Hotel Balikpapan Mulai Bangkit, PHRI Bidik Okupansi 60 Persen
BALIKPAPAN – Industri perhotelan Balikpapan mulai memasuki fase pemulihan setelah tertekan sepanjang lima bulan pertama 2026. Memasuki Juli hingga Agustus, peningkatan kegiatan berskala besar dan olahraga yang mendatangkan peserta dari luar daerah mulai mendorong keterisian kamar hotel, meski pemulihan belum sepenuhnya mampu menyamai tingkat hunian pada masa tingginya aktivitas pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN).
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Balikpapan, Soegianto, mengatakan pergerakan permintaan kamar mulai terasa sejak Juli 2026 dan berlanjut pada Agustus. Kegiatan yang menghadirkan banyak peserta dari luar Balikpapan menjadi salah satu faktor yang membantu meningkatkan hunian hotel.
Salah satu kegiatan olahraga pada akhir Agustus, misalnya, diikuti 1.292 peserta. Dari jumlah tersebut, sekitar 900 orang berasal dari luar Balikpapan. Peserta kemudian tersebar di berbagai pilihan akomodasi, mulai dari hotel bintang dua, hotel bintang tiga hingga guest house.
“Alhamdulillah mulai Juli, Agustus ini akomodasi mulai naik. Memang sebenarnya secara siklus biasanya di bulan Juni, Juli, Agustus itu naik,” kata Soegianto sebagaimana dilansir Kaltimkita, Selasa, (25/08/2026).
Perbaikan permintaan tersebut menjadi penting karena kondisi perhotelan Balikpapan sempat mengalami tekanan cukup berat pada Januari-Mei 2026. Tingkat keterisian kamar pada periode tersebut hanya berada di kisaran 30 persen.
Menurut Soegianto, salah satu penyebabnya adalah berkurangnya kegiatan pemerintah akibat proses penetapan anggaran. Kondisi itu secara langsung memengaruhi pasar perhotelan karena instansi pemerintahan selama ini menjadi salah satu pengguna utama hotel untuk kegiatan meeting, incentive, convention and exhibition (MICE).
“Memang dari awal tahun 2026, dari Januari sampai Mei, ini so-so lah. Karena mengingat kondisi penetapan anggaran, otomatis tamu-tamu dari pemerintahan kurang,” ujarnya.
Berbeda dengan periode sebelumnya, pasar korporasi yang masih tersedia belum mampu sepenuhnya menutup berkurangnya permintaan dari sektor pemerintahan. Tekanan tambahan juga dirasakan dari melemahnya aktivitas yang berkaitan dengan pertambangan.
Berkurangnya pekerja tambang serta aktivitas perusahaan pemasok (supplier) pertambangan membuat jumlah tamu yang biasanya tinggal di hotel ikut menurun. Kondisi tersebut turut mempersempit sumber permintaan kamar yang selama ini menopang bisnis akomodasi di Balikpapan.
“Yang dulunya pekerja tambang, terus dari sektor supplier yang berkaitan dengan tambang itu kan mensupport, rata-rata bisa stay di hotel. Ini sudah agak mulai kurang,” tutur Soegianto.
Tekanan terhadap tingkat hunian kemudian berdampak pada pendapatan hotel. Untuk menjaga keberlangsungan operasional, sejumlah pengelola hotel memilih melakukan efisiensi melalui pengurangan hari kerja karyawan.
PHRI Balikpapan mencatat sekitar tiga hingga empat hotel menerapkan pola tersebut. Karyawan yang sebelumnya bekerja penuh selama 30 hari dalam satu bulan dapat dijadwalkan bekerja sekitar 15 hari, dengan pembayaran disesuaikan dengan jumlah hari kerja.
“Contoh harusnya 30 hari, hanya masuk 15 hari. Jadi yang 15 hari saja yang dibayar. Nah, ini menyebabkan pendapatan karyawan juga berkurang,” jelasnya.
Menurut Soegianto, pengurangan hari kerja dilakukan berdasarkan kesepakatan antara pihak manajemen dan karyawan. Kebijakan tersebut berbeda dengan pemutusan hubungan kerja (PHK) karena karyawan masih tetap tercatat bekerja di hotel.
“Di Balikpapan tidak ada yang di-PHK. Di Balikpapan ada tiga sampai empat hotel yang melakukan itu. Tidak semua hotel,” katanya.
PHRI Balikpapan telah menyampaikan kondisi industri perhotelan kepada Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan. Pelaku usaha berharap pemerintah ikut memberikan perhatian terhadap sektor akomodasi yang turut terpengaruh oleh perubahan aktivitas ekonomi dan pola belanja kegiatan sepanjang 2026.
Harapan pemulihan semakin besar karena periode Juni-Desember secara umum merupakan masa ramai bagi industri perhotelan. PHRI Balikpapan menilai peningkatan kegiatan pada pertengahan tahun dapat menjadi modal untuk mempertahankan tren positif hingga akhir tahun.
“Juni sampai Desember itu biasanya peak season-nya hotel. Sampai akhir tahun kira-kira mudah-mudahan bisa sampai 60 persen,” ujarnya.
Target okupansi 60 persen tersebut akan menjadi capaian yang lebih baik dibandingkan kondisi awal 2026. Namun, angka itu masih berada di atas target historis industri perhotelan Balikpapan pada 2025 yang rata-rata berada di kisaran 50 persen, sekaligus masih di bawah capaian pada 2024.
Pada 2024, aktivitas pembangunan IKN memberikan dorongan besar terhadap permintaan kamar hotel di Balikpapan. Tingkat okupansi ketika itu bahkan disebut dapat mencapai sekitar 80 persen, seiring tingginya mobilitas pekerja dan pihak-pihak yang berkaitan dengan pembangunan ibu kota baru.
“Lebih bagus adalah tahun 2024 pasca-IKN, zaman Pak Jokowi. Wah, itu bisa 80 persen, hampir penuh setiap hari hotel-hotel,” pungkas Soegianto. []
Redaksi01
