Wall Street Melemah, Harga Minyak dan Saham AI Jadi Sorotan Investor

NEW YORK – Pelemahan saham-saham teknologi dan lonjakan harga minyak akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah mendorong indeks utama Wall Street ditutup di zona merah pada perdagangan Rabu (22/07/2026) waktu setempat. Pelaku pasar memilih bersikap lebih hati-hati menjelang rilis laporan keuangan emiten teknologi berkapitalisasi besar yang dinilai akan menjadi penentu arah pasar dalam waktu dekat.

Berdasarkan data perdagangan, indeks Nasdaq Composite mencatat pelemahan terbesar dengan turun 146,30 poin atau 0,57 persen ke level 25.690,90. Sementara itu, indeks S&P 500 terkoreksi 10,24 poin atau 0,14 persen menjadi 7.498,96, sedangkan indeks Dow Jones Industrial Average melemah tipis 6,06 poin atau 0,01 persen ke posisi 52.218,58.

Fokus investor kini tertuju pada laporan kinerja kuartal II 2026 dari Alphabet dan Tesla, dua perusahaan pertama dalam kelompok “Magnificent Seven” yang dijadwalkan merilis laporan keuangan. Pasar menantikan bukti bahwa investasi besar di bidang artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan mulai memberikan hasil terhadap pertumbuhan bisnis perusahaan.

Kepala Riset Makro dan Strategi (Head of Macro Research and Strategy) Charles Schwab, Kevin Gordon, mengatakan, “Investor menjadi jauh lebih jeli dan spesifik dalam memilih tempat berinvestasi di sektor AI,” sebagaimana dilansir Kontan, Kamis (23/07/2026).

Kevin menilai perbedaan pergerakan saham perusahaan perangkat lunak dan produsen cip pada perdagangan hari itu menunjukkan investor mulai lebih selektif dalam menilai prospek setiap subsektor AI.

Saham Alphabet ditutup turun 1,5 persen setelah perusahaan menunda peluncuran model AI yang menjadi bagian penting strategi bisnisnya. Sementara itu, saham Tesla melemah 1,3 persen pada perdagangan reguler dan kembali turun sekitar tiga persen pada sesi after-hours setelah melaporkan free cash flow atau arus kas bebas negatif pada kuartal II 2026 untuk pertama kalinya dalam lebih dari dua tahun.

Di sisi lain, meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah turut memperbesar tekanan terhadap pasar keuangan. Harga minyak mentah berjangka melonjak sekitar tiga persen dan mencatat penutupan tertinggi sejak 11 Juni 2026 setelah milisi Houthi Yaman yang didukung Iran mengancam jalur pelayaran di Laut Merah, salah satu rute distribusi energi terpenting dunia.

Situasi tersebut memicu kekhawatiran baru mengenai tekanan inflasi, terutama apabila harga energi bertahan pada level tinggi dalam jangka waktu lebih lama. Menurut Kevin Gordon, kenaikan harga minyak turut memengaruhi perubahan preferensi investor terhadap sektor-sektor yang dianggap lebih defensif.

“Tidak termasuk perdagangan AI berkapitalisasi besar, ada unsur yang terkait dengan harga minyak yang mendorong pasar,” kata Gordon.

“Orang-orang bersikap defensif terhadap sektor utilitas, tetapi dengan harga energi dan material yang lebih tinggi, itulah komponen inflasinya.”

Sementara itu, Federal Reserve (The Fed) diperkirakan masih akan mempertahankan suku bunga acuannya hingga akhir 2026 berdasarkan median jajak pendapat Reuters terhadap para ekonom. Meski demikian, sebagian analis masih melihat peluang kenaikan suku bunga apabila tekanan inflasi kembali meningkat.

Volume transaksi di bursa saham Amerika Serikat mencapai sekitar 15,16 miliar saham, lebih rendah dibandingkan rata-rata 19,5 miliar saham selama 20 hari perdagangan terakhir. Kondisi tersebut mencerminkan sikap investor yang masih menunggu kepastian dari laporan keuangan emiten teknologi dan perkembangan situasi geopolitik global sebelum mengambil keputusan investasi berikutnya. []

Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *