Bursa Asia Bergerak Variatif, Investor Cermati Lonjakan Yield Obligasi AS
JAKARTA – Bursa Asia bergerak variatif pada perdagangan Jumat (25/09/2026) setelah imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury) melonjak ke level tertinggi dalam hampir dua dekade. Kondisi tersebut menjadi perhatian investor di tengah perkembangan hubungan Amerika Serikat-China dan ketegangan di Timur Tengah.
Pada pukul 08.22 WIB, indeks Nikkei 225 Jepang menjadi salah satu bursa yang menguat dengan kenaikan 0,54% ke level 65.866,75. Sebaliknya, indeks Hang Seng Hong Kong melemah 0,96% menjadi 24.523,5, sedangkan indeks ASX 200 Australia turun 0,54% ke 8.655,2.
Pergerakan berbeda juga terlihat di bursa Asia Tenggara. FTSE Straits Times Singapura naik tipis 0,08% menjadi 5.687,73, sementara FTSE Malay KLCI Malaysia menguat 0,05% ke 1.673,12.
Sementara itu, indeks KOSPI Korea Selatan dan TAIEX Taiwan tidak diperdagangkan karena libur pada Jumat.
Perhatian investor tidak hanya tertuju pada pasar saham. Aksi jual di pasar obligasi global turut menjadi faktor yang diperhitungkan pelaku pasar setelah imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun meningkat ke 5,225% pada Kamis (24/09/2026) malam.
Level tersebut merupakan yang tertinggi sejak 2007. Kenaikan juga terjadi pada imbal hasil US Treasury tenor 30 tahun yang mencapai 5,502%, sekaligus menjadi level tertinggi sejak Juni 2004.
Pergerakan imbal hasil obligasi tersebut menjadi bagian dari dinamika pasar global yang tengah diikuti investor ketika menilai arah aset berisiko, termasuk saham di kawasan Asia.
Selain pasar obligasi, investor mencermati pertemuan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping serta perkembangan ketegangan di Timur Tengah. Kedua isu tersebut berpotensi memengaruhi sentimen pasar dan menjadi perhatian dalam menentukan arah perdagangan.
Sebagaimana diberitakan Kontan, Jumat, (25/09/2026), pergerakan bursa Asia berlangsung di tengah kondisi pasar global yang juga beragam pada perdagangan sebelumnya di Wall Street.
Indeks S&P 500 ditutup turun tipis 0,02% menjadi 7.704,13. Sementara itu, Nasdaq Composite naik 0,01% ke 26.939,37 dan Dow Jones Industrial Average turun 0,31% menjadi 51.349,98.
Tekanan di pasar saham Amerika Serikat juga terlihat dari delapan dari 11 sektor dalam S&P 500 yang berakhir di zona merah. Sektor material mencatat penurunan paling dalam sebesar 1,18%, disusul sektor barang konsumsi pokok yang melemah 0,96%.
Pergerakan tersebut menunjukkan investor global masih menghadapi sejumlah faktor yang dapat memengaruhi pasar, mulai dari tingginya imbal hasil obligasi Amerika Serikat hingga perkembangan geopolitik. Kondisi itu membuat pasar saham Asia dibuka dengan pergerakan yang berbeda-beda pada akhir pekan. []
Redaksi01
