Harga Minyak Dunia Ambles 7 Persen Usai Trump Tunda Serangan ke Iran
JAKARTA – Keputusan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menunda rencana serangan terhadap Iran memicu tekanan besar di pasar energi global. Harga minyak dunia pada penutupan perdagangan Senin (03/08/2026) waktu setempat merosot hingga sekitar 7 persen dan menyentuh level terendah dalam tiga pekan, dipengaruhi meningkatnya harapan pasar terhadap peluang tercapainya kesepakatan yang berpotensi menambah pasokan minyak dari kawasan Teluk.
Harga minyak mentah Brent kontrak Oktober ditutup turun 6,35 dolar AS atau 7 persen menjadi 83,77 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 4,33 dolar AS atau 5,1 persen menjadi 80,34 dolar AS per barel. Penurunan tersebut juga menjadikan Brent berada di posisi terendah sejak 13 Juli 2026.
Selain dipengaruhi perkembangan geopolitik, pelemahan harga minyak turut dipicu pergantian kontrak acuan dari September ke Oktober yang memiliki harga lebih rendah. Pergeseran kontrak tersebut memperbesar tekanan terhadap harga di tengah sentimen pasar yang mulai mereda.
Pernyataan Trump mengenai penundaan aksi militer terhadap Iran didasarkan pada klaim bahwa komunikasi antara Washington dan Teheran masih berlangsung. Namun, pemerintah Iran membantah adanya proses negosiasi maupun agenda pertemuan dengan AS dalam waktu dekat.
Analis Ritterbusch and Associates menilai respons pasar terhadap pernyataan Trump berlangsung terlalu agresif.
“Penurunan tajam harga minyak tampaknya merupakan reaksi berlebihan terhadap komentar Trump bahwa kesepakatan dengan Iran sudah di depan mata setelah ancaman serangan besar-besaran yang ia sampaikan akhir pekan lalu,” tulis analis Ritterbusch and Associates, sebagaimana dilansir Kompas, Selasa (04/08/2026).
Lembaga tersebut juga menilai Trump kembali menggunakan pernyataan publiknya untuk memengaruhi pergerakan harga energi.
“Trump terus menunjukkan pola berbicara yang sesekali menekan pasar minyak sehingga mencegah kenaikan harga bensin berlangsung berkelanjutan,” tulis mereka.
Di tengah penurunan harga minyak mentah, Trump kembali meminta perusahaan energi di AS menekan harga bahan bakar bagi masyarakat. Ia juga melontarkan kritik kepada Chevron dan Exxon Mobil karena dinilai memperoleh keuntungan yang terlalu besar. Sejalan dengan penurunan minyak mentah, harga bensin dan solar di AS ikut melemah sekitar 5 persen sepanjang sesi perdagangan.
Meski harga minyak terkoreksi tajam, pasar energi global masih dibayangi berbagai risiko geopolitik. Data pelacakan kapal menunjukkan enam kapal tanker raksasa berbendera Arab Saudi mengubah jalur pelayaran dari Teluk Aden menuju Afrika bagian selatan setelah muncul ancaman serangan dari kelompok Houthi di Yaman. Namun demikian, dua kapal tanker pengangkut minyak Arab Saudi tetap melintasi Selat Bab el-Mandeb pada akhir pekan.
Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz juga dilaporkan melambat menyusul laporan adanya serangan terhadap kapal di kawasan tersebut. Jalur tersebut memiliki peran strategis karena sebelum konflik AS, Israel, dan Iran pecah pada 28 Februari lalu, sekitar seperlima perdagangan minyak dunia melintasi Selat Hormuz.
Di kawasan Laut Hitam, Rusia meningkatkan perlindungan terhadap kapal-kapal yang beroperasi di wilayah Azov-Laut Hitam serta menyiapkan jalur distribusi alternatif akibat meningkatnya ancaman serangan dalam konflik dengan Ukraina.
Sementara itu, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan Sekutunya (Organization of the Petroleum Exporting Countries Plus/OPEC+) telah menyepakati penambahan kuota produksi sekitar 188.000 barel per hari mulai September 2026. Namun, gangguan ekspor dari kawasan Teluk, Rusia, dan Kazakhstan diperkirakan membuat tambahan produksi tersebut belum mampu meningkatkan pasokan minyak global secara optimal. []
Redaksi01
