GAPKI Perkuat Ekspor Sawit ke Rusia, MoU Jadi Gerbang Pasar Eurasia
MOSKOW – Peluang ekspor minyak sawit Indonesia ke kawasan Eurasia diproyeksikan semakin terbuka setelah Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan The Fat and Oil Union of Russia serta Association of Enterprises of Fat and Oil Industry of the Eurasian Economic Union (EAEU). Kesepakatan tersebut diharapkan memperkuat perdagangan, investasi, dan pengembangan industri minyak nabati antara Indonesia dan Rusia.
Penandatanganan MoU menjadi tindak lanjut kerja sama ekonomi yang semakin erat antara Indonesia dan negara-negara anggota Eurasian Economic Union (EAEU). Melalui kolaborasi tersebut, pelaku industri dari kedua negara akan memperluas akses pasar, memperkuat jaringan bisnis, serta mendorong pertukaran informasi dan inovasi di sektor minyak nabati.
Ketua Umum (Ketum) GAPKI Eddy Martono mengatakan kesepakatan itu menjadi fondasi penting bagi penguatan hubungan industri minyak nabati Indonesia dan Rusia dalam jangka panjang.
“Nota Kesepahaman ini merupakan langkah strategis untuk memperkuat kemitraan jangka panjang antara industri minyak nabati Indonesia dan Rusia. Kami meyakini kolaborasi yang lebih erat akan membuka peluang perdagangan, investasi, dan inovasi yang lebih besar, sekaligus memperluas akses pasar serta memperkuat daya saing industri minyak nabati kedua negara,” ujar Eddy Martono, sebagaimana diberitakan Media Indonesia, Selasa (14/07/2026).
Penandatanganan kerja sama tersebut turut disaksikan Duta Besar Republik Indonesia untuk Federasi Rusia dan Republik Belarus Jose Tavares, Atase Perdagangan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Moskow, jajaran KBRI Moskow, serta perwakilan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP).
Ruang lingkup kerja sama mencakup fasilitasi dialog industri, pengembangan jaringan bisnis berkelanjutan, pertukaran pengetahuan, promosi investasi, pengembangan teknologi, pembentukan kelompok kerja bersama, hingga kolaborasi dalam advokasi kebijakan untuk meningkatkan perdagangan bilateral sektor minyak nabati.
Kesepakatan tersebut juga dinilai sebagai implementasi nyata dari Perjanjian Perdagangan Bebas (Free Trade Agreement/FTA) yang ditandatangani Indonesia bersama negara-negara anggota EAEU pada 21 Desember 2025 di St. Petersburg, Rusia. Melalui FTA itu, negara anggota EAEU berkomitmen menghapus atau menurunkan tarif atas lebih dari 90 persen kategori produk asal Indonesia sehingga membuka peluang ekspor yang lebih besar, termasuk minyak sawit beserta produk turunannya.
Data GAPKI menunjukkan Rusia menjadi salah satu pasar yang terus berkembang bagi produk sawit Indonesia. Sepanjang 2025, total ekspor sawit ke Rusia mencapai 792 ribu ton dengan nilai 919 juta dolar Amerika Serikat (AS), meningkat dibandingkan 2024 yang tercatat 680 ribu ton senilai 681 juta dolar AS.
Komoditas yang mendominasi ekspor meliputi Refined, Bleached and Deodorized (RBD) Palm Oil, Refined, Bleached and Deodorized Palm Kernel Oil (RBD PKO), produk oleokimia, serta berbagai produk hilir seperti hydrogenated palm oil, shortening, vegetable ghee, dan emulsifier. Hingga April 2026, realisasi ekspor sawit Indonesia ke Rusia telah mencapai 189 ribu ton dengan nilai 237 juta dolar AS.
Di tengah meningkatnya hambatan perdagangan di pasar Uni Eropa, termasuk penerapan European Union Deforestation Regulation (EUDR), Rusia dinilai memiliki posisi strategis sebagai tujuan diversifikasi ekspor minyak sawit Indonesia.
Selain penandatanganan MoU, GAPKI juga mengikuti ajang INNOPROM 2026 di Yekaterinburg pada 6-10 Juli 2026. Dalam forum bertema Palm Oil and the Future of Sustainable Energy: Balancing Climate Goals, Energy Security and Economic Development, Kepala Bidang (Kabid) Luar Negeri GAPKI Fadhil Hasan memaparkan potensi minyak sawit dalam mendukung ketahanan energi global sekaligus meningkatkan daya saing industri.
Fadhil menjelaskan produksi minyak sawit Indonesia yang terdiri atas Crude Palm Oil (CPO) dan Palm Kernel Oil (PKO) mencapai 56,6 juta ton pada 2025 atau meningkat sekitar 7,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Volume ekspor juga naik menjadi 32,3 juta ton dengan nilai sekitar 35,9 miliar dolar AS.
Menurutnya, implementasi program biodiesel B50 mulai Juli 2026 diperkirakan akan meningkatkan konsumsi domestik sekaligus memperkuat kontribusi industri sawit terhadap ketahanan energi nasional.
Ia juga menyoroti penguatan tata kelola melalui Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) yang kini diperluas hingga sektor hilir dan bioenergi dengan penguatan aspek traceability, transparansi, dan perbaikan berkelanjutan. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian hingga Oktober 2025, sebanyak 1.169 perusahaan dan pelaku usaha telah memiliki sertifikat ISPO yang masih berlaku.
GAPKI berharap penguatan kemitraan dengan Rusia dan negara-negara EAEU mampu menciptakan rantai pasok minyak nabati yang lebih efisien, tangguh, dan berkelanjutan sekaligus meningkatkan nilai perdagangan serta investasi kedua negara pada masa mendatang. []
Redaksi01
