Bursa Australia Tertekan, Saham Westpac Anjlok 5 Persen
SYDNEY – Bursa saham Australia mengawali perdagangan pekan ini dalam tekanan setelah saham sektor perbankan berguguran, dengan Westpac menjadi pemberat utama pasar. Penurunan tersebut terjadi sehari menjelang keputusan suku bunga Reserve Bank of Australia (RBA), ketika investor menunggu sinyal mengenai arah kebijakan moneter berikutnya.
Indeks S&P/ASX 200 turun 0,5 persen menjadi 9.220,30 pada pukul 00.57 GMT, Senin (10/08/2026). Meski terkoreksi pada awal perdagangan, indeks acuan tersebut masih mencatat kenaikan 3,2 persen sepanjang pekan sebelumnya.
Tekanan terbesar datang dari Westpac yang sahamnya anjlok lebih dari 5 persen. Penurunan itu menjadi yang terdalam dalam satu hari sejak 30 Maret 2026 setelah bank tersebut memberikan pembaruan mengenai kinerja dan prospek kreditnya.
Westpac memperkirakan pertumbuhan kredit perumahan untuk investor akan berkurang setengahnya pada tahun depan. Bank tersebut juga mencatat penurunan 20 persen dalam pengajuan kredit hipotek.
Kinerja keuangan Westpac turut menjadi perhatian pasar. Untuk kuartal yang berakhir 30 Juni 2026, Westpac mencatat laba tunai sebesar A$1,8 miliar, turun dibandingkan A$1,9 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Sentimen negatif dari Westpac kemudian menjalar ke sektor keuangan Australia. Indeks sektor tersebut merosot 1,9 persen dan mencatat penurunan harian terbesar dalam tiga bulan.
Saham sejumlah bank besar lainnya juga ikut tertekan. Commonwealth Bank of Australia, Australia and New Zealand Banking Group (ANZ), dan National Australia Bank (NAB) masing-masing melemah pada kisaran 1,3 persen hingga 2,4 persen.
Pergerakan sektor keuangan menjadi perhatian karena pasar kini bersiap menghadapi keputusan kebijakan moneter RBA pada Selasa (11/8/2026). Pelaku pasar secara umum memperkirakan bank sentral Australia mempertahankan suku bunga acuannya.
Meski ekspektasi terhadap keputusan suku bunga relatif kuat, investor tetap akan mencermati pernyataan RBA untuk mencari petunjuk mengenai kemungkinan perubahan arah kebijakan moneter pada periode berikutnya.
Di tengah tekanan saham bank, sektor pertambangan justru memberikan penopang bagi pasar. Indeks saham perusahaan tambang menguat 1,4 persen seiring kenaikan harga sejumlah komoditas logam.
Saham BHP Group dan Rio Tinto masing-masing naik lebih dari 1 persen, sedangkan Fortescue menguat 0,7 persen. Saham perusahaan pertambangan emas bahkan mencatat kenaikan lebih dari 3 persen dan mencapai level tertinggi sejak pertengahan April.
Kenaikan harga emas global turut mengangkat saham Evolution Mining sebesar 1,3 persen. Sementara itu, saham St Barbara melonjak 4,7 persen.
Dari sektor korporasi lainnya, saham Treasury Wine Estates melonjak hampir 8 persen. Produsen wine Penfolds tersebut menyatakan akan mengurangi ukuran produksi vintage North Coast di Amerika Serikat mulai 2026 serta melakukan penghapusan nilai persediaan, terutama untuk wine curah.
Treasury Wine Estates juga memperkirakan laba sebelum bunga, pajak, SGARA, dan pos material (earnings before interest, tax, SGARA and material items atau EBITS) yang belum diaudit untuk tahun fiskal 2026 mencapai A$492,3 juta. Proyeksi tersebut berada di atas panduan sebelumnya yang berada pada kisaran A$480 juta hingga A$490 juta.
Pergerakan bursa Australia sebagaimana diberitakan Kontan, Senin (10/8/2026), memperlihatkan kondisi pasar yang terbelah antara tekanan sektor perbankan dan penguatan sektor komoditas serta sejumlah saham korporasi.
Sementara itu, sentimen positif terlihat di pasar saham Selandia Baru. Indeks S&P/NZX 50 naik 0,5 persen menjadi 13.892,88. Perhatian pasar regional selanjutnya akan tertuju pada keputusan RBA dan pandangan bank sentral terhadap kondisi ekonomi Australia. []
Redaksi01
