Saham Chip Korea Selatan Bangkit, Investor Borong Setelah Koreksi
SEOUL – Saham emiten semikonduktor Korea Selatan kembali bergerak di zona hijau pada perdagangan Rabu (08/07/2026) setelah investor memanfaatkan pelemahan harga pada awal sesi untuk melakukan aksi beli. Optimisme terhadap prospek permintaan chip memori hingga beberapa bulan ke depan menjadi penopang utama pemulihan sektor tersebut.
Saham Samsung Electronics sempat menguat hingga 1,4 persen, sedangkan SK Hynix melonjak sekitar 5,8 persen pada perdagangan pagi. Sebelumnya, kedua saham itu sempat terkoreksi masing-masing 4,4 persen dan 5 persen akibat sentimen negatif yang berasal dari aksi jual saham semikonduktor di Amerika Serikat (AS).
Pemulihan tersebut didorong keyakinan pelaku pasar bahwa fundamental industri chip memori masih relatif kuat. Musim laporan keuangan yang baru dimulai dinilai masih berpotensi menghadirkan kinerja positif bagi perusahaan-perusahaan semikonduktor, sementara pasokan chip memori diperkirakan tetap terbatas hingga kuartal III 2026. Kondisi itu mendorong investor memanfaatkan koreksi harga untuk kembali mengoleksi saham sektor teknologi, sebagaimana dilansir Kontan, Rabu (08/07/2026).
Sentimen positif juga datang dari rencana SK Hynix untuk mencatatkan sahamnya di bursa AS. Langkah tersebut dipandang mampu memperkuat optimisme investor terhadap prospek perusahaan sekaligus meningkatkan eksposur di pasar global.
Meski demikian, sejumlah analis memperingatkan bahwa kenaikan harga chip memori pada semester II 2026 kemungkinan tidak akan setinggi enam bulan pertama tahun ini. Faktor utama yang menjadi perhatian adalah semakin tingginya basis perbandingan serta mulai munculnya penolakan pelanggan terhadap kenaikan harga komponen.
Analis Kiwoom Securities, Park Yuak, bahkan memangkas target harga saham Samsung Electronics sekitar 9 persen menjadi 390.000 won atau sekitar 257,15 dolar AS per saham. Menurutnya, kenaikan harga central processing unit (CPU) dan substrate kemasan chip telah meningkatkan harga komputer pribadi (personal computer/PC) maupun telepon pintar, sehingga pelanggan menjadi lebih selektif dalam membeli chip memori tambahan.
Sementara itu, JPMorgan menilai harga chip memori masih akan menjadi faktor utama yang menopang kinerja emiten semikonduktor sepanjang semester II 2026. Lembaga investasi tersebut memperkirakan harga chip NAND konvensional berpotensi melampaui ekspektasi pasar karena permintaan dari perusahaan penyedia pusat data berskala besar (hyperscalers) di AS tetap tinggi meskipun pelanggan mulai membatasi penerimaan terhadap kenaikan harga.
Pemulihan saham semikonduktor Korea Selatan terjadi sehari setelah aksi jual besar melanda Wall Street. Pada perdagangan Selasa (07/07/2026), saham Intel, Micron Technology, dan Advanced Micro Devices (AMD) masing-masing merosot 9,7 persen, 4,7 persen, dan 6,5 persen. Indeks Philadelphia Semiconductor Index juga turun 4,7 persen akibat meningkatnya kekhawatiran investor terhadap keberlanjutan investasi teknologi berbasis artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan.
Tekanan tersebut dipicu laporan pendapatan awal kuartal II Samsung Electronics. Meskipun perusahaan memproyeksikan laba operasional melonjak hingga 19 kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya berkat tingginya permintaan chip AI, capaian itu masih berada di bawah ekspektasi pasar yang sangat tinggi. Kondisi tersebut sempat memicu aksi ambil untung pada saham-saham teknologi sebelum akhirnya kembali menarik minat beli investor pada perdagangan Rabu. []
Redaksi01
