Harga Minyak Turun, tetapi Masih Bertahan di Atas US$100

JAKARTA – Harga minyak mentah dunia masih bertahan di atas US$100 per barel meski mengalami koreksi pada perdagangan Rabu (16/09/2026). Tekanan harga terjadi setelah kenaikan selama dua hari berturut-turut, sementara gangguan pasokan di Arab Saudi dan Libya membuat pasar minyak global tetap berada dalam kondisi ketat.

Harga West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Oktober 2026 di New York Mercantile Exchange tercatat US$104,84 per barel pada pukul 07.31 WIB, turun 0,94 persen dibandingkan posisi sehari sebelumnya sebesar US$105,83 per barel.

Penurunan tersebut belum mengubah posisi harga minyak yang masih berada pada level tinggi. Kondisi pasokan menjadi salah satu faktor yang membatasi pelemahan harga, terutama setelah muncul gangguan terhadap infrastruktur energi di kawasan Timur Tengah.

Pipa gas Timur-Barat Arab Saudi yang melewati Selat Hormuz dilaporkan tidak beroperasi sejak pekan sebelumnya setelah terjadi serangan. Di Libya, Libya National Oil Corp menghentikan produksi dari ladang Hamada dan al Tahara setelah katup-katup utama dimatikan.

Situasi tersebut meningkatkan perhatian pasar terhadap potensi gangguan distribusi minyak dan jalur pelayaran. Analis energi senior di MST Marquee Saul Kavonic mengatakan ancaman terhadap infrastruktur energi dan jalur perdagangan masih menjadi faktor penting dalam pergerakan harga.

“Situasi di Timur Tengah tetap berada di jalur eskalasi. Pasar kesulitan untuk mengikuti ancaman terhadap jalur pelayaran melalui Laut Merah dan Hormuz, serta kerusakan pipa dan kapal,” kata Saul Kavonic, analis energi senior d MST Marquee seperti dikutip Bloomberg.

“Ini akan membuat harga minyak tetap tinggi.”

Perkembangan tersebut menunjukkan koreksi harga pada perdagangan pagi belum serta-merta menghilangkan tekanan dari sisi pasokan. Gangguan produksi dan distribusi di sejumlah titik strategis berpotensi tetap menjadi perhatian pelaku pasar dalam mencermati arah harga minyak selanjutnya.

Pergerakan harga minyak tersebut menjadi sorotan karena perubahan pasokan global dapat memengaruhi biaya energi dan komoditas lainnya. Pasar kini mencermati perkembangan keamanan jalur pelayaran serta pemulihan infrastruktur energi yang terdampak gangguan, sebagaimana diberitakan Kontan, Rabu, (16/09/2026). []

Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *