BOJ Diprediksi Naikkan Suku Bunga ke 1,25%, Tertinggi Sejak 1995

TOKYO – Bank of Japan (BOJ) diproyeksikan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) pada pekan depan menjadi 1,25%, seiring tekanan inflasi Jepang yang semakin kuat. Kenaikan tersebut akan membawa suku bunga BOJ ke level yang terakhir tercatat pada 1995.

Informasi tersebut mengacu pada laporan Reuters yang mengutip empat sumber yang memahami pertimbangan bank sentral Jepang. Selain menaikkan suku bunga, BOJ juga berpotensi memberikan sinyal bahwa pengetatan kebijakan moneter dapat berlangsung lebih cepat apabila tekanan inflasi terus meningkat.

Kenaikan 25 bps itu akan menjadi kenaikan suku bunga kedua BOJ sepanjang tahun ini. Sebelumnya, BOJ telah menaikkan suku bunga sebesar 25 bps pada Juni.

Tekanan terhadap inflasi menjadi salah satu pertimbangan utama BOJ. Inflasi berdasarkan indeks harga konsumen meningkat secara konsisten dalam beberapa bulan terakhir, dengan inflasi inti bergerak mendekati target tahunan BOJ sebesar 2%.

Sementara itu, indeks harga produsen pada Agustus melonjak ke level tertinggi dalam 3,5 tahun. Kenaikan harga energi serta pelemahan yen menjadi faktor yang mendorong biaya bisnis, yang berpotensi diteruskan perusahaan kepada konsumen. Kondisi tersebut memperbesar risiko tekanan harga bertahan lebih lama.

Gubernur BOJ Kazuo Ueda sebelumnya telah memberi sinyal bahwa kemungkinan kenaikan suku bunga akan dibahas dalam pertemuan September. Sebagaimana diberitakan Reuters, Jumat (11/09/2026), sinyal tersebut muncul ketika indikator inflasi menunjukkan kecenderungan bertahan di sekitar target bank sentral.

Pasar kini tidak hanya menunggu keputusan kenaikan suku bunga, tetapi juga mencermati pandangan BOJ mengenai arah suku bunga ke depan. Belum terdapat konsensus yang jelas di internal BOJ mengenai seberapa tinggi suku bunga perlu dinaikkan maupun seberapa cepat proses pengetatan dilakukan.

Ueda diperkirakan tidak memberikan komitmen terhadap jadwal tertentu untuk kenaikan suku bunga berikutnya. Sikap tersebut akan membuat setiap pernyataan BOJ mengenai arah kebijakan moneter menjadi perhatian pelaku pasar.

Pergerakan nilai tukar yen juga menjadi salah satu indikator yang dicermati. Pelemahan yen sebelumnya turut meningkatkan biaya impor energi dan barang, sehingga berpotensi menambah tekanan terhadap harga di tingkat konsumen.

Dengan kenaikan suku bunga yang diperkirakan membawa level acuan ke 1,25%, BOJ menghadapi tantangan untuk menjaga inflasi tetap terkendali tanpa memberikan tekanan berlebihan terhadap aktivitas ekonomi. Kejelasan mengenai langkah lanjutan bank sentral akan menjadi faktor penting bagi pasar keuangan Jepang dalam periode berikutnya. []

Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *