ITB Gandeng SANY Kembangkan Teknologi dan SDM Industri
KARAWANG – Kebutuhan industri alat berat terhadap tenaga kerja yang menguasai teknologi manufaktur, otomasi, digitalisasi, hingga rekayasa pertambangan mendorong Institut Teknologi Bandung (ITB) dan PT SANY Heavy Industry Indonesia memperluas kerja sama pendidikan dan industri. Kemitraan itu diarahkan tidak hanya pada riset, tetapi juga pembentukan talenta yang memiliki pengalaman langsung dengan kebutuhan dunia kerja.
Penguatan kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) antara ITB dan PT SANY Heavy Industry Indonesia di PT SANY Industry Machinery, Kawasan Industri Mitra Karawang, Jawa Barat, Senin (24/08/2026).
Nota kesepahaman tersebut mencakup pendidikan dan pengembangan talenta, penelitian, pengembangan serta inovasi, program magang, peluang kerja bagi mahasiswa dan lulusan ITB, pembelajaran berbasis industri (work-integrated learning), pertukaran pengetahuan, hingga pemanfaatan fasilitas penelitian.
Penandatanganan dilakukan Wakil Rektor Bidang Riset dan Inovasi ITB Lavi Rizki Zuhal dan Direktur Utama PT SANY Heavy Industry Indonesia Li Dao. Sebagaimana diberitakan Konstruksi Media, Selasa, (25/08/2026), kerja sama tersebut menjadi bagian dari upaya mempertemukan kapasitas akademik dengan kebutuhan teknologi dan industri yang berkembang.
Dari sisi pengembangan sumber daya manusia (SDM), kemitraan ini membuka ruang bagi mahasiswa untuk mendapatkan pengalaman melalui program magang, kesempatan rekrutmen, serta pembelajaran yang lebih dekat dengan proses produksi dan teknologi alat berat.
Kunjungan delegasi ITB ke fasilitas produksi SANY juga menjadi bagian dari rangkaian kegiatan. Dalam kunjungan itu, delegasi melihat langsung proses manufaktur alat berat sekaligus mempelajari penerapan teknologi produksi dan arah pengembangan industri perusahaan.
Kerja sama ITB dan SANY memiliki cakupan yang melampaui satu bidang keilmuan. Sejumlah fakultas dan sekolah di ITB berpotensi terlibat sesuai dengan kebutuhan pengembangan teknologi dan industri alat berat.
Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan (FTTM) ITB dapat berkontribusi dalam teknologi pertambangan, alat berat, keselamatan kerja, efisiensi operasional, serta penelitian yang berkaitan dengan sektor pertambangan.
Sementara itu, Fakultas Teknologi Industri (FTI) ITB memiliki kompetensi yang relevan dengan rekayasa industri, teknologi manufaktur, otomasi, sistem produksi, dan pengembangan inovasi teknologi.
Bidang mesin dan peralatan dapat dikembangkan melalui Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD), terutama dalam desain mesin, rekayasa mekanik, peralatan industri, serta teknologi alat berat.
Adapun Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) ITB berpeluang mendukung pengembangan teknologi digital, otomasi, kecerdasan buatan, sistem kendali, dan transformasi digital industri.
Direktorat Riset dan Inovasi (DRI) ITB dapat berperan dalam memfasilitasi riset, inovasi teknologi, serta penguatan ekosistem penelitian antara perguruan tinggi dan industri.
Keterlibatan lintas bidang tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan industri alat berat semakin terhubung dengan berbagai disiplin ilmu, mulai dari teknik pertambangan dan mesin hingga teknologi informasi serta manajemen.
Menurut Lavi, kerja sama dengan SANY juga melanjutkan pengembangan jejaring ITB dengan perguruan tinggi dan industri di Tiongkok yang telah dirintis dalam beberapa tahun terakhir.
Kolaborasi tersebut antara lain dimulai pada 2023 melalui kerja sama FTTM ITB dengan PT Green Eco-Manufacture (GEM), kemudian berkembang dengan melibatkan Central South University (CSU), Tiongkok.
Salah satu hasil kerja sama itu adalah pembangunan joint laboratory di Kampus ITB Jatinangor. Fasilitas tersebut dibangun dari awal dan dalam waktu sekitar satu tahun telah dilengkapi sejumlah peralatan penelitian berstandar tinggi.
“Keberhasilan tersebut kemudian mendapat perhatian sebagai salah satu model kolaborasi internasional antara perguruan tinggi Indonesia, perguruan tinggi Tiongkok, dan industri,” kata Lavi.
“Kerja sama yang telah berjalan menjadi success story bagaimana universitas di Indonesia, universitas di Tiongkok, dan industri dapat bekerja bersama. Kami ingin model kolaborasi seperti ini dapat diperluas, termasuk dengan SANY,” lanjutnya.
PT SANY Heavy Industry Indonesia merupakan bagian dari SANY Group, perusahaan asal Tiongkok yang bergerak di sektor alat berat dan mesin konstruksi. Produk serta teknologi perusahaan digunakan dalam berbagai sektor, termasuk konstruksi, pertambangan, energi, dan manufaktur.
Di Indonesia, SANY mengembangkan kegiatan manufaktur melalui fasilitas produksi di Kawasan Industri Karawang. Perusahaan juga menerapkan konsep Lighthouse Factory yang mengandalkan digitalisasi, otomatisasi, dan industrial internet dalam proses produksinya.
Pengembangan fasilitas industri tahap II dilakukan untuk meningkatkan kapasitas produksi sekaligus mendukung kebutuhan sektor konstruksi dan pertambangan nasional.
Selain menyediakan alat berat, SANY juga menjalankan program pengembangan SDM melalui rekrutmen, campus hiring, dan pengembangan talenta muda di bidang teknik.
Dalam konteks tersebut, kemitraan dengan ITB berpotensi menjadi jalur untuk mempertemukan mahasiswa dengan lingkungan industri sejak masa pendidikan. Pengalaman tersebut diharapkan membantu mahasiswa memahami persoalan teknis dan operasional yang dihadapi perusahaan sekaligus memberi industri akses terhadap talenta dengan kompetensi yang sesuai.
Kerja sama pendidikan dan industri juga membuka peluang agar hasil penelitian perguruan tinggi lebih mudah diarahkan pada kebutuhan nyata di lapangan. Pemanfaatan fasilitas penelitian, pertukaran pengetahuan, dan pengembangan teknologi bersama dapat menjadi bagian dari skema tersebut.
Bagi mahasiswa, keterlibatan dalam proyek industri dapat memberikan pengalaman yang tidak sepenuhnya diperoleh melalui pembelajaran di ruang kelas. Sementara bagi industri, kolaborasi dengan perguruan tinggi dapat menjadi salah satu sumber pengembangan inovasi sekaligus regenerasi tenaga profesional.
Melalui kemitraan ITB dan SANY, penguatan hubungan antara dunia akademik dan industri Indonesia-Tiongkok diharapkan berkembang menjadi kerja sama berkelanjutan yang menghasilkan riset, teknologi, serta talenta baru untuk menjawab kebutuhan sektor manufaktur, konstruksi, dan pertambangan. []
Redaksi01
