Bursa Asia Menguat, Yield US Treasury Jadi Bayang-Bayang

0
1965011034

JAKARTA – Bursa saham Asia bergerak menguat pada perdagangan Selasa (06/10/2026), tetapi reli aset berisiko masih dibayangi tingginya imbal hasil US Treasury yang mencapai level tertinggi dalam 24 tahun. Kondisi ini menunjukkan investor masih menghadapi tekanan dari kekhawatiran inflasi dan meningkatnya beban utang pemerintah Amerika Serikat (AS), meski ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) mulai mereda.

Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang naik 0,2 persen, sedangkan indeks Nikkei Jepang menguat 0,7 persen. Kontrak berjangka saham Eropa juga naik 0,5 persen. Di AS, kontrak berjangka Nasdaq meningkat 0,2 persen dan S&P 500 futures bertambah 0,1 persen, sebagaimana diberitakan Kontan, Selasa, (06/10/2026).

Penguatan pasar saham Asia mengikuti reli Wall Street yang kembali ditopang sektor teknologi. Saham Nvidia melonjak 2,1 persen dan mencatat rekor penutupan sehingga kapitalisasi pasarnya mencapai sekitar US$5,76 triliun.

Penguatan saham teknologi terjadi setelah data ketenagakerjaan AS yang lebih lemah dari perkiraan mendorong pasar mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober. Pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga tersebut sekitar 23 persen, turun dari 71 persen sepekan sebelumnya.

Kyle Rodda, analis senior Capital.com, mengatakan reli pasar kembali dipimpin sektor teknologi. Menurut dia, sedikit meredanya ketidakpastian suku bunga dan risiko geopolitik membuat investor kembali berfokus pada prospek pertumbuhan laba perusahaan yang terkait dengan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Optimisme terhadap sektor teknologi juga mendapat dukungan dari musim laporan keuangan kuartal III-2026 yang akan dimulai pekan depan. Goldman Sachs memperkirakan konsensus analis menunjukkan laba perusahaan yang tergabung dalam indeks S&P 500 dapat tumbuh 27 persen pada kuartal tersebut.

Lebih dari separuh pertumbuhan laba itu diperkirakan berasal dari perusahaan yang memperoleh manfaat dari peningkatan belanja infrastruktur AI. Proyeksi tersebut membuat saham berbasis teknologi tetap menjadi salah satu tumpuan utama sentimen positif di pasar saham.

Namun, kondisi pasar obligasi menunjukkan gambaran yang berbeda. Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun berada di 5,3089 persen pada perdagangan Asia setelah naik tiga basis poin pada sesi sebelumnya dan sempat menyentuh 5,3493 persen. Level tersebut merupakan yang tertinggi sejak 2002.

Imbal hasil US Treasury tenor 30 tahun juga bertahan di 5,6622 persen setelah sebelumnya mencapai 5,7029 persen. Kenaikan imbal hasil telah berlangsung sejak pertengahan Agustus seiring kekhawatiran terhadap inflasi dan kondisi utang pemerintah AS.

Tekanan inflasi kembali terlihat setelah survei Institute for Supply Management (ISM) menunjukkan indeks harga yang dibayarkan perusahaan jasa AS untuk input melonjak ke level tertinggi dalam lebih dari empat tahun.

Di pasar valuta asing, dolar AS menguat ketika euro masih berada di dekat level terendah dalam 17 bulan. Euro sempat melemah 0,8 persen ke US$1,1160 pada perdagangan sebelumnya, level terlemah sejak Mei 2025, sebelum bergerak di sekitar US$1,1215.

Tekanan terhadap euro dipengaruhi kekhawatiran mengenai kondisi fiskal Prancis dan meningkatnya ketidakpastian politik di Eropa. Investor melepas obligasi pemerintah Prancis setelah menilai anggaran negara tersebut kurang meyakinkan.

Terhadap yen, euro diperdagangkan di sekitar 177 yen setelah mencatat pelemahan selama tujuh sesi berturut-turut. Joseph Capurso, kepala ekonomi internasional Commonwealth Bank of Australia, mengatakan perpecahan politik di parlemen Prancis meningkatkan risiko konsolidasi fiskal yang direncanakan pemerintah tidak berjalan optimal atau pemerintah menghadapi mosi tidak percaya.

Capurso memperkirakan pasangan euro/dolar AS berpotensi menguji level dukungan US$1,1109. Sementara itu, indeks dolar berada di level 102,2 setelah menguat 0,9 persen dalam sepekan terakhir.

Di pasar komoditas, harga minyak Brent relatif stabil di sekitar US$100 per barel setelah turun 1,9 persen pada perdagangan sebelumnya. Pelemahan harga minyak dipicu peningkatan ekspor dari Timur Tengah serta komitmen negara-negara G7 untuk meningkatkan pasokan.

Harga emas spot juga bergerak relatif stabil di US$4.141,31 per ons troi. Pergerakan berbagai aset tersebut menunjukkan investor masih menimbang peluang pertumbuhan laba perusahaan, prospek kebijakan The Fed, tekanan inflasi, serta kondisi fiskal AS dan Eropa sebelum menentukan arah investasi berikutnya. []

Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *