Erau Adat Pelas Benua Diharapkan Tingkatkan Ekonomi Warga Kutim

0
6224066718045246349

Penyelenggaraan perdana Erau Adat Pelas Benua Kutim 2026 menghadirkan ritual adat, pertunjukan budaya, olahraga tradisional, dan bazar UMKM sebagai upaya memperkuat pariwisata serta membuka peluang ekonomi masyarakat.

ADVERTORIAL – Penyelenggaraan Erau Adat Pelas Benua 2026 di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) menjadi momentum bagi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutim untuk mendorong pengembangan pariwisata budaya dan membuka peluang ekonomi bagi masyarakat. Melalui pertunjukan seni, olahraga tradisional, dan bazar usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), perhelatan yang berlangsung pada 9–13 Oktober 2026 tersebut diharapkan memberikan manfaat lebih luas bagi pelaku usaha lokal.

Kegiatan yang pertama kali diselenggarakan di Kutim ini merupakan bagian dari peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-27 Kutim. Pembukaan berlangsung di Rumah Adat Kutai Sangatta, Minggu (11/10/2026), dengan menghadirkan berbagai kegiatan budaya yang melibatkan masyarakat.

Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat sekaligus panitia Erau Adat Pelas Benua Kutim 2026, Trisno, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari program unggulan daerah yang diarahkan untuk memajukan kebudayaan, pariwisata, dan ekonomi kerakyatan.

Menurutnya, penyelenggaraan Erau tidak hanya dimaksudkan sebagai kegiatan seremonial, tetapi juga menjadi sarana memperkuat identitas budaya daerah yang dapat mendukung pengembangan sektor pariwisata.

Selain menghadirkan bazar UMKM, panitia menyelenggarakan pertandingan olahraga tradisional dan pertunjukan seni budaya. Kegiatan tersebut memberikan kesempatan bagi pelaku usaha lokal untuk memperkenalkan produk sekaligus memperluas jangkauan pemasaran kepada masyarakat yang menghadiri perhelatan.

Di sisi lain, penyelenggaraan Erau Adat Pelas Benua juga diarahkan untuk menjaga keberlanjutan tradisi masyarakat Kutai di tengah perkembangan pembangunan daerah.

“Sumber daya alam suatu saat bisa habis, namun tradisi dan jati diri bangsa, termasuk Kutai Timur, tidak boleh pudar ditelan zaman. Inilah saripati dari tema kita: adat lestari, tuah benuah, dan etam berjaya,” ujar Trisno.

Ia menilai pembangunan daerah perlu diimbangi dengan upaya mempertahankan warisan budaya agar nilai-nilai tradisi tetap dikenal dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

“Selama 27 tahun kita telah membangun jalan, jembatan, desa, kampung, dan kota. Melalui perhelatan Erau ini, kita sedang membangun kebanggaan, martabat, dan jati diri yang tidak kalah pentingnya, sebagai warisan bagi anak cucu kita,” ungkap Trisno.

Rangkaian Erau Adat Pelas Benua berlangsung selama lima hari, mulai Jumat (09/10/2026) hingga Selasa (13/10/2026), dengan kegiatan yang dipusatkan di Balai Adat Besar Kutai.

Sejumlah ritual adat dilaksanakan sejak hari pertama, meliputi ziarah makam Al Datuk bin Lohom, Haul Jamak, Titi Bending, Ngatur Dahar, Belulu, Merangin, hingga Pelas Benua.

Berbagai ritual tersebut menjadi bagian penting dari penyelenggaraan Erau sekaligus memperlihatkan kekayaan tradisi masyarakat Kutai yang berpotensi dikembangkan sebagai daya tarik wisata budaya daerah.

Rangkaian kegiatan dijadwalkan berakhir dengan prosesi belimbur yang pelaksanaannya disesuaikan secara simbolis dengan kondisi daerah setempat.

Trisno juga menyampaikan apresiasi kepada Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, keluarga kesultanan, serta jajaran pimpinan daerah atas dukungan terhadap penyelenggaraan Erau Adat Pelas Benua Kutim 2026.

Meski demikian, ia mengakui bahwa pelaksanaan perdana kegiatan tersebut masih membutuhkan evaluasi sebagai bahan penyempurnaan pada penyelenggaraan berikutnya.

“Sebagai penyelenggaraan pertama, kami menyadari tentu masih terdapat kekurangan. Catatan evaluasi ini akan menjadi pelajaran berharga untuk perbaikan pelaksanaan di tahun-tahun mendatang,” pungkasnya.

Melalui penyelenggaraan Erau Adat Pelas Benua, Pemkab Kutim berharap kegiatan budaya dapat terus dikembangkan sebagai bagian dari penguatan sektor pariwisata dan ekonomi masyarakat.

Keterlibatan pelaku UMKM, seniman, tokoh adat, dan masyarakat diharapkan menjadi dasar bagi pengembangan kegiatan budaya yang berkelanjutan, sekaligus membuka peluang peningkatan aktivitas ekonomi tanpa mengabaikan nilai-nilai tradisi daerah. []

Penulis: Suryono | Penyunting: Aulia Setyaningrum

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *