Jelang Perdagangan Selasa, IHSG Dibayangi Sentimen Global
JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang melanjutkan tren penguatan pada perdagangan Selasa (18/08/2026), dengan sejumlah analis memperkirakan indeks saham nasional masih memiliki ruang untuk menguji level 6.450 hingga 6.480. Perhatian investor akan tertuju pada sejumlah sentimen global dan domestik, termasuk keputusan suku bunga Bank Indonesia (BI) serta pergerakan dana asing.
Pada perdagangan Jumat (14/08/2026), IHSG ditutup menguat 1,59 persen atau bertambah 100,12 poin ke level 6.401,89. Kinerja tersebut menjadi modal positif bagi pergerakan indeks pada awal pekan perdagangan berikutnya.
Head of Research & Education Phintraco Sekuritas Valdy Kurniawan memperkirakan IHSG secara teknikal berpeluang menguji area 6.450-6.480 pada perdagangan Selasa. Sebagaimana dilansir Kontan, Senin (17/08/2026), proyeksi tersebut didukung oleh sejumlah indikator teknikal.
“Secara teknikal, indikator Stochastic RSI membentuk Golden Cross di pivot area serta terjadi pelebaran histogram positif MACD,” tulisnya dalam riset yang dirilis, Jumat (14/08/2026).
Valdy menilai sinyal teknikal tersebut memberikan indikasi positif terhadap pergerakan IHSG. Dengan posisi indeks yang telah menguat pada perdagangan sebelumnya, pelaku pasar akan mencermati apakah momentum tersebut mampu berlanjut pada sesi perdagangan Selasa.
Selain faktor teknikal, pasar juga akan menghadapi sejumlah agenda ekonomi global. Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan pelaku pasar akan mencermati rilis Federal Open Market Committee Meeting Minutes (FOMC Meeting Minutes), Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur, jasa, dan komposit Amerika Serikat (AS).
“Dari Eropa, investor menantikan data CPI, PMI Manufacturing, Services, dan Composite. Sementara dari China akan ada rilis data retail sales dan industrial production,” katanya kepada Kontan akhir pekan lalu.
Dari dalam negeri, perhatian investor juga tertuju pada kebijakan suku bunga BI. Head of Research MNC Sekuritas Herditya Wicaksana memperkirakan IHSG memiliki peluang melanjutkan penguatan dengan area dukungan atau support 6.324 dan posisi resistance 6.425.
Salah satu sentimen yang dinilai penting adalah keputusan BI Rate yang dijadwalkan berlangsung pada pekan ini. Herditya memperkirakan bank sentral masih mempertahankan suku bunga acuan pada level 5,75 persen.
“Pertama, investor akan menanti BI Rate yang akan berlangsung pekan ini, di mana diperkirakan bank sentral Indonesia itu masih akan bertahan pada level 5,75%,” jelasnya kepada Kontan akhir pekan lalu.
Selain kebijakan suku bunga, investor juga akan mengamati dampak evaluasi indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) terhadap aliran dana ke pasar saham Indonesia. Dalam sepekan terakhir, investor tercatat membukukan net sell Rp1,58 triliun.
MSCI sebelumnya mengumumkan hasil evaluasi indeks pada 12 Agustus 2025. Dalam evaluasi tersebut, PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) dan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dikeluarkan dari MSCI Global Standard Indexes.
Pergerakan investor asing kemudian menunjukkan perubahan arah. Pada 12 Agustus 2025, investor asing mencatatkan net buy Rp725,21 miliar. Namun, pada 13 Agustus 2026, investor asing berbalik membukukan net sell Rp1,41 triliun.
Tekanan jual asing berlanjut pada perdagangan 14 Agustus 2026 dengan nilai net sell mencapai Rp1,03 triliun. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang akan diperhatikan pelaku pasar ketika menilai keberlanjutan penguatan IHSG.
Untuk perdagangan Selasa, Herditya memilih tiga saham yang dinilai menarik untuk dicermati. Saham tersebut adalah PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) dengan kisaran Rp9.575-Rp9.975, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) pada area Rp3.140-Rp3.190, serta PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) di rentang Rp935-Rp975.
Dengan kombinasi sinyal teknikal yang positif, agenda ekonomi global, keputusan BI Rate, serta dinamika dana asing, pergerakan IHSG pada Selasa diperkirakan tetap menghadapi sejumlah katalis sekaligus risiko. Investor perlu mencermati perkembangan sentimen tersebut sebelum menentukan strategi transaksi. []
Redaksi01
