Selat Hormuz Terganggu, Harga Brent Melonjak di Atas US$ 100

HOUSTON – Harga minyak mentah dunia kembali menembus ambang US$ 100 per barel setelah eskalasi konflik Iran dan Amerika Serikat (AS) memicu kekhawatiran baru terhadap pasokan energi dari Timur Tengah.

Harga minyak mentah Brent untuk pengiriman terdekat ditutup naik US$ 3,29 atau 3,4 persen menjadi US$ 101,21 per barel pada perdagangan Kamis (10/09/2026). Harga sempat mencapai US$ 101,58 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat US$ 3,02 atau 3,25 persen menjadi US$ 96,05 per barel.

Kenaikan tersebut membawa Brent dan WTI ke level penutupan tertinggi sejak 22 Mei 2026. Pergerakan itu sekaligus menunjukkan bahwa pasar kembali memperhitungkan risiko gangguan pasokan minyak dalam skala yang lebih besar akibat perang yang telah berlangsung selama enam bulan.

Sebelumnya, harga minyak cenderung bergerak di bawah US$ 100 per barel sejak akhir Mei karena pasar menilai konflik di Timur Tengah masih dapat dikendalikan dan tidak akan berkembang lebih luas. Harapan tersebut sempat menguat setelah AS dan Iran mencapai kesepakatan sementara untuk menghentikan serangan, meskipun belum menghasilkan perdamaian permanen.

Namun, situasi kembali memburuk setelah serangkaian serangan terhadap kapal di kawasan Timur Tengah. Iran menyatakan telah menyerang 10 kapal di sekitar Selat Hormuz pada Rabu (09/09/2026). Pada saat yang sama, AS menenggelamkan lima kapal tanker minyak Iran.

“Pergerakan Brent menuju dan kembali menembus US$ 100 mencerminkan pasar yang semakin harus mengubah pandangannya mengenai berapa lama krisis Timur Tengah akan terus membatasi pasokan dari kawasan tersebut,” kata Kepala Strategi Komoditas Saxo Bank Ole Hansen, sebagaimana dikutip Reuters, Kamis (10/09/2026).

Tekanan terhadap pasokan juga tercermin dari kondisi perdagangan minyak mentah dan bahan bakar fisik yang semakin ketat. Pergerakan tersebut mengindikasikan bahwa gangguan distribusi energi mulai memberikan pengaruh lebih besar terhadap keseimbangan pasar.

Sejak perang Iran dimulai pada 28 Februari 2026, Brent bahkan sempat melonjak hingga US$ 126,41 per barel pada 30 April. Setelah itu, harga berangsur turun dan sebagian besar waktu berada di bawah US$ 100 per barel.

Risiko pasokan semakin besar karena arus pelayaran melalui Selat Hormuz masih jauh di bawah tingkat sebelum perang. Selat tersebut merupakan salah satu jalur energi paling penting di dunia karena sebelumnya menjadi lintasan sekitar seperlima pasokan minyak dan gas global.

“Fundamental jangka pendek tiba-tiba menunjukkan pasokan yang jauh lebih ketat. Serangan balasan antara AS dan Iran tampaknya akan terus berlangsung, sementara peluang kesepakatan damai semakin menjauh,” kata Senior Vice President Energy Trading BOK Financial Dennis Kissler.

Meningkatnya risiko gangguan pasokan turut mendorong Administrasi Informasi Energi AS (EIA) menaikkan proyeksi harga minyak untuk tahun ini dan tahun depan. Proyeksi tersebut mempertimbangkan penurunan persediaan minyak global yang berlangsung cepat seiring berkurangnya pasokan dari Timur Tengah akibat perang.

Kondisi tersebut membuat arah harga minyak ke depan semakin bergantung pada perkembangan konflik dan kelancaran distribusi energi melalui jalur-jalur strategis di kawasan tersebut. Jika gangguan pasokan berlanjut, tekanan terhadap harga minyak global berpotensi tetap tinggi. []

Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *