Dispar Kutim Jadikan Erau Adat Pelas Benua Magnet Wisata Budaya
Di tengah kebijakan efisiensi anggaran, Dispar Kutim tetap menyelenggarakan Festival Erau Adat Pelas Benua melalui kolaborasi lintas instansi, optimalisasi promosi digital, dan pelibatan 33 UMKM lokal.
ADVERTORIAL – Kebijakan efisiensi anggaran tidak menyurutkan upaya Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Timur (Kutim) dalam melestarikan budaya daerah. Melalui Dinas Pariwisata (Dispar), Pemkab Kutim tetap menyelenggarakan Festival Erau Adat Pelas Benua untuk pertama kalinya sebagai bagian dari peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-27 Kutim, dengan mengoptimalkan kerja sama lintas instansi dan promosi melalui media digital.
Kepala Dinas (Kadis) Pariwisata Kutim, Mahriadi, mengatakan keterbatasan anggaran menjadi tantangan dalam penyelenggaraan festival. Meski demikian, pihaknya tetap berupaya memaksimalkan pelaksanaan kegiatan agar tradisi budaya daerah dapat terus diperkenalkan kepada masyarakat.
“Ya kita Dinas Pariwisata dengan keadaan kondisi daerah yang sekarang seperti ini, semuanya di efisiensi, ya kami tetap bekerja semaksimal mungkin untuk melaksanakan Erau,” ujar Mahriadi saat ditemui di Rumah Besar Adat Kutai, Minggu (11/10/2026).
Untuk menyiasati keterbatasan tersebut, Dispar Kutim mengoptimalkan promosi melalui media sosial dan jaringan media lokal. Strategi ini diharapkan mampu memperluas jangkauan informasi mengenai festival sekaligus menarik minat masyarakat dan wisatawan untuk mengenal kekayaan budaya daerah.
Penyelenggaraan Festival Erau Adat Pelas Benua juga melibatkan sejumlah perangkat daerah dengan pembagian tugas sesuai bidang masing-masing. Dispar Kutim menangani pelaksanaan festival, sedangkan Dinas Pendidikan (Disdik) mendukung kegiatan kebudayaan, Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) berkontribusi melalui olahraga tradisional, serta Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) memfasilitasi keterlibatan pelaku usaha lokal.
Mahriadi menyampaikan bahwa koordinasi antarlembaga menjadi salah satu faktor penting yang mendukung kelancaran kegiatan, mulai dari persiapan hingga pelaksanaan festival.
“Alhamdulillah dari persiapan sampai pelaksanaan lancar. Jadi kita koordinasi, kolaborasi ada dari adat, budaya, terus kemudian Dinas Pendidikan untuk pemangku kebudayaannya, terus kami Dinas Pariwisata untuk festivalnya,” kata Mahriadi.
Selain menghadirkan berbagai pertunjukan seni, termasuk tarian adat yang berkaitan dengan tradisi Kesultanan Kutai Kartanegara dan kesenian lokal Kutim, festival tersebut juga melibatkan 33 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) setempat.
Puluhan UMKM tersebut tercatat dalam program Hak Kekayaan Intelektual (HKI) sektor ekonomi kreatif. Keterlibatan mereka menjadi bagian dari upaya menghubungkan kegiatan pelestarian budaya dengan pengembangan potensi ekonomi masyarakat.
Melalui penyelenggaraan festival, pemerintah daerah berupaya membuka ruang promosi bagi produk lokal sekaligus memperkenalkan potensi wisata berbasis tradisi kepada masyarakat yang lebih luas.
Mahriadi berharap penyelenggaraan Festival Erau Adat Pelas Benua pada tahun-tahun mendatang dapat dikembangkan dengan skala lebih besar. Menurutnya, keterlibatan masyarakat menjadi salah satu aspek penting agar festival tidak hanya menjadi agenda pemerintah, tetapi juga kegiatan budaya yang mendapat dukungan luas.
“Kalau saya sih maunya harapannya Erau ke tahun ke depan mungkin lebih meriah lagi daripada tahun ini. Terus semua masyarakatnya harusnya terlibat,” pungkasnya.
Dengan kolaborasi lintas instansi dan optimalisasi sumber daya yang tersedia, Festival Erau Adat Pelas Benua diharapkan dapat berkembang menjadi agenda wisata budaya berkelanjutan. Penyelenggaraan kegiatan tersebut juga diharapkan mampu memperkuat pelestarian tradisi sekaligus memberikan peluang ekonomi bagi masyarakat Kutim. []
Penulis: Suryono | Penyunting: Aulia Setyaningrum
