Semarak Erau Adat Kutai 2026, Olahraga Tradisional Jadi Wadah Regenerasi
Pembukaan Festival Olahraga Tradisional yang digelar di kawasan Parkir Pulau Kumala, Tenggarong, Senin (21/09/2026).
Festival Olahraga Tradisional Erau Adat Kutai 2026 mempertandingkan empat cabang dengan 412 peserta sekaligus membuka kelas khusus SD dan SMP sebagai upaya memperkuat regenerasi olahraga tradisional di Kukar.
ADVERTORIAL – Festival Olahraga Tradisional dalam rangkaian Erau Adat Kutai 2026 menjadi ruang regenerasi bagi olahraga tradisional di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), dengan membuka kelas khusus bagi pelajar sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP). Festival yang mempertandingkan empat cabang olahraga itu berlangsung di kawasan Parkir Pulau Kumala, Tenggarong, pada 21–26 September 2026.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kukar Sunggono membuka kegiatan tersebut. Ia menilai pelestarian olahraga tradisional tidak cukup hanya mempertahankan nama permainan, tetapi juga membutuhkan pelaku, ruang bermain, komunitas, aturan yang dipahami, serta generasi yang meneruskannya.
“Olahraga tradisional memiliki nilai yang jauh lebih luas daripada sekadar menang atau kalah,” ucap Sunggono, Senin (21/09/2026).
Menurut Sunggono, olahraga tradisional mengandung nilai kecakapan, ketangkasan, keseimbangan, konsentrasi, keberanian, kesabaran, kerja sama, hingga sportivitas. Nilai-nilai tersebut membuat olahraga tradisional tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga menjadi bagian dari pengetahuan dan pengalaman masyarakat.
Ia mencontohkan blogo yang mengajarkan ketepatan dan perhitungan. Begasing memerlukan keterampilan, ketekunan, pemahaman terhadap bahan, serta teknik yang diwariskan melalui pengalaman. Sementara menyumpit menuntut fokus, pengendalian diri, dan ketepatan, sedangkan ketapel membutuhkan konsentrasi, ketelitian, serta keterampilan.
Sunggono mengatakan Erau Adat Kutai menjadi ruang kebersamaan yang mempertemukan adat, masyarakat, seni, budaya, dan kegembiraan. Tema Erau Adat Kutai 2026, “Raja Menunggal Bersama Rakyat, Raja Menjamu Rakyatnya”, menurutnya menjadi pengingat bahwa kebudayaan akan tetap hidup apabila terus dipraktikkan dan diwariskan antargenerasi.
Ia juga mengapresiasi Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kukar yang terus menyediakan ruang bagi pengembangan olahraga tradisional, terutama dengan mulai melibatkan anak-anak dalam kelas perlombaan.
“Kita patut bersyukur dan berterima kasih kepada Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga yang secara khusus akan tetap menyelenggarakan kegiatan ini dan melibatkan anak-anak kita,” katanya.
Kepala Dinas (Kadis) Pemuda dan Olahraga Kukar Aji Ali Husni mengatakan Festival Olahraga Tradisional merupakan agenda rutin yang dilaksanakan dalam rangkaian Erau Adat Kutai setiap tahun.
“Festival ini juga merupakan bagian dari rangkaian memeriahkan Erau tahun 2026, sekaligus mendukung penguatan Erau sebagai event budaya dan pariwisata unggulan Kabupaten Kukar,” jelas Aji Ali.
Sebanyak 412 peserta tercatat mengikuti empat cabang olahraga tradisional yang dipertandingkan tahun ini. Begasing menjadi cabang dengan peserta terbanyak, yakni 200 orang, disusul blogo 95 peserta, menyumpit 65 peserta, dan ketapel 52 peserta. Selain itu, satu induk organisasi olahraga (inorga) turut tampil dalam kegiatan eksibisi.
Menurut Kadis Dispora Kukar, pelaksanaan festival tahun ini disesuaikan dengan kemampuan anggaran. Sejumlah olahraga tradisional yang biasanya ditampilkan, seperti egrang dan kelom panjang, belum dapat dipertandingkan.
Namun, Dispora Kukar melakukan pengembangan dengan membuka kelas khusus bagi pelajar SD dan SMP. Kebijakan tersebut dilakukan seiring meningkatnya ketertarikan anak-anak terhadap sejumlah olahraga tradisional, terutama begasing dan ketapel.
“Mulai tahun ini kita laksanakan lomba untuk kelas usia SD dan SMP,” ujar Aji Ali.
Pelibatan peserta usia sekolah tersebut diharapkan menjadi bagian dari proses regenerasi agar olahraga tradisional tidak hanya bertahan sebagai tontonan dalam kegiatan budaya, tetapi tetap dimainkan dan dikenal oleh generasi berikutnya.
Festival juga diikuti peserta dari berbagai daerah di Kalimantan Timur (Kaltim), termasuk Samarinda, Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Paser, serta sejumlah daerah lainnya. Peserta dari luar Kaltim juga turut ambil bagian dalam kegiatan tersebut.
Keikutsertaan peserta lintas daerah diharapkan memperluas jejaring antarkomunitas sekaligus memperkuat Festival Olahraga Tradisional sebagai salah satu bagian dari penyelenggaraan Erau Adat Kutai.
“Semoga kegiatan ini dapat terus berkembang dengan kualitas penyelenggaraan yang semakin baik serta melibatkan masyarakat secara lebih luas,” pungkasnya. []
Penulis: Jemi Irlanda Haikal | Penyunting: Aulia Setyaningrum
