Harga Minyak Naik Tipis di Tengah Ketegangan AS-Iran

LONDON – Harga minyak mentah dunia bergerak tipis menguat pada Selasa (22/09/2026) ketika pelaku pasar menunggu perkembangan hubungan Amerika Serikat (AS) dan Iran di sela Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pekan ini. Pergerakan tersebut terjadi setelah harga minyak sebelumnya tertekan cukup dalam hingga mencapai level terendah sejak 9 September 2026.

Kontrak minyak mentah Brent untuk pengiriman November 2026 naik 22 sen atau 0,22 persen menjadi US$100,57 per barel. Sementara itu, kontrak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Oktober 2026 yang berakhir pada Selasa naik 2 sen atau 0,02 persen menjadi US$95,80 per barel.

Kontrak WTI November yang lebih aktif diperdagangkan juga menguat 13 sen atau 0,14 persen menjadi US$92,49 per barel.

Kenaikan tersebut belum menunjukkan perubahan mendasar pada pasar minyak. Sebelumnya, Brent merosot 3,4 persen menjadi US$100,34 per barel, sedangkan WTI Oktober anjlok 4,51 persen menjadi US$95,78 per barel. Kedua kontrak itu sekaligus mencatat level terendah sejak 9 September 2026.

Analis pasar utama KCM Trade, Tim Waterer, menilai penguatan harga minyak kali ini lebih berkaitan dengan aksi short covering setelah penurunan sebelumnya daripada perubahan fundamental pasar.

“Pergerakan lebih tinggi pada WTI dan pembukaan Brent yang lebih kuat tampaknya merupakan pantulan short covering yang lazim setelah penurunan baru-baru ini, bukan perubahan fundamental,” kata Tim Waterer dilansir dari Reuters, sebagaimana diberitakan Beritasatu, Selasa, (22/09/2026).

Menurut Waterer, pelaku pasar yang sebelumnya mengambil posisi dengan memperkirakan harga minyak akan turun mulai mengurangi risiko sambil menunggu arah perkembangan diplomasi AS dan Iran.

Harga minyak diperkirakan masih sensitif terhadap setiap kabar mengenai hubungan kedua negara. Kemajuan maupun kemunduran dalam upaya perundingan dapat memengaruhi sentimen pelaku pasar dan menentukan arah perdagangan komoditas tersebut.

Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan terbuka untuk bertemu dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Pezeshkian diperkirakan berada di New York pada pekan ini untuk menghadiri Sidang Umum PBB.

Ketegangan antara kedua negara masih berlangsung. Pada Minggu (20/09/2026), AS dan Iran masih saling melontarkan ancaman. Di sisi lain, Iran disebut telah menyampaikan sejumlah syarat kepada mediator untuk kembali terlibat dalam perundingan, menurut laporan Al Jazeera yang dikutip Reuters.

Situasi tersebut menjadi perhatian pasar karena ketegangan geopolitik di Timur Tengah dapat memengaruhi persepsi terhadap keamanan pasokan minyak global. Kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman disebut telah menyerang Riyadh dan fasilitas Saudi Aramco di Yanbu serta meningkatkan upaya memutus akses pasukan yang didukung Arab Saudi dari pesisir Laut Merah.

China juga dilaporkan secara pribadi meminta Teheran membantu meredam serangan Houthi. Permintaan tersebut disampaikan setelah Arab Saudi meminta bantuan Beijing menyusul meningkatnya aktivitas militer kelompok tersebut.

Dari sisi pasokan, Saudi Aramco meningkatkan ekspor minyak melalui Selat Hormuz setelah serangan terhadap jaringan pipa East-West memaksa perusahaan menghentikan sebagian pengiriman melalui Yanbu.

Data pelacakan kapal menunjukkan Saudi Aramco memuat sekitar 14 juta barel minyak mentah ke tujuh kapal tanker berukuran sangat besar di kawasan Teluk pada Minggu (20/09/2026). Peningkatan pengiriman itu menjadi salah satu indikator pemulihan sebagian ekspor minyak Arab Saudi setelah gangguan pada jalur pipa.

Sebelumnya, serangan pesawat nirawak membuat Arab Saudi menghentikan operasi pipa East-West pada 13 September 2026 dan mengganggu pengiriman minyak mentah dari pelabuhan Yanbu di Laut Merah. Saudi Aramco kemudian mengalihkan sebagian pengiriman melalui terminal di wilayah timur yang terhubung dengan Selat Hormuz.

Sementara itu, produksi lapangan minyak Sharara di Libya dilaporkan mengalami penurunan sebagian. Ketua National Oil Corp Libya Massoud Suleman menyampaikan kondisi tersebut kepada Reuters pada Senin, tetapi tidak menjelaskan penyebabnya.

Kombinasi perkembangan diplomasi AS-Iran, gangguan pasokan, serta perubahan aktivitas ekspor membuat pasar minyak masih menghadapi ketidakpastian. Pelaku pasar selanjutnya akan mencermati perkembangan geopolitik dan pasokan untuk menentukan arah harga minyak dalam perdagangan berikutnya. []

Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *