Bupati Kutim Tekankan Pancasila di Tengah Derasnya Informasi Digital
Keterbukaan informasi dan beragamnya gagasan di ruang digital dinilai perlu diimbangi dengan penguatan pemahaman Pancasila, terutama di kalangan generasi muda dan pelajar Kutim.
ADVERTORIAL – Derasnya arus informasi dan terbukanya akses terhadap beragam gagasan menjadi tantangan baru bagi generasi muda dalam menjaga persatuan. Bupati Kutai Timur (Kutim) Ardiansyah Sulaiman mendorong pelajar dan generasi muda memperkuat pemahaman serta pengamalan Pancasila agar tetap memiliki pijakan ideologis di tengah perkembangan kehidupan digital.
Pesan tersebut disampaikan Ardiansyah seusai memimpin Upacara Peringatan Hari Kesaktian Pancasila 2026 di Lapangan Kantor Bupati Kutim, kawasan Bukit Pelangi, Sangatta, Kamis (01/10/2026). Upacara tersebut menjadi momentum untuk kembali meneguhkan Pancasila sebagai dasar sekaligus pemersatu bangsa.
Ardiansyah menilai keterbukaan informasi saat ini membuat masyarakat, terutama generasi muda, semakin mudah bersentuhan dengan berbagai gagasan dan ideologi. Kondisi itu, menurut dia, perlu diimbangi dengan pemahaman yang kuat terhadap nilai-nilai Pancasila.
“Di era digital ini semua serba terbuka, ideologi-ideologi yang lain pun semua kelihatan. Tapi tetap kita harus paham, kita punya ideologi yang cukup bagus bagi pemersatu bangsa,” katanya.
Karena itu, pembelajaran mengenai Pancasila dinilai tidak cukup berhenti pada hafalan, tetapi perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai persatuan, penghormatan terhadap perbedaan, serta semangat hidup bersama menjadi bagian penting dalam menghadapi perubahan sosial dan perkembangan teknologi.
Peringatan Hari Kesaktian Pancasila juga menjadi pengingat terhadap perjalanan sejarah bangsa. Ardiansyah mengatakan peristiwa 1965 perlu menjadi pelajaran agar masyarakat terus menjaga keutuhan dan persatuan Indonesia.
“Peristiwa sejarah yang kelam pada tahun 65 itu merupakan peristiwa yang sangat menodai sejarah perjuangan bangsa yang menodai proklamasi, yang menodai berjalannya negara ini dengan begitu kuat. Tapi alhamdulillah dengan kesigapan semua komponen bangsa, kita kembali menyaksikan Pancasila masih tetap berdiri tegak,” ujar Ardiansyah.
Selain tantangan keterbukaan informasi, Ardiansyah menilai kemajemukan masyarakat Kutim merupakan kondisi yang harus terus dirawat melalui sikap saling menghargai. Keberagaman, menurut dia, dapat menjadi kekuatan apabila masyarakat memiliki landasan bersama dalam kehidupan sosial.
“Sampai saat ini, dengan kemampuan kita mendalami ideologi itu, tidak satu pun peristiwa yang cukup mencekam di Kutai Timur, dan kita harapkan itu tidak akan terjadi. Justru dengan adanya heterogenitas ini, kita saling menghargai satu sama lain, dan konsep kita hanya satu, kita bangun Kutai Timur,” ungkapnya.
Ardiansyah berharap pemahaman Pancasila terus ditanamkan kepada generasi muda, khususnya pelajar, sehingga mereka mampu menyikapi keterbukaan informasi secara bijak sekaligus mempertahankan semangat persatuan dalam kehidupan bermasyarakat. Penguatan nilai Pancasila diharapkan tidak hanya hadir pada momentum peringatan, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Kutim. []
