IHSG Awal Oktober Memerah, Saham Teknologi Jadi Beban Utama
JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 0,13 persen atau 7,693 poin ke level 6.063,445 pada awal perdagangan Kamis (01/10/2026). Pelemahan terutama tercermin dari tekanan sejumlah sektor, dengan indeks teknologi menjadi sektor yang mengalami penurunan paling dalam.
Mengutip data RTI pada pukul 09.13 WIB, sebanyak 272 saham melemah, sementara 245 saham menguat dan 212 saham bergerak stagnan. Aktivitas perdagangan mencatat volume sekitar 7,1 miliar saham dengan nilai transaksi mencapai Rp1,25 triliun.
Dari sembilan indeks sektoral yang berada di zona merah, sektor teknologi mengalami penurunan paling besar. IDX-Techno terkoreksi 1,75 persen, disusul IDX-Industry yang turun 1 persen dan IDX-Infra melemah 0,52 persen.
Tekanan juga terlihat pada sejumlah saham yang masuk indeks LQ45. PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) mencatat penurunan terbesar dengan anjlok 12,50 persen menjadi Rp28 per saham.
Selanjutnya, saham PT United Tractors Tbk (UNTR) turun 2,68 persen ke Rp26.350 per saham. Saham PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) juga melemah 1,75 persen menjadi Rp2.250 per saham.
Namun, tidak seluruh saham LQ45 bergerak negatif. PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) menguat 2,74 persen menjadi Rp11.250 per saham. PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) naik 1,55 persen ke Rp394, sedangkan PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) menguat 1,23 persen menjadi Rp2.460.
Pergerakan IHSG selanjutnya turut dipengaruhi perhatian investor terhadap sejumlah indikator ekonomi domestik yang dijadwalkan dirilis pada Kamis. Dua data yang menjadi perhatian utama adalah inflasi September 2026 dan neraca perdagangan Agustus 2026.
Konsensus Reuters memperkirakan neraca perdagangan Indonesia pada Agustus 2026 mencatat surplus sekitar 630 juta dolar AS. Sementara itu, inflasi September diproyeksikan mengalami kenaikan tipis.
Data tersebut menjadi salah satu acuan investor untuk melihat perkembangan tekanan eksternal, kondisi daya beli masyarakat, serta ruang kebijakan Bank Indonesia (BI) ketika rupiah masih berada pada level lemah.
Dari pasar global, bursa saham Asia bergerak terbatas. Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang tercatat turun 0,2 persen, sedangkan indeks KOSPI Korea Selatan melemah 0,14 persen. Sebaliknya, indeks Nikkei Jepang menguat lebih dari 1 persen, ditopang saham-saham berbasis semikonduktor.
Di Amerika Serikat (AS), kontrak berjangka Nasdaq dan S&P 500 masing-masing naik sekitar 0,3 persen. Sementara itu, kontrak berjangka saham Eropa turun 0,75 persen.
Pasar juga mencermati perkembangan pasar obligasi global setelah kenaikan yield yang cukup tajam sepanjang September. Kinerja positif Micron Technology di tengah meningkatnya permintaan yang berkaitan dengan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) turut menjadi perhatian investor.
“Angka Micron kembali menjadi validasi kuat terhadap permintaan AI dan memori. Namun, pasar mungkin mulai mempertanyakan apakah kita sudah mendekati puncak kelangkaan memori, meskipun permintaan masih melampaui pasokan,” kata Charu Chanana, chief investment strategist Saxo, sebagaimana diberitakan Kontan, Kamis, (01/10/2026).
Menurut Chanana, kondisi makroekonomi global semakin beragam. Data ekonomi AS yang lebih lemah mengurangi tekanan terhadap ekspektasi kenaikan suku bunga bank sentral AS atau The Fed dan yield jangka pendek. Namun, yield jangka panjang masih berada di level tinggi sehingga biaya modal tetap menjadi perhatian investor.
Pergerakan IHSG pada awal Oktober dengan demikian masih dipengaruhi kombinasi tekanan saham teknologi, dinamika pasar global, serta penantian data ekonomi dalam negeri yang dapat memberikan gambaran mengenai arah perekonomian dan kebijakan moneter ke depan. []
Redaksi01
