Wall Street Merah, Investor Cemas Konflik AS-Iran
NEW YORK – Ketegangan Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali menjadi beban bagi pasar saham Amerika Serikat setelah ketidakpastian mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz mendorong harga minyak mentah melonjak dan meningkatkan kekhawatiran investor terhadap inflasi serta arah suku bunga.
Tekanan tersebut membuat tiga indeks utama Wall Street berakhir di zona merah pada perdagangan Senin (10/08/2026). Indeks S&P 500 turun 0,06 persen menjadi 7.753,12 poin, Nasdaq Composite melemah 0,32 persen menjadi 26.605,36 poin, sedangkan Dow Jones Industrial Average terkoreksi 0,11 persen menjadi 53.976,04 poin.
Pergerakan pasar turut dipengaruhi kenaikan harga minyak mentah Amerika Serikat yang melonjak sekitar 5 persen dan ditutup pada level 82,13 dolar AS per barel. Penguatan harga energi menjadi perhatian karena berpotensi kembali menekan inflasi dan membuat suku bunga bertahan pada level tinggi lebih lama.
Investor semakin berhati-hati karena belum terdapat kepastian mengenai penyelesaian konflik AS dan Iran. Washington sebelumnya menuntut Iran memberikan kompensasi atas orang-orang yang menurut Presiden AS Donald Trump tewas dalam perang, serangan, dan aksi protes.
Iran kemudian merespons dengan mengajukan sejumlah persyaratan kepada Washington, termasuk permintaan kompensasi atas kerusakan yang terjadi sejak AS dan Israel melancarkan serangan ke wilayah Iran lebih dari lima bulan lalu.
“Jelas belum ada kepastian mengenai jalur untuk kembali ke kondisi sebelum konflik dimulai, sehingga premi risiko terus terbentuk. Sejauh ini dunia masih mampu mengatasinya, tetapi solusi sementara itu tidak akan bertahan selamanya,” ujar Tom Hainlin, investment strategist di U.S. Bank Wealth Management, sebagaimana dilansir Reuters, Selasa, (11/08/2026).
Selain faktor geopolitik, pelemahan Wall Street juga dipengaruhi tekanan pada saham perusahaan teknologi dan produsen semikonduktor. Saham Intel menjadi salah satu pemberat utama setelah perusahaan tersebut mengumumkan rencana menghimpun dana sebesar 15 miliar dolar AS melalui penjualan saham. Setelah pengumuman itu, saham Intel anjlok 4,1 persen.
Saham Nvidia turut melemah 2,9 persen. Di tengah tekanan tersebut, sejumlah perusahaan keuangan, termasuk Apollo Global dan Blackstone, dilaporkan bekerja sama dengan Nvidia untuk menyiapkan paket pendanaan senilai 500 miliar dolar AS guna mengembangkan infrastruktur kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
“Ini adalah margin dan laba yang berada di rekor tertinggi. Itulah cerita pasar ini, tetapi konflik Iran membuat sentimen risiko naik-turun,” kata Hainlin.
Di tengah tekanan geopolitik dan pergerakan saham teknologi, perhatian investor kini beralih pada data ekonomi Amerika Serikat yang dapat memberikan gambaran mengenai arah kebijakan Federal Reserve (The Fed).
Data ketenagakerjaan yang dirilis Jumat menunjukkan perusahaan-perusahaan AS secara tidak terduga mengurangi 23.000 pekerja pada Juli. Kondisi tersebut membuat pelaku pasar menyesuaikan ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga The Fed pada September.
Berdasarkan CME FedWatch dari Chicago Mercantile Exchange (CME), pasar kini memperkirakan probabilitas kenaikan suku bunga pada September sebesar 52 persen.
Sementara itu, musim laporan keuangan perusahaan masih berlangsung. Sekitar 85 persen dari 436 perusahaan dalam indeks S&P 500 yang telah menyampaikan laporan kinerja berhasil membukukan laba di atas ekspektasi, berdasarkan data London Stock Exchange Group (LSEG).
Tekanan juga terlihat dalam aktivitas perdagangan saham. Di New York Stock Exchange (NYSE), jumlah saham yang melemah mengungguli saham yang menguat dengan rasio 1,39 banding 1. Sebanyak 297 saham mencatat level tertinggi baru, sedangkan 149 saham mencapai level terendah baru.
Di Nasdaq, sebanyak 1.928 saham menguat dan 2.841 saham melemah sehingga rasio saham turun terhadap saham naik mencapai 1,47 banding 1. Indeks S&P 500 mencatat 20 level tertinggi baru dalam 52 minggu dan satu level terendah baru. Sementara itu, Nasdaq Composite membukukan 107 level tertinggi baru dan 74 level terendah baru.
Kondisi tersebut menunjukkan pasar masih memiliki fundamental perusahaan yang relatif kuat, tetapi sentimen investor sangat rentan terhadap perkembangan konflik AS-Iran, harga energi, serta sinyal kebijakan moneter The Fed. Pergerakan Wall Street selanjutnya akan sangat dipengaruhi kemampuan pasar menilai apakah tekanan geopolitik hanya bersifat sementara atau berpotensi mengganggu stabilitas inflasi dan perekonomian AS dalam jangka lebih panjang. []
Redaksi01
