50 Perempuan OAP Dibekali Keterampilan Anyaman, Pemprov Papua Barat Daya Perkuat UMKM
SORONG – Sebanyak 50 perempuan Orang Asli Papua (OAP) mengikuti pelatihan anyaman pandan yang diselenggarakan Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A) Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Barat Daya sebagai upaya memperkuat kapasitas pelaku usaha berbasis potensi lokal. Program yang berlangsung pada 16–17 Juli 2026 itu diarahkan untuk menciptakan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang mandiri sekaligus meningkatkan nilai ekonomi hasil kerajinan tradisional.
Pelatihan tersebut menjadi bagian dari strategi Pemprov Papua Barat Daya dalam mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui pemanfaatan sumber daya lokal yang memiliki nilai budaya. Selain membekali peserta dengan keterampilan teknis, pemerintah juga menyiapkan program pendampingan agar hasil pelatihan dapat berkembang menjadi usaha yang berkelanjutan.
Asisten II Sekretaris Daerah (Setda) Provinsi Papua Barat Daya Viktor F. Salossa mengatakan kegiatan tersebut merupakan implementasi visi pemerintah daerah untuk memperkuat ekonomi masyarakat melalui pemberdayaan perempuan OAP.
“Pelatihan ini merupakan bagian dari penjabaran visi dan misi pemerintah provinsi, khususnya dalam mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis ekonomi lokal. Kami berharap seluruh peserta mampu menguasai keterampilan yang diberikan sehingga dapat mengembangkan usaha secara mandiri,” ujar Viktor, sebagaimana diberitakan Rri, Kamis (16/07/2026).
Menurut Viktor, program tersebut didanai melalui Dana Otonomi Khusus (Otsus) yang difokuskan bagi pemberdayaan masyarakat asli Papua. Pemerintah, lanjutnya, tidak hanya memberikan pelatihan, tetapi juga akan melakukan pendampingan setelah peserta menyelesaikan proses pembelajaran agar usaha yang dirintis dapat berkembang secara berkesinambungan.
“Setelah mereka terampil, pemerintah akan melakukan pendampingan. Harapannya mereka menjadi agen perubahan di keluarga dan lingkungannya, sekaligus mampu membangun usaha yang masuk dalam kelompok UMKM,” katanya.
Ia menambahkan, Gubernur Papua Barat Daya Elisa Kambu memberikan perhatian terhadap penguatan UMKM lokal. Karena itu, Pemprov Papua Barat Daya terus menjalin komunikasi dengan kelompok pelaku usaha guna menyusun program pemberdayaan yang berkelanjutan untuk tahun ini maupun tahun mendatang.
Selain aspek keterampilan, Viktor menilai kepercayaan diri masih menjadi tantangan bagi sebagian perempuan Papua dalam mengembangkan potensi ekonomi. Oleh sebab itu, dukungan dari pemerintah, gereja, keluarga, dan lingkungan dinilai penting agar semakin banyak masyarakat berani mengikuti pelatihan dan memulai usaha.
“Kalau tidak tahu, bertanyalah. Jangan malu belajar hal baru. Dengan keterampilan yang dimiliki, mereka akan lebih percaya diri dan mampu meningkatkan kesejahteraan keluarga,” ujarnya.
Salah seorang peserta pelatihan, Evalda Cherrys Yandeday, menyambut positif kegiatan tersebut karena memberikan peluang bagi perempuan Papua untuk mengolah daun pandan menjadi produk kerajinan bernilai jual, seperti tas dan sandal.
“Pelatihan ini sangat baik karena mama-mama Papua diajak mengembangkan kreativitas. Bahan lokal seperti daun pandan ternyata bisa diolah menjadi produk yang memiliki nilai jual,” katanya.
Evalda mengungkapkan dirinya telah beberapa kali mengikuti pelatihan serupa yang diselenggarakan berbagai organisasi perangkat daerah. Menurutnya, setiap kegiatan memberikan pengetahuan baru yang dapat menunjang usahanya dalam memasarkan produk-produk UMKM Papua dan Papua Barat Daya melalui toko oleh-oleh yang dikelolanya.
Ia berharap pelatihan berbasis potensi lokal terus dilaksanakan sehingga semakin banyak perempuan Papua memiliki keterampilan, mampu menghasilkan produk unggulan daerah, serta meningkatkan kesejahteraan keluarga melalui pengembangan usaha mandiri. []
Redaksi01
