Harga Minyak Naik Lagi, Harapan Damai AS-Iran Memudar
JAKARTA – Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) kembali menguat pada perdagangan Rabu (19/08/2026) pagi setelah pasar menangkap belum adanya perkembangan berarti menuju penyelesaian konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Kondisi tersebut memperpanjang tren kenaikan harga minyak hingga empat hari berturut-turut.
Pada pukul 07.25 WIB, harga WTI untuk pengiriman September 2026 di New York Mercantile Exchange (NYMEX) tercatat US$85,38 per barel. Harga tersebut naik 0,52 persen dibandingkan posisi perdagangan sehari sebelumnya yang berada di level US$84,94 per barel.
Penguatan harga minyak terutama dipengaruhi meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap keberlanjutan konflik AS-Iran. Ketidakpastian tersebut turut menimbulkan pertanyaan mengenai kondisi Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur penting dalam perdagangan minyak dunia.
Mengutip Bloomberg, Presiden AS Donald Trump menyatakan belum ada pembicaraan yang sedang berlangsung dengan Teheran. Sikap tersebut memperbesar kekhawatiran bahwa konflik masih akan berlangsung dan berpotensi mengganggu pasokan energi global.
Trump juga mengatakan AS berencana memperbesar tekanan ekonomi terhadap Iran karena belum adanya proses perundingan. Langkah tersebut diarahkan untuk mendorong Teheran menyerah dalam konflik yang tengah berlangsung.
Di sisi lain, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengisyaratkan pemerintah AS akan segera meluncurkan paket stimulus ekonomi. Kebijakan tersebut menjadi bagian dari perkembangan ekonomi AS yang turut menjadi perhatian pelaku pasar di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik.
Tekanan terhadap Iran juga datang dari kawasan Timur Tengah. Uni Emirat Arab (UEA) sebelumnya menyatakan akan menangguhkan seluruh transaksi perdagangan dan keuangan dengan Iran. Keputusan tersebut diambil di tengah eskalasi regional yang semakin tinggi.
Dari sisi pasokan, perkembangan persediaan minyak mentah AS memberikan sentimen yang berbeda. American Petroleum Institute (API) melaporkan persediaan minyak mentah nasional AS mengalami penurunan secara moderat. Penurunan juga tercatat di pusat distribusi minyak Cushing, Oklahoma.
Kondisi persediaan tersebut menjadi faktor lain yang diperhatikan pasar karena berhubungan dengan keseimbangan pasokan dan permintaan minyak mentah. Ketika persediaan menurun, ruang pasokan yang tersedia di pasar dapat menjadi lebih terbatas.
Harga minyak mentah sendiri telah mengalami kenaikan signifikan sejak konflik di Timur Tengah pecah pada akhir Februari lalu. Pergerakan tersebut tidak hanya memengaruhi pasar energi, tetapi juga meningkatkan tekanan terhadap inflasi.
Perkembangan konflik AS-Iran dan kondisi jalur perdagangan minyak di kawasan tersebut selanjutnya masih menjadi perhatian pasar. Jika ketegangan berlanjut tanpa tanda penyelesaian, risiko terhadap pasokan dan harga energi global berpotensi tetap tinggi. []
Redaksi01
