Empat BUMD Cirebon Dituntut Mulai Genjot PAD
CIREBON – Empat Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Kota Cirebon memasuki fase baru setelah pemerintah daerah meminta jajaran direksi yang baru dilantik tidak terlalu lama berkutat pada konsolidasi. Memasuki sisa waktu 2026, setiap perusahaan daerah mulai diarahkan menunjukkan langkah konkret untuk mengoptimalkan potensi usaha sekaligus memperkuat Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Wali Kota Cirebon Effendi Edo mengatakan pembenahan internal tetap menjadi fondasi awal bagi direksi baru, terutama menyangkut sumber daya manusia (SDM), tata kelola, dan berbagai persoalan yang masih membebani perusahaan. Namun, tahapan tersebut harus segera diikuti program kerja yang menghasilkan dampak terhadap kinerja dan pendapatan daerah.
“Memang awalnya harus kita rapikan dulu, mulai dari SDM, tata kelola hingga persoalan yang ada di dalam perusahaan. Tapi setelah itu harus segera kelihatan langkah konkretnya, terutama bagaimana perusahaan bisa memberikan kontribusi untuk daerah,” kata Edo, Rabu (07/10/2026), sebagaimana diberitakan About Cirebon, Rabu, (07/10/2026).
Perumda Pasar Berintan menjadi salah satu perusahaan yang sudah didorong masuk ke tahap mengejar target pendapatan. Pemerintah Kota Cirebon meminta perusahaan tersebut tidak hanya menyelesaikan persoalan internal, tetapi juga mulai mengidentifikasi ruang peningkatan penerimaan.
“Untuk PD Pasar, kita sudah mulai bicara target yang harus dikejar. Jadi bukan hanya pembenahan, tetapi sudah harus mulai melihat bagaimana pendapatan bisa dioptimalkan,” ujarnya.
Sementara itu, Perusahaan Daerah (PD) Pembangunan diarahkan melakukan pendataan dan inventarisasi aset secara menyeluruh. Langkah tersebut diperlukan agar perusahaan mengetahui secara pasti aset yang dimiliki sekaligus mengidentifikasi peluang pemanfaatan aset yang dapat menciptakan nilai tambah.
Berbeda dengan dua perusahaan tersebut, Perumda Air Minum Tirta Giri Nata (PAM-TGN) masih memperoleh waktu untuk memperkuat konsolidasi. Direksi perusahaan air minum itu baru dilantik sekitar satu bulan sehingga pemerintah daerah meminta jajaran baru memetakan kondisi perusahaan sebelum masuk ke tahap eksekusi.
“Untuk PAM-TGN masih relatif baru, sehingga sekarang kami minta mereka memetakan kondisi perusahaan dan melakukan konsolidasi. Setelah itu baru kita dorong langkah yang lebih konkret,” terang Edo.
Adapun Perumda Farmasi Ciremai menghadapi persoalan yang dinilai lebih kompleks. Direksi baru perusahaan tersebut diminta memahami terlebih dahulu seluruh persoalan yang ada sebelum menentukan langkah pembenahan.
Pemetaan masalah kemudian akan menjadi dasar penyusunan roadmap atau peta jalan pembenahan agar perusahaan dapat kembali menjalankan kegiatan usaha secara lebih baik.
“Farmasi memang persoalannya cukup kompleks. Jadi direktur barunya kita minta memahami dulu seluruh persoalannya, kemudian menyusun peta jalan penyelesaiannya. Harapannya, perusahaan ini bisa kembali berjalan lebih baik,” ungkapnya.
Edo menegaskan pembenahan internal tetap diperlukan, tetapi proses konsolidasi tidak boleh menjadi alasan bagi BUMD untuk menunda hasil kerja terlalu lama. Pemerintah daerah berharap perubahan awal sudah terlihat sebelum 2026 berakhir, sementara kinerja yang lebih agresif ditargetkan mulai berjalan pada tahun berikutnya.
“Jangan sampai pembenahan ini hanya berhenti pada konsolidasi. Tahun depan tentu kita ingin mereka sudah bisa berlari lebih kencang, tetapi tahun ini pun saya berharap sudah ada kontribusi dan hasil awal yang bisa dirasakan daerah,” pungkasnya. []
Redaksi01
