Harga WTI Turun ke Bawah US$100 per Barell, Pasar Pantau Timur Tengah
JAKARTA – Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) kembali berada di bawah level US$100 per barel pada awal perdagangan Senin (21/09/2026), seiring pasar mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah dan upaya diplomatik untuk mengakhiri perang AS-Iran.
Pada pukul 07.33 WIB, harga WTI untuk pengiriman Oktober 2026 di New York Mercantile Exchange tercatat US$99,50 per barel. Harga tersebut turun 0,80% dibandingkan posisi penutupan perdagangan akhir pekan sebelumnya sebesar US$100,30 per barel.
Pergerakan tersebut menunjukkan tekanan koreksi masih membayangi harga minyak meskipun risiko terhadap pasokan energi di kawasan Timur Tengah tetap menjadi perhatian pelaku pasar.
Sebagaimana diberitakan Kontan, Senin, (21/09/2026), harga minyak Brent juga bergerak di sekitar US$104 per barel. Pasar minyak saat ini tidak hanya merespons kondisi pasokan, tetapi juga mengikuti perkembangan diplomasi yang berpotensi memengaruhi situasi konflik dan jalur distribusi energi.
Pada akhir pekan lalu, Arab Saudi mengeluarkan peringatan serangan udara untuk Riyadh serta sejumlah pusat di kawasan Laut Merah, termasuk Yanbu. Arab Saudi sebelumnya menghadapi ancaman dari Houthi yang didukung Iran di Yaman.
Di tengah meningkatnya perhatian terhadap keamanan kawasan, Presiden AS Donald Trump menyampaikan kemungkinan pertemuan dengan mitranya dari Iran di sela-sela Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York pada pekan ini.
Trump juga dijadwalkan bertemu dengan Presiden China Xi Jinping. Perkembangan hubungan diplomatik tersebut menjadi salah satu faktor yang diperhatikan pasar karena dapat memengaruhi arah ketegangan geopolitik dan prospek pasokan energi.
Sepanjang tahun ini, harga minyak telah mengalami kenaikan karena perang AS-Iran mengganggu pengiriman energi melalui Selat Hormuz. Jalur tersebut menjadi salah satu titik penting dalam distribusi energi global sehingga setiap gangguan terhadap lalu lintas kapal berpotensi memengaruhi pasokan dan harga minyak dunia.
Dengan demikian, pergerakan harga minyak pada awal pekan ini masih berada di antara dua sentimen utama, yakni risiko gangguan pasokan akibat ketegangan Timur Tengah dan harapan terhadap jalur diplomasi untuk meredakan konflik. []
Redaksi01
