Dorong UMKM Naik Kelas, Sekda Jabar Tekankan Pentingnya Mindset Pelaku Usaha
BANDUNG – Keberanian untuk mengatasi rasa takut dan konsisten mengembangkan usaha dinilai menjadi modal penting bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk naik kelas. Pelaku UMKM tidak cukup hanya mengandalkan modal, produk, atau strategi pemasaran, tetapi juga perlu membangun pola pikir yang mendorong mereka berani mengambil peluang dan menghadapi risiko usaha.
Pesan tersebut disampaikan Sekretaris Daerah (Sekda) Jawa Barat (Jabar) dalam kegiatan Pendampingan Pengurusan Sertifikasi Halal bagi 1.000 Pelaku UMKM Mikro dan Kecil serta Executive Seminar bertajuk “AKU KAMU KITA Bergerak Bersama Membangun Bisnis UMKM Indonesia” di Blessing Room Convention Center D’Botanica Hotel, Bandung, Rabu (02/09/2026).
Sekda Jabar menilai hambatan pengembangan usaha kerap muncul dari dalam diri pelaku usaha. Kekhawatiran terhadap produk yang tidak terjual, potensi kerugian, maupun penolakan dari pasar dapat membuat pelaku UMKM enggan mengambil langkah untuk memperbesar skala bisnis.
“Tidak ada alasan pokoknya semua yang hadir di sini UMKM-nya harus naik kelas, dan itu mulai dari pikiran. Mulai dari pikiran, sesederhana itu,” ujar Sekda.
Menurut Sekda, keberanian mengubah pola pikir menjadi tahap awal yang perlu dilakukan sebelum pelaku usaha mengambil keputusan bisnis. Ketika pelaku UMKM terus dibayangi rasa takut, peluang untuk mencoba strategi baru dan memperluas pasar juga berpotensi ikut terhambat.
“Persoalannya belum apa-apa kita semuanya sudah takut. Takut enggak laku, takut rugi, takut ditolak. Itu yang membuat Bapak Ibu sulit naik kelas, ya pikiran Bapak Ibu sendiri,” katanya.
Karena itu, pelaku UMKM didorong memiliki visi yang jelas dan membangun pola pikir positif dalam menjalankan usahanya. Visi diperlukan agar setiap keputusan bisnis memiliki arah, sementara konsistensi menjadi faktor penting untuk mempertahankan proses pengembangan usaha dalam jangka panjang.
Sekda menggambarkan pentingnya ketekunan melalui peribahasa Sunda “cikaracak ninggang batu, laun-laun jadi legok”. Peribahasa tersebut menggambarkan sesuatu yang dilakukan terus-menerus pada akhirnya mampu menghasilkan perubahan, meskipun dilakukan secara perlahan.
“Walaupun batu keras dan air itu hanya setetes, tapi terus-terusan, sudah akan jadi legok. Mun keyeng tangtu pareng, kata leluhur,” ucapnya.
Ia menekankan bahwa perjalanan membangun usaha tidak selalu berlangsung mulus. Kesulitan maupun kegagalan seharusnya tidak menjadi alasan untuk menghentikan usaha. Sebaliknya, pengalaman tersebut dapat menjadi bagian dari proses pembelajaran agar pelaku UMKM semakin siap menghadapi persaingan.
Dalam kesempatan tersebut, Sekda juga mengutip pemikiran Socrates mengenai pentingnya pengulangan untuk mencapai keunggulan. Menurutnya, kemampuan perlu terus diasah melalui praktik dan proses yang dilakukan secara konsisten.
“Tidak ada yang unggul, yang ada adalah pengulangan. Repetition, diulang-ulang terus,” katanya.
Selain membangun ketahanan pribadi, Sekda mengingatkan pentingnya lingkungan yang mendukung perkembangan bisnis. Pelaku UMKM diharapkan dapat membangun hubungan dengan sesama pelaku usaha yang mampu memberikan dorongan, berbagi pengalaman, dan menciptakan suasana positif dalam menghadapi tantangan bisnis.
Pesan tersebut disampaikan dalam kegiatan yang juga memberikan pendampingan pengurusan sertifikasi halal kepada 1.000 pelaku UMKM mikro dan kecil. Program itu diinisiasi Forum Komunikasi Tionghoa Merah Putih (FOKTI) dengan berkolaborasi dan bersinergi bersama pemerintah serta sejumlah pemangku kepentingan.
Pendampingan sertifikasi halal menjadi salah satu bagian dari upaya meningkatkan kapasitas dan daya saing UMKM. Bagi pelaku usaha, peningkatan kapasitas tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan aspek administrasi dan standar produk, tetapi juga kesiapan untuk mengembangkan bisnis secara berkelanjutan.
Dengan kombinasi peningkatan kualitas usaha, pemenuhan standar produk, keberanian mengambil peluang, dan konsistensi dalam menjalankan bisnis, UMKM diharapkan mampu memperluas pasar serta meningkatkan skala usahanya. Penguatan pola pikir tersebut menjadi bagian penting agar pelaku UMKM tidak berhenti pada tahap bertahan, tetapi mampu berkembang dan naik kelas. []
Redaksi01
