Raih BBB-, Inalum Siapkan Pendanaan Ekspansi Hilirisasi hingga 2029
JAKARTA – PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau Inalum mendapat ruang lebih besar untuk memperkuat pendanaan proyek hilirisasi aluminium setelah S&P Global Ratings memberikan peringkat kredit internasional BBB- dengan outlook stabil. Peringkat tersebut menjadi modal penting bagi perseroan yang tengah menyiapkan ekspansi bisnis dan pengembangan rantai nilai aluminium nasional pada periode 2026-2029.
Direktur Utama Inalum Melati Sarnita mengatakan peringkat investment grade dari lembaga pemeringkat internasional tersebut bukan sekadar pengakuan terhadap kondisi perusahaan, tetapi juga menjadi tanggung jawab untuk menjaga kinerja dan disiplin keuangan di tengah agenda ekspansi.
“Investment grade ini merupakan pengakuan sekaligus tanggung jawab bagi Inalum untuk terus menjaga kinerja perusahaan secara prudent dan berkelanjutan. Di tengah agenda ekspansi dan hilirisasi, kami akan memastikan bahwa pertumbuhan tidak hanya mengejar skala tetapi tetap dibangun di atas fundamental operasional yang kuat, disiplin finansial, dan tata kelola yang baik dan kuat,” kata dia dalam pernyataan resmi di Jakarta, Jumat (11/09/2026), sebagaimana diberitakan Antara, Jumat, (11/09/2026).
S&P Global Ratings menerbitkan laporan pemeringkatan tersebut pada 7 September 2026. Lembaga tersebut menilai posisi strategis Inalum dalam Grup Mining Industry Indonesia (MIND ID) serta dukungan kuat pemerintah melalui MIND ID menjadi faktor yang menopang profil kredit perusahaan.
Penguatan profil kredit Inalum juga tercermin di pasar domestik. Pada Agustus 2026, Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menaikkan peringkat Inalum satu tingkat dari idAA-/Stable menjadi idAA/Stable setelah perseroan mempertahankan peringkat idAA-/Stable selama tiga tahun sebelumnya.
Kondisi tersebut menjadi relevan karena Inalum sedang mempersiapkan kebutuhan pendanaan untuk membiayai sejumlah proyek hilirisasi aluminium hingga 2029. Perusahaan dinilai memiliki keunggulan biaya yang didukung pasokan energi hidro yang stabil serta integrasi sumber bahan baku dari dalam negeri.
Keunggulan tersebut menjadi salah satu faktor yang memperkuat daya tahan Inalum terhadap perubahan harga aluminium di pasar global. Penggunaan pembangkit listrik tenaga air pada kegiatan peleburan juga mendukung efisiensi biaya produksi sekaligus membantu menekan emisi karbon.
Dari sisi kapasitas produksi, Inalum saat ini mengoperasikan smelter aluminium primer dengan kapasitas sekitar 275 ribu ton per tahun. Perseroan juga memiliki kepemilikan mayoritas di PT Borneo Alumina Indonesia (BAI), yang mengoperasikan Smelter-Grade Alumina Refinery 1 (SGAR 1) di Mempawah, Kalimantan Barat, dengan kapasitas sekitar 1 juta ton alumina per tahun.
Pengembangan berikutnya diarahkan pada SGAR 2 dan Smelter Aluminium 2 sebagai bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN). SGAR 2 ditargetkan menambah kapasitas produksi alumina sekitar 1 juta ton per tahun sehingga total kapasitas produksi alumina menjadi dua kali lipat dibandingkan kapasitas saat ini.
Sementara itu, Smelter Aluminium 2 dirancang memiliki kapasitas produksi sekitar 600 ribu ton aluminium per tahun. Jika seluruh pengembangan berjalan sesuai rencana, kapasitas smelter aluminium primer Inalum akan meningkat lebih dari tiga kali lipat dari kapasitas yang ada saat ini.
Rangkaian proyek tersebut memperkuat posisi Inalum dalam membangun rantai pasok aluminium yang lebih terintegrasi, mulai dari pengolahan bahan baku hingga produksi aluminium primer. Dukungan peringkat kredit internasional dan domestik diharapkan dapat menopang langkah perusahaan dalam memenuhi kebutuhan pendanaan ekspansi sekaligus menjaga pertumbuhan tetap sehat dan berkelanjutan. []
Redaksi01
