemen maupun humas PLN sehingga tidak memunculkan informasi yang simpang siur.
Senada dengan itu, Ketua Majelis Adat Budaya Tionghoa (MABT) Kota Pontianak, Hendry Pangestu Lim, meminta PLN menepati target normalisasi sistem pada 11 Juli 2026 mengingat masyarakat sangat bergantung pada pasokan listrik yang stabil.
“Tadi Bu GM menyampaikan tanggal 11 Juli akan normal kembali. Mudah-mudahan jangan meleset. Kalau meleset, kami siap mengajak masyarakat datang dan menginap di kantor PLN,” ujarnya.
Hendry mengungkapkan gangguan listrik telah menimbulkan kerugian ekonomi yang tidak sedikit. Ia mengaku kehilangan sembilan ekor ikan arwana dengan nilai kerugian diperkirakan mencapai Rp90 juta akibat padamnya aliran listrik. Selain itu, keluarganya yang memiliki bayi berusia tiga hari terpaksa mengungsi ke hotel selama dua malam karena kondisi tersebut.
Pertemuan antara PLN UID Kalbar dan para tokoh masyarakat diharapkan menjadi bahan evaluasi bersama untuk memperkuat keandalan sistem kelistrikan di Kalbar, meningkatkan kualitas pelayanan kepada pelanggan, serta membangun komunikasi publik yang lebih efektif pada masa mendatang. []
Redaksi01
