DPRD Kukar Tekankan Sejarah sebagai Fondasi Pembangunan Berkelanjutan
Rapat Paripurna Istimewa Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kukar dalam rangka memperingati Hari Jadi ke-244 Kota Tenggarong, yang digelar di Kantor DPRD Kukar, Senin (28/09/2026).
Peringatan Hari Jadi ke-244 Tenggarong menjadi momentum memperkuat sejarah, budaya, kearifan lokal, dan kebersamaan sebagai landasan pembangunan Kukar yang berkelanjutan.
ADVERTORIAL – Peringatan Hari Jadi ke-244 Tenggarong menjadi momentum untuk meneguhkan sejarah, budaya, dan kearifan lokal sebagai pijakan pembangunan Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Pesan tersebut mengemuka dalam Rapat Paripurna Istimewa Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kukar di Kantor DPRD Kukar, Senin (28/09/2026).
Rapat paripurna dipimpin Ketua DPRD Kukar Ahmad Yani dan dihadiri Bupati Kukar Aulia Rahman Basri, jajaran DPRD Kukar, perwakilan DPRD Provinsi (DPRD) Kalimantan Timur (Kaltim) dari daerah pemilihan Kukar, serta sejumlah pimpinan DPRD kabupaten dan kota.
Sejumlah undangan dari luar daerah turut hadir, di antaranya Ketua DPRD Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu) beserta jajaran, perwakilan DPRD Kalimantan Utara (Kaltara), dan Sekretariat DPRD Kabupaten Bulungan.
Momentum tersebut juga dihadiri sejumlah tokoh dan mantan kepala daerah Kukar, termasuk Bupati Kukar periode 2010–2015 Gufron Yusuf dan Bupati Kukar periode 2019–2024 Edi Damansyah.
Ketua DPRD Kukar Ahmad Yani mengatakan perjalanan panjang Tenggarong tidak boleh hanya dipandang sebagai catatan masa lalu. Sejarah, menurutnya, harus menjadi sumber pembelajaran sekaligus pijakan untuk menentukan arah pembangunan daerah.
“Jangan pernah melupakan sejarah. Karena dari sejarah itulah kita mengetahui dari mana kita berasal dan ke mana kita akan melangkah,” ujar Ahmad Yani.
Menurutnya, sejarah memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan identitas masyarakat. Warisan budaya, tradisi, serta kearifan lokal perlu terus dipelihara dan dikembangkan agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.
“Sejarah bukan hanya untuk kita kenang, tetapi harus menjadi pembelajaran dan pijakan dalam menentukan arah pembangunan ke depan,” katanya.
Ahmad Yani menegaskan pembangunan daerah tidak semestinya hanya berorientasi pada pembangunan fisik. Kemajuan daerah, kata dia, harus berjalan beriringan dengan upaya menjaga identitas dan nilai budaya yang diwariskan lintas generasi.
Tenggarong memiliki perjalanan sejarah panjang yang tidak terpisahkan dari Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura. Keraton, tradisi kesultanan, serta berbagai peninggalan budaya menjadi bagian penting dari identitas Tenggarong sebagai Kota Raja.
Karena itu, kawasan bersejarah dan ruang-ruang budaya dinilai perlu mendapat perhatian lebih besar. Pelestarian tidak hanya ditujukan untuk menjaga peninggalan masa lalu, tetapi juga membangun kebanggaan masyarakat sekaligus mengenalkan kekayaan budaya daerah kepada generasi mendatang.
Ahmad Yani juga mengingatkan pentingnya menghargai kontribusi para pendahulu dalam perjalanan pembangunan Kukar dan Tenggarong.
“Kita harus menghargai jasa para pendahulu. Apa yang kita nikmati hari ini tidak terlepas dari perjuangan dan kontribusi mereka dalam membangun daerah ini,” ucapnya.
Menurutnya, kepala daerah terdahulu, tokoh masyarakat, ulama, intelektual, dan masyarakat memiliki kontribusi masing-masing dalam perjalanan daerah. Memahami perjalanan tersebut dapat menjadi bahan evaluasi dan pembelajaran dalam menyusun kebijakan pembangunan ke depan.
Ahmad Yani menilai pembangunan kebudayaan harus dilakukan secara terstruktur, sistematis, dan berkelanjutan. Kebudayaan tidak seharusnya hanya ditampilkan pada momentum hari jadi ataupun kegiatan seremonial.
“Peringatan budaya tidak boleh terjebak hanya pada seremoni, tetapi harus menjadi energi sosial yang menggerakkan pembangunan daerah,” tegasnya.
Ia mendorong agar nilai budaya dan kearifan lokal mendapat ruang lebih luas dalam pendidikan, pelayanan pemerintahan, ruang publik, serta kebijakan pembangunan daerah.
Menurut Ahmad Yani, kearifan lokal juga perlu terus diidentifikasi, dikembangkan, dan diperkenalkan kepada masyarakat luas agar menjadi salah satu kekuatan identitas daerah di tengah perkembangan kawasan Nusantara.
Untuk mewujudkan hal tersebut, diperlukan kolaborasi antara pemerintah, lembaga adat, dunia pendidikan, komunitas, generasi muda, pelaku kebudayaan, serta masyarakat sehingga upaya pelestarian budaya tidak berjalan secara terpisah.
Selain menjaga identitas budaya, Ahmad Yani menekankan bahwa keberhasilan pembangunan harus dapat diukur dari manfaat yang benar-benar dirasakan masyarakat. Setiap kebijakan, menurutnya, juga perlu membuka ruang bagi masukan dan evaluasi publik.
“Pembangunan harus kita ukur dari hasil dan manfaat yang dirasakan masyarakat. Karena itu, setiap kebijakan perlu mendapatkan masukan dan umpan balik dari masyarakat jelasnya,” jelasnya.
Sebagai ibu kota Kukar, Tenggarong memiliki posisi strategis sebagai pusat pemerintahan, sosial, ekonomi, pendidikan, dan kebudayaan. Karena itu, pembangunan kota diharapkan mampu menghadirkan lingkungan yang nyaman, bersih, indah, dan maju tanpa menghilangkan karakter budayanya.
Ahmad Yani mendorong agar proses modernisasi kota tetap berjalan berdampingan dengan penguatan identitas lokal sehingga Tenggarong memiliki karakter yang membedakannya dari daerah lain.
“Bagaimana budaya lokal dan kearifan lokal ini bisa kita tempatkan dalam ruang publik, dalam pendidikan, dalam pemerintahan, sehingga menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dan identitas daerah,” tuturnya.
Sementara itu, Bupati Kukar Aulia Rahman Basri menekankan pentingnya kebersamaan seluruh elemen masyarakat dalam melanjutkan pembangunan daerah. Ia mengajak masyarakat menjaga persatuan serta menyatukan langkah dalam menghadapi berbagai tantangan pembangunan.
“Efisiensi anggaran bukan berarti efisiensi semangat pembangunan,” tegas Aulia.
Peringatan Hari Jadi ke-244 Tenggarong pun tidak hanya menjadi penanda perjalanan panjang Kota Raja, tetapi juga momentum untuk menjadikan sejarah, budaya, persatuan, dan partisipasi masyarakat sebagai bagian penting dalam menentukan arah pembangunan Kukar ke depan. []
Penulis: Jemi Irlanda Haikal | Penyunting: Aulia Setyaningrum
