Sumber Sari Tembus Terbaik Nasional Desa Cantik, DPMD Kukar Dorong Replikasi

Kepala DPMD Kukar, Arianto, di Museum Mulawarman, Minggu (27/09/2026).

Keberhasilan Desa Sumber Sari masuk jajaran terbaik nasional program Desa Cantik diharapkan menjadi model pengelolaan data berbasis metode BPS bagi desa-desa lain di Kukar.

ADVERTORIAL – Desa Sumber Sari, Kecamatan Loa Kulu, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), berhasil masuk jajaran terbaik nasional dalam program Desa Cinta Statistik (Desa Cantik) yang dinilai Badan Pusat Statistik (BPS). Capaian tersebut diharapkan menjadi model penguatan tata kelola data bagi desa-desa lain di Kukar.

Prestasi Desa Sumber Sari sekaligus memperkuat capaian Kukar dalam pengembangan data desa sebagai dasar perencanaan dan pengambilan kebijakan pembangunan yang lebih terukur.

Kepala Dinas (Kadis) Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kukar Arianto mengatakan keberhasilan Desa Sumber Sari tidak terlepas dari pendampingan BPS Kukar dalam mengembangkan pengelolaan data menggunakan metode Desa Cantik.

“Desa Sumber Sari masuk terbaik nasional untuk program Desa Cantik yang penilaiannya dilakukan oleh BPS secara nasional. Untuk Kalimantan Timur, Desa Sumber Sari dikirim untuk mewakili dan berhasil masuk kategori terbaik nasional,” ucap Arianto kepada awak media di Museum Mulawarman, Tenggarong, Minggu (27/09/2026).

Desa Sumber Sari mewakili Kalimantan Timur (Kaltim) dalam penilaian tersebut. Pemerintah Desa (Pemdes) Sumber Sari sebelumnya mendapat pendampingan dalam proses pengumpulan, pengolahan, penyusunan, dan pemanfaatan data dengan metode yang diterapkan BPS.

Pendampingan tersebut diarahkan agar data desa tidak sekadar menjadi kebutuhan administrasi, tetapi dapat dimanfaatkan sebagai basis dalam menyusun program dan menentukan kebijakan pembangunan sesuai kondisi masyarakat dan wilayah.

Data yang dikelola mencakup berbagai informasi, mulai dari kependudukan hingga potensi wilayah. Pengelolaannya juga telah memanfaatkan sistem elektronik serta informasi geospasial untuk memberikan gambaran kondisi desa secara lebih sistematis dan terukur.

Kadis DPMD Kukar berharap keberhasilan Desa Sumber Sari dapat direplikasi oleh desa-desa lain sehingga tata kelola data berbasis metode Desa Cantik semakin luas diterapkan.

“Harapannya ini bisa kita tularkan ke 193 desa lainnya. Semua desa diharapkan bisa menggunakan metode Desa Cantik ini untuk membuat data di desanya masing-masing,” ujarnya.

Menurut Arianto, setiap desa memiliki peluang menerapkan metode pengelolaan data tersebut. Namun, proses pengumpulan, pengolahan, pemutakhiran, dan pemanfaatan data harus terus diperkuat agar informasi yang dihasilkan benar-benar dapat digunakan dalam perencanaan pembangunan.

Ia menilai basis data yang baik akan membantu pemerintah desa menentukan program dan kebijakan yang lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

“Ketika data-data itu sudah dibuat dan basis datanya baik dengan menggunakan metode BPS, harapannya bisa digunakan untuk membuat kebijakan-kebijakan di desa,” jelasnya.

Pemanfaatan sistem elektronik dan informasi geospasial, menurut DPMD Kukar, juga memungkinkan pemerintah desa memetakan potensi, kebutuhan, serta kondisi masyarakat secara lebih akurat. Dengan demikian, penyusunan program pembangunan dapat didasarkan pada data yang lebih tertata dan dapat dipertanggungjawabkan.

Prestasi Desa Sumber Sari bukan capaian pertama desa di Kukar dalam program Desa Cantik. Pada tahun sebelumnya, Desa Batuah juga berhasil masuk enam besar nasional.

Pengalaman Desa Batuah dan Desa Sumber Sari diharapkan menjadi rujukan bagi desa-desa lain untuk mengembangkan tata kelola data secara berkelanjutan, tidak hanya ketika mengikuti penilaian tingkat nasional.

DPMD Kukar berharap semakin banyak desa memiliki basis data yang akurat, mutakhir, dan terstruktur sehingga perencanaan pembangunan dapat disusun berdasarkan kondisi nyata di lapangan. Keberhasilan Desa Sumber Sari sekaligus menjadi momentum untuk memperluas penerapan metode Desa Cantik dalam tata kelola pemerintahan desa di Kukar. []

Penulis: Jemi Irlanda Haikal | Penyunting: Aulia Setyaningrum

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *