Produksi Vape Mulai Beralih ke Jawa Timur, Delta Sukses Ungkap Alasannya
JAKARTA – PT Delta Sukses Teknologi memperkuat produksi rokok elektrik atau vape di Indonesia untuk mengurangi risiko gangguan rantai pasok yang selama ini dipengaruhi kondisi logistik dan cuaca di negara asal bahan baku. Sebagian proses produksi perusahaan kini telah dilakukan di Jawa Timur melalui tahapan transfer teknologi.
Sales Director PT Delta Sukses Teknologi Iwan Wiratmana mengatakan, lokalisasi produksi menjadi salah satu langkah perusahaan untuk meningkatkan porsi kegiatan manufaktur di dalam negeri. Namun, sebagian besar bahan baku masih didatangkan dari China karena proses alih teknologi belum sepenuhnya selesai.
“Beberapa waktu yang lalu kami sudah mulai memproduksi di Indonesia di Jawa Timur. Jadi sebagian sudah ada selain bahan baku juga sudah ada produksinya di Indonesia,” kata Iwan di Jakarta, Kamis (24/09/2026), sebagaimana diberitakan Kontan, Kamis, (24/09/2026).
Menurut Iwan, ketergantungan terhadap pasokan dari luar negeri membuat perusahaan perlu menyiapkan strategi untuk menghadapi berbagai gangguan yang berpotensi menghambat distribusi bahan baku. Kondisi cuaca dan kendala yang terjadi di negara asal menjadi sejumlah faktor yang harus diperhitungkan dalam menjaga kelancaran produksi.
“Yang kendala itu masalahnya ada beberapa hal yang tidak bisa kita hindari, misalnya kalau ada kendala-kendala dari pelakuan-pelakuan di luar negeri. Kemudian cuaca,” ujarnya.
Untuk mengantisipasi gangguan tersebut, Delta Sukses Teknologi menyiapkan persediaan dan mempertimbangkan penggunaan moda transportasi alternatif. Strategi tersebut ditempuh agar pasokan bahan baku tetap terjaga ketika terjadi hambatan pada jalur logistik.
Perusahaan juga menargetkan peningkatan penggunaan material dan proses produksi yang berasal dari dalam negeri. Langkah itu dilakukan secara bertahap seiring proses transfer teknologi yang masih berlangsung.
Sementara itu, produksi perangkat vape masih dilakukan di luar negeri. Delta Sukses Teknologi telah memiliki rencana untuk memproduksi perangkat tersebut di Indonesia, tetapi pelaksanaannya masih menunggu hasil riset dan pengembangan.
“Sejauh ini kita masih proses riset dulu. Karena ada beberapa faktor yang masih tetap harus kita ambil dari report juga,” kata Iwan.
Di tengah strategi penguatan produksi tersebut, perusahaan melihat pasar rokok elektrik masih memiliki peluang pertumbuhan. Iwan menyebut industri vape dalam beberapa tahun terakhir tumbuh dua digit atau berada pada kisaran belasan persen.
Pertumbuhan pasar tersebut ditopang permintaan terhadap produk rokok alternatif. Selain pengguna baru, perusahaan juga melihat keberadaan konsumen yang menggunakan rokok elektrik bersamaan dengan rokok konvensional atau dual user.
Dengan prospek pasar tersebut, peningkatan produksi di Indonesia diharapkan tidak hanya memperbesar porsi manufaktur lokal, tetapi juga membantu perusahaan mengurangi ketergantungan terhadap rantai pasok luar negeri secara bertahap. []
Redaksi01
