PHRI Sebut Perhotelan Bali Masih Tumbuh Meski Terdampak Bencana

DENPASAR – Industri perhotelan di Bali masih menunjukkan peningkatan aktivitas pada semester II 2026 meski sejumlah kejadian alam sempat memengaruhi pola perjalanan wisatawan dan tingkat hunian hotel pada periode serta segmen pasar tertentu.

Ketua Umum Badan Pimpinan Pusat Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (BPP PHRI), Hariyadi B.S. Sukamdani, mengatakan tekanan yang muncul akibat gangguan atau pemberitaan mengenai bencana belum menunjukkan pola penurunan yang bersifat struktural pada industri perhotelan Bali.

“Kalau melihat kondisi di lapangan, industri perhotelan Bali memang mengalami dampak dari beberapa kejadian alam yang terjadi belakangan ini, terutama terhadap pola perjalanan wisatawan dan keputusan booking dalam jangka pendek,” kata Hariyadi kepada RMOL, Sabtu (19/09/2026), sebagaimana diberitakan Rmol, Sabtu (19/09/2026).

Menurut Hariyadi, dampak gangguan perjalanan wisatawan tidak dirasakan secara merata oleh seluruh hotel. Sebagian akomodasi mengalami penyesuaian tingkat hunian ketika terjadi gangguan atau muncul pemberitaan mengenai bencana, sementara hotel dengan pangsa pasar yang lebih beragam cenderung mampu mempertahankan okupansi.

“Ada hotel yang mungkin mengalami penyesuaian okupansi, terutama ketika terjadi gangguan atau pemberitaan mengenai bencana, tetapi ada juga yang relatif tetap stabil karena memiliki market yang lebih beragam,” ujarnya.

Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya diversifikasi pasar bagi pelaku usaha perhotelan ketika menghadapi perubahan pola perjalanan wisatawan. Dengan segmen pasar yang lebih beragam, hotel dinilai memiliki ruang lebih besar untuk menjaga tingkat hunian ketika salah satu kelompok wisatawan mengalami penurunan perjalanan.

Hariyadi menilai daya tarik Bali sebagai destinasi wisata masih kuat. Tantangan bagi industri saat ini lebih berkaitan dengan upaya mempertahankan kepercayaan wisatawan ketika sektor pariwisata menghadapi berbagai gangguan.

“Bali masih memiliki daya tariknya yang kuat, tetapi industri pariwisatanya sedang diuji oleh bagaimana kita mengelola confidence wisatawan di tengah berbagai disruption,” jelasnya.

Selain mempertahankan kepercayaan pasar, pelaku usaha juga perlu menyesuaikan diri dengan perubahan perilaku wisatawan. Faktor keselamatan dan kualitas pelayanan turut menjadi perhatian dalam menjaga keberlanjutan aktivitas pariwisata.

“Yang saya lihat, persoalannya bukan semata-mata apakah wisatawan masih datang atau tidak, tetapi bagaimana industri merespons perubahan perilaku wisatawan, menjaga confidence, serta memastikan aspek safety dan service tetap menjadi prioritas,” sambungnya.

Menurut Hariyadi, tekanan yang terjadi pada periode dan segmen pasar tertentu belum cukup untuk menunjukkan adanya tren penurunan struktural. Aktivitas perhotelan Bali justru disebut mengalami peningkatan pada semester II 2026 dibandingkan semester I 2026.

“Untuk tren secara keseluruhan, saya melihat Bali sangat dinamis. Ada tekanan di beberapa periode dan segmen, tetapi belum menunjukkan tren penurunan struktural. Bahkan semester II ini terus meningkat dibandingkan semester I 2026,” pungkasnya. []

Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *