IHSG Dibuka Menguat 0,18%, Bursa Asia Justru Berguguran
JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mampu bergerak di zona hijau pada awal perdagangan Kamis (10/09/2026), meski mayoritas bursa saham Asia mengalami tekanan akibat kenaikan harga minyak mentah dan meningkatnya kekhawatiran inflasi global.
Mengutip data RTI, hingga pukul 09.14 WIB, IHSG naik 0,18% atau 12,061 poin ke level 6.690,262. Sebanyak 276 saham menguat, sementara 206 saham melemah dan 234 saham lainnya stagnan.
Pergerakan positif IHSG terutama ditopang delapan indeks sektoral. Tiga sektor dengan penguatan terbesar adalah IDX Technology yang naik 1,30%, IDX Energy menguat 1,03%, dan IDX Basic Materials bertambah 0,59%.
Dari kelompok saham LQ45, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) menjadi penguat paling tinggi dengan kenaikan 6,91% ke Rp1.005 per saham. Posisi berikutnya ditempati PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) yang naik 2,61% menjadi Rp12.775 dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) yang menguat 2,19% ke Rp3.270.
Namun, tidak seluruh saham unggulan bergerak positif. PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) turun 1,49% ke Rp990, PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) terkoreksi 0,91% ke Rp545, sedangkan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) melemah 0,72% ke Rp690.
Hingga waktu yang sama, aktivitas transaksi di Bursa Efek Indonesia (BEI) mencapai 6,1 miliar saham dengan nilai sekitar Rp3,6 triliun. Kondisi tersebut menunjukkan perdagangan tetap berlangsung aktif meski sentimen eksternal cenderung menekan pasar saham regional.
Ketahanan IHSG terjadi ketika indeks saham Asia justru bergerak melemah. Indeks MSCI Asia-Pacific di luar Jepang turun 1%, sedangkan indeks Nikkei Jepang dan KOSPI Korea Selatan masing-masing terkoreksi lebih dari 1%, sebagaimana diberitakan Kontan, Kamis, (10/09/2026).
Salah satu sentimen utama yang membebani pasar global adalah harga minyak Brent yang bertahan di atas US$100 per barel. Dalam perdagangan awal Kamis, minyak Brent berjangka naik tipis ke sekitar US$101,4 per barel.
Harga Brent sebelumnya menembus level psikologis US$100 per barel untuk pertama kalinya sejak Juli 2026. Lonjakan tersebut terjadi setelah Iran dan Amerika Serikat terlibat dalam gelombang serangan terhadap kapal di kawasan Timur Tengah.
Meningkatnya ketegangan tersebut memunculkan kekhawatiran mengenai potensi gangguan pasokan energi dari kawasan Teluk. Bagi pasar keuangan, kenaikan harga minyak juga meningkatkan risiko inflasi dan dapat memengaruhi ekspektasi terhadap arah suku bunga.
“Brent yang menembus level US$ 100 akan dilihat banyak pelaku pasar sebagai peristiwa penting dalam situasi saat ini,” ujar Nick Twidale, Chief Market Strategist ATFX Global.
Menurut Twidale, imbal hasil obligasi global berpotensi kembali meningkat ketika pasar mulai menyesuaikan diri dengan kemungkinan inflasi yang lebih tinggi dalam beberapa bulan mendatang.
Tekanan serupa terlihat pada pasar obligasi AS. Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun berada di 4,8406% setelah sehari sebelumnya menyentuh level tertinggi sejak 2023.
Departemen Keuangan AS sebelumnya mengumumkan program pembelian kembali obligasi jangka panjang senilai US$6 miliar. Namun, program tersebut mengecewakan sebagian investor yang mengharapkan nilai buyback lebih besar.
Kombinasi harga energi yang tinggi dan kenaikan imbal hasil obligasi menjadi tantangan bagi aset berisiko, termasuk saham. Kondisi itu berlangsung pada September yang secara historis dikenal bukan sebagai bulan terbaik bagi pasar saham.
“Pasar menghadapi kombinasi tekanan pada September, yang secara historis bukan merupakan bulan terbaik bagi pasar saham,” kata Vasu Menon, Managing Director Investment Strategy di OCBC.
Meski menghadapi tekanan dari sentimen eksternal, penguatan IHSG pada awal perdagangan menunjukkan sejumlah saham dan sektor domestik masih mampu memberikan dorongan terhadap indeks. Pergerakan selanjutnya akan sangat bergantung pada perkembangan harga minyak, sentimen pasar regional, serta respons investor terhadap prospek inflasi dan kebijakan suku bunga global. []
Redaksi01
