Utang AI Membengkak, Bursa Asia Kembali Tertekan
JAKARTA – Pasar saham Asia menghadapi tekanan pada perdagangan Kamis (08/10/2026) seiring meningkatnya biaya pendanaan dan kekhawatiran investor terhadap gelombang utang perusahaan teknologi untuk membiayai investasi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Kondisi tersebut terjadi bersamaan dengan kenaikan yield obligasi pemerintah Amerika Serikat yang memperbesar kekhawatiran terhadap risiko pasar kredit global.
Indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) Asia Pasifik di luar Jepang tercatat turun 0,1 persen. Pelemahan juga terjadi di bursa utama kawasan, dengan indeks Nikkei Jepang merosot 0,9 persen dan saham Korea Selatan turun 0,6 persen.
Tekanan terhadap pasar obligasi meningkat setelah sejumlah perusahaan teknologi besar dikabarkan tengah mencari pendanaan dalam jumlah besar untuk membeli cip AI. Langkah tersebut membuat perusahaan teknologi harus bersaing memperoleh dana dengan pemerintah negara-negara besar yang juga membutuhkan pembiayaan melalui pasar obligasi.
Wall Street Journal melaporkan SpaceX, Broadcom, dan Oracle tengah mencari pendanaan untuk membiayai pembelian cip AI. Broadcom disebut tengah membidik pembiayaan hingga US$50 miliar.
Sementara itu, SpaceX berencana menerbitkan surat utang berperingkat investment grade senilai US$30 miliar dan menarik pinjaman US$10 miliar untuk membeli cip dari Nvidia. Nvidia sendiri merupakan salah satu pemegang saham utama SpaceX.
Rencana pendanaan tersebut turut meningkatkan kekhawatiran terhadap kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban utangnya. Biaya asuransi gagal bayar atau credit default insurance SpaceX mencapai level tertinggi sepanjang masa, sementara saham dan obligasi perusahaan antariksa itu ikut tertekan.
Chief Executive Officer (CEO) deVere Group Nigel Green memperingatkan risiko yang muncul ketika Nvidia turut membiayai perusahaan yang menjadi pembeli produknya.
“Pembangunan AI dimulai dengan uang tunai. Kini semakin banyak dibiayai dengan kredit, dan kredit mengubah profil risikonya secara keseluruhan,” kata Green.
Menurut Green, kewajiban utang tetap harus dipenuhi sesuai jadwal meskipun pendapatan yang diharapkan dari investasi AI tidak terealisasi sesuai perkiraan.
“Utang ini pada akhirnya masuk ke dana obligasi dan dana pensiun para penabung di seluruh dunia,” ujarnya.
Di tengah risiko tersebut, derasnya pembiayaan proyek AI justru berpotensi meningkatkan permintaan terhadap produk industri semikonduktor dan memori. Sebagian dana yang dihimpun perusahaan teknologi akan digunakan untuk membeli peralatan dan cip yang mendukung pengembangan AI.
Samsung Electronics, misalnya, pada Kamis memproyeksikan laba operasional kuartal III-2026 melonjak 783 persen menjadi 107,4 triliun won atau sekitar US$80,17 miliar. Namun, saham Samsung tetap melemah 0,3 persen.
Sebagaimana diberitakan Kontan, Kamis, (08/10/2026), tekanan pembiayaan korporasi terjadi ketika pasar obligasi pemerintah juga menghadapi kekhawatiran terkait inflasi, pelebaran defisit anggaran, dan arah suku bunga.
Risiko kenaikan suku bunga turut diperkuat oleh risalah pertemuan terakhir Federal Reserve (The Fed). Risalah yang dirilis Rabu menunjukkan sebagian besar pejabat The Fed menilai kenaikan suku bunga tambahan masih mungkin diperlukan hingga akhir tahun, meskipun keputusan tersebut tetap bergantung pada perkembangan ekonomi.
Pasar saat ini hanya memperkirakan peluang 19 persen untuk kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober. Namun, peluang kenaikan pada Desember telah mencapai sekitar 80 persen.
“Kami memperkirakan kenaikan suku bunga The Fed kedua pada Desember, meskipun kami melihat peluang yang cukup besar bahwa The Fed pada akhirnya menyimpulkan pengetatan lebih lanjut tidak diperlukan,” tulis analis Goldman Sachs.
Ekspektasi terhadap jeda pengetatan membuat yield Surat Utang Pemerintah Amerika Serikat bertenor dua tahun bertahan di 4,78 persen. Sementara itu, yield bertenor 10 tahun naik tipis menjadi 5,298 persen setelah sempat menyentuh 5,326 persen pada perdagangan sebelumnya, level tertinggi dalam 24 tahun.
Tekanan pasar juga merambat ke Eropa setelah kekhawatiran mengenai kondisi fiskal Prancis menyebar ke pasar obligasi Italia dan Yunani. Euro melemah 0,6 persen pada perdagangan sebelumnya dan berada di sekitar US$1,1198.
Jika menembus level terendah sebelumnya di US$1,1161, euro berpotensi kembali melemah menuju US$1,1065. Sebaliknya, dolar AS menguat dengan indeks dolar mencapai 102,22, mendekati level tertinggi dalam 18 bulan.
Terhadap yen, dolar AS melemah tipis 0,1 persen menjadi 157,90 yen. Yen masih mendapat dukungan dari potensi intervensi pemerintah Jepang untuk menahan pelemahan mata uang tersebut.
Di pasar komoditas, harga minyak Brent naik 0,9 persen menjadi US$101,14 per barel. Minyak mentah Amerika Serikat atau West Texas Intermediate (WTI) juga naik 0,8 persen menjadi US$89,02 per barel.
Sebaliknya, emas kembali tertekan akibat kenaikan yield obligasi. Harganya turun ke sekitar US$4.105 per ons atau mendekati level terendah dalam dua bulan. Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa kenaikan biaya pendanaan dan ketidakpastian kebijakan moneter masih menjadi faktor penting yang menentukan arah aset global. []
Redaksi01
