Bursa Asia Menguat, Saham AI Jadi Motor Utama
JAKARTA – Bursa saham Asia mengawali perdagangan Selasa (22/09/2026) di zona hijau, setelah reli saham berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di Wall Street mendorong penguatan indeks saham Amerika Serikat (AS) pada sesi sebelumnya.
Pada pukul 08.21 WIB, indeks Hang Seng menguat 0,51 persen menjadi 25.170,8. Penguatan lebih besar terjadi pada indeks Taiex yang naik 1,79 persen ke level 48.575,1 dan indeks Kospi yang meningkat 1,59 persen menjadi 7.119,35.
Kenaikan juga terjadi pada indeks ASX 200 sebesar 0,04 persen ke 8.735,4. Sementara itu, FTSE Straits Times naik 0,19 persen menjadi 5.686,22 dan FTSE Malay KLCI bertambah 0,16 persen ke 1.669,63. Bursa Jepang tidak diperdagangkan karena libur nasional.
Sentimen positif dari Wall Street menjadi salah satu penopang utama pergerakan bursa regional. Indeks S&P 500 menguat 1,5 persen, mencatatkan kinerja harian terbaik sejak 4 Agustus. Nasdaq Composite juga melonjak 2,3 persen hingga membukukan rekor penutupan baru, sedangkan Dow Jones naik 366 poin atau 0,7 persen.
Penguatan tersebut terutama ditopang saham perusahaan teknologi yang berkaitan dengan AI. Meta Platforms melonjak lebih dari 11 persen, sementara saham pembuat cip Intel dan Advanced Micro Devices (AMD) masing-masing naik 12 persen dan sekitar 10 persen. AMD bahkan mencapai kapitalisasi pasar US$1 triliun.
Saham Nvidia turut menguat 2 persen, sedangkan perusahaan serat optik Corning naik hampir 6 persen. Pergerakan tersebut memperlihatkan kuatnya kembali minat investor terhadap sektor teknologi setelah sebelumnya pasar dibayangi kekhawatiran mengenai valuasi dan prospek belanja AI. Data pasar yang dikutip Kontan juga menunjukkan Nasdaq mencetak rekor setelah saham AMD dan sejumlah saham berbasis AI menguat.
Selain reli saham teknologi, penurunan harga minyak turut memberikan sentimen positif bagi pasar. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 4,5 persen menjadi US$95,78 per barel, sedangkan minyak Brent terkoreksi lebih dari 3 persen ke US$100,34 per barel.
Penurunan harga minyak berpotensi meredakan tekanan terhadap biaya energi dan inflasi, sehingga menjadi salah satu faktor yang ikut mendukung minat investor terhadap aset berisiko. Imbal hasil surat utang pemerintah AS atau Treasury tenor 10 tahun juga turun lebih dari 4 basis poin menjadi 4,951 persen.
Di tengah penguatan bursa, perhatian investor berikutnya mengarah pada agenda hubungan AS-China. Presiden AS Donald Trump dijadwalkan bertemu dengan Presiden China Xi Jinping di Washington pada pekan ini. Pertemuan tersebut berlangsung setelah pembicaraan pejabat kedua negara yang antara lain membahas perdagangan, AI, dan mineral tanah jarang (rare earths).
Bagi pelaku pasar, perkembangan hubungan dua ekonomi terbesar dunia tersebut menjadi salah satu sentimen yang perlu dicermati karena isu tarif, teknologi, mineral tanah jarang, dan perdagangan dapat memengaruhi prospek perusahaan serta rantai pasok global. Pembicaraan tingkat pejabat AS-China sebelumnya juga mencakup mekanisme dialog mengenai keselamatan AI dan isu perdagangan.
Selain perkembangan hubungan AS-China, investor akan mencermati sejumlah agenda ekonomi AS, termasuk survei manufaktur Federal Reserve Richmond serta pidato Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams dan Presiden Federal Reserve Bank of Richmond Tom Barkin. Perkembangan tersebut dapat menjadi petunjuk tambahan bagi pasar dalam membaca arah kebijakan moneter AS.
Dengan kombinasi reli saham teknologi, penurunan harga minyak, serta pergerakan imbal hasil Treasury, sentimen global menjadi penopang awal perdagangan bursa Asia. Namun, investor masih perlu memperhatikan perkembangan geopolitik dan kebijakan ekonomi AS-China yang dapat memengaruhi arah pasar selanjutnya, sebagaimana diberitakan Kontan, Selasa, (22/09/2026). []
Redaksi01
