Rupiah Ditutup Rp17.632 per Dolar AS, Naik 0,05%

JAKARTA – Rupiah mampu mempertahankan penguatannya terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Selasa (08/09/2026), meski sebagian besar mata uang Asia justru berakhir di zona merah. Kondisi tersebut menunjukkan rupiah masih mampu bergerak positif di tengah pergerakan pasar valuta asing kawasan yang cenderung beragam.

Mengacu pada perdagangan pasar spot, rupiah ditutup di level Rp17.632 per dolar AS. Posisi tersebut menguat 0,05% dibandingkan penutupan sehari sebelumnya yang berada di Rp17.640 per dolar AS.

Pergerakan rupiah menjadi salah satu perhatian di pasar Asia karena penguatannya berlangsung ketika sejumlah mata uang regional mengalami pelemahan terhadap dolar AS. Dengan kenaikan tipis tersebut, rupiah tercatat berada dalam kelompok mata uang Asia yang mampu menguat pada perdagangan Selasa.

Sebagaimana diberitakan Kontan, Selasa, (08/09/2026), penguatan terbesar di kawasan Asia dicatat yen Jepang yang naik 0,39%. Setelah itu, won Korea menguat 0,13% dan dolar Taiwan bertambah 0,11%. Rupiah kemudian menguat 0,05%, sedangkan dolar Singapura naik tipis 0,02% terhadap dolar AS.

Sementara itu, sejumlah mata uang Asia lainnya harus menerima tekanan. Ringgit Malaysia menjadi mata uang dengan pelemahan paling dalam, yakni sebesar 0,28% terhadap dolar AS. Diikuti rupee India yang turun 0,27%, baht Thailand melemah 0,23%, serta peso Filipina terkoreksi 0,03%.

Pelemahan juga terjadi pada dolar Hong Kong dan yuan China yang masing-masing turun 0,02% terhadap dolar AS. Perbedaan arah pergerakan tersebut memperlihatkan bahwa tekanan terhadap mata uang regional tidak berlangsung secara seragam.

Di sisi lain, tekanan terhadap dolar AS secara umum juga mulai mereda. Hal tersebut tercermin dari pergerakan indeks dolar yang berada di level 98,95 pada akhir perdagangan. Indeks tersebut turun dibandingkan posisi sehari sebelumnya yang mencapai 99,17.

Indeks dolar merupakan indikator yang menggambarkan kekuatan dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama dunia. Penurunan indeks tersebut menunjukkan adanya pelemahan dolar AS secara lebih luas dibandingkan hari sebelumnya.

Bagi rupiah, penguatan tipis pada penutupan perdagangan menjadi perkembangan positif setelah mata uang domestik sebelumnya bergerak di sekitar level Rp17.600 per dolar AS. Meski demikian, posisi rupiah yang masih berada di atas Rp17.000 per dolar AS menunjukkan bahwa tekanan nilai tukar tetap menjadi perhatian pasar.

Pergerakan mata uang pada perdagangan berikutnya masih akan dipengaruhi dinamika dolar AS serta arah perdagangan mata uang regional. Perubahan sentimen investor global juga berpotensi memengaruhi arus dana dan pergerakan nilai tukar di kawasan Asia.

Dengan kondisi pasar yang masih bergerak dinamis, kemampuan rupiah untuk tetap mencatat penguatan meski sejumlah mata uang Asia melemah menjadi perkembangan yang perlu dicermati pada perdagangan selanjutnya. []

Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *