Bursa Asia Berguguran, KOSPI Anjlok 8 Persen Dipicu Aksi Jual Saham Cip
JAKARTA – Mayoritas bursa saham Asia dibuka di zona merah pada perdagangan Senin (28/07/2026), dipicu aksi jual besar-besaran di sektor semikonduktor setelah saham perusahaan teknologi global mengalami tekanan. Bursa Korea Selatan mencatat pelemahan paling tajam dengan Indeks Korea Composite Stock Price Index (KOSPI) merosot lebih dari 8 persen, diikuti koreksi signifikan pada Indeks Nikkei 225 Jepang.
Berdasarkan data perdagangan hingga pukul 08.22 WIB, Indeks KOSPI turun 8,04 persen ke level 6.212,26. Sementara itu, Indeks Nikkei 225 terkoreksi 4,17 persen menjadi 62.221,79. Pelemahan juga terjadi pada Indeks Taiwan Stock Exchange Capitalization Weighted Stock Index (TAIEX) yang turun 3,43 persen ke level 42.139,67.
Di kawasan lain, Indeks S&P/ASX 200 Australia melemah 0,25 persen menjadi 8.872,10, Indeks FTSE Straits Times Singapura turun 0,48 persen ke level 5.593,13, sedangkan Indeks FTSE Bursa Malaysia Kuala Lumpur Composite Index (KLCI) terkoreksi 0,33 persen menjadi 1.707,49. Berbeda dengan mayoritas bursa Asia, Indeks Hang Seng Hong Kong justru dibuka menguat 0,26 persen ke posisi 25.271,95.
Tekanan terhadap pasar dipicu oleh anjloknya saham-saham produsen cip setelah pergerakan bursa saham Amerika Serikat (AS) pada perdagangan sebelumnya berakhir bervariasi. Sentimen tersebut memicu aksi jual di sektor teknologi yang memiliki bobot besar terhadap indeks utama di kawasan Asia.
Salah satu pemicu utama berasal dari saham SK Hynix yang turun sekitar 10 persen setelah American Depositary Receipts (ADR) perusahaan tersebut mencatat rekor terendah di Bursa Efek New York dan diperdagangkan di bawah harga penawaran awalnya di AS, sebagaimana diberitakan Kontan, Senin (28/07/2026).
Tekanan juga dialami Samsung Electronics yang sahamnya melemah 9,15 persen. Kedua perusahaan tersebut memiliki kontribusi lebih dari separuh bobot Indeks KOSPI sehingga penurunan harganya memberikan dampak signifikan terhadap pelemahan pasar saham Korea Selatan secara keseluruhan.
Selain dipengaruhi aksi jual saham teknologi, pergerakan Indeks Nikkei 225 juga mengikuti sentimen negatif dari sektor semikonduktor global, termasuk pelemahan indeks semikonduktor Philadelphia di AS. Kondisi tersebut membuat pelaku pasar cenderung mengurangi eksposur terhadap aset berisiko.
Di sisi lain, investor memilih bersikap hati-hati menjelang pengumuman laporan keuangan sejumlah perusahaan teknologi besar di AS dan Jepang. Pelaku pasar menilai hasil kinerja emiten teknologi akan menjadi salah satu faktor penting yang menentukan arah pergerakan bursa regional dalam beberapa waktu mendatang. []
Redaksi01
