Pejabat The Fed Dorong Kenaikan Suku Bunga Demi Kendalikan Inflasi
JAKARTA – Presiden Federal Reserve Bank St. Louis, Alberto Musalem, menilai kebijakan moneter Amerika Serikat (AS) seharusnya sudah diperketat melalui kenaikan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada rapat Federal Reserve (The Fed) akhir Juli 2026. Menurutnya, langkah tersebut diperlukan untuk menjaga inflasi tetap mengarah ke target 2 persen dan menghindari pengetatan yang lebih agresif di masa mendatang.
Musalem mengungkapkan dirinya mendukung kenaikan suku bunga federal funds rate sebesar 25 basis poin dalam rapat kebijakan The Fed yang digelar pada 29 Juli 2026. Namun, bank sentral AS akhirnya memutuskan mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,50 persen hingga 3,75 persen.
“Saya menyampaikan preferensi pada pertemuan tersebut untuk menaikkan suku bunga federal funds rate sebesar 25 basis poin,” ujar Musalem dalam pidatonya di Brasil, sebagaimana dilansir Kontan, Jumat (07/08/2026).
Menurut Musalem, inflasi masih berisiko bertahan di atas target 2 persen dalam satu tahun ke depan apabila kebijakan moneter tidak diperketat. Karena itu, ia berpandangan bahwa penyesuaian suku bunga secara bertahap sejak dini akan lebih efektif dibandingkan mengambil langkah yang lebih drastis di kemudian hari.
“Kenaikan suku bunga secara bertahap sejak sekarang lebih baik, tidak terlalu mengganggu, dan lebih rendah biayanya dibandingkan perubahan suku bunga yang lebih tajam di kemudian hari,” kata Musalem.
Dalam rapat kebijakan tersebut, tiga pejabat The Fed juga memberikan suara untuk mendukung kenaikan suku bunga karena menilai tekanan inflasi masih memerlukan respons yang lebih tegas. Sejumlah pejabat bank sentral AS dalam beberapa hari terakhir turut menyampaikan pandangan serupa bahwa kenaikan suku bunga seharusnya telah dilakukan atau setidaknya dipersiapkan apabila inflasi tidak kunjung melandai.
Sementara itu, Ketua The Fed Kevin Warsh belum memberikan sinyal yang jelas mengenai arah kebijakan suku bunga berikutnya. Ia justru meminta pelaku pasar mencermati sendiri perkembangan ekonomi sebagai dasar memperkirakan langkah bank sentral pada pertemuan mendatang.
Musalem menegaskan bahwa meskipun perkembangan pasar keuangan tetap diperhatikan, ekspektasi pasar bukan menjadi dasar utama dalam pengambilan keputusan kebijakan moneter.
“Jika Anda yakin sekarang adalah waktu yang tepat untuk mengubah kebijakan ke arah tertentu, maka kebijakan itu seharusnya diubah, terlepas dari apa yang sudah diperhitungkan oleh pasar,” ujarnya.
Ia menambahkan, dalam kondisi tertentu bank sentral perlu mengambil langkah yang berbeda dari ekspektasi pasar apabila situasi ekonomi memang mengharuskannya. Menurutnya, kondisi keuangan AS saat ini masih cukup mendukung aktivitas ekonomi, sementara harga berbagai aset juga berada pada level yang relatif tinggi.
Di sisi lain, Musalem mengingatkan bahwa meskipun ekspektasi inflasi masyarakat masih mengarah pada target 2 persen, kondisi tersebut dapat berubah apabila The Fed dinilai gagal mengendalikan tekanan harga.
“Sangat penting bagi kebijakan moneter untuk memberikan tekanan yang berarti terhadap inflasi yang mendasari, bukan mentoleransi inflasi yang lebih tinggi saat ini demi mengejar pertumbuhan produktivitas di masa depan,” tegasnya.
Ia juga memperingatkan bahwa mempertahankan inflasi di atas target dengan harapan produktivitas meningkat berpotensi mengikis kredibilitas bank sentral.
“Bank sentral yang dipandang mentoleransi inflasi di atas target dengan janji adanya lonjakan produktivitas di masa depan berisiko kehilangan jangkar ekspektasi inflasi,” ujarnya.
Meski demikian, Musalem menilai fundamental ekonomi AS masih relatif kuat. Pasar tenaga kerja disebut tetap stabil dengan pertumbuhan lapangan kerja yang solid serta tingkat pengangguran yang masih mendekati tingkat jangka panjangnya. []
Redaksi01
