Minyak Jelantah Jadi Ladang Cuan Baru Koperasi Desa

0
1793282889_c6e8bfd5ab9ce2021166

BANYUMAS – Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) berpeluang memperoleh tambahan pendapatan dari pengumpulan minyak jelantah dengan margin Rp1.000 hingga Rp1.500 per liter. Program yang mulai diuji coba di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, pada Kamis (29/10/2026) itu juga diarahkan untuk memasok bahan baku produksi bahan bakar penerbangan berkelanjutan atau Sustainable Aviation Fuel (SAF).

Menteri Koperasi Ferry Juliantono mengatakan, koperasi yang siap beroperasi akan didorong menjadi pengumpul minyak jelantah dari masyarakat sebelum menjualnya kepada PT Pertamina Patra Niaga untuk diolah lebih lanjut. Skema tersebut diharapkan membuka sumber pendapatan baru bagi koperasi sekaligus mendukung pengembangan energi alternatif nasional, sebagaimana dilansir Antara, Kamis, (29/10/2026).

“Seluruh KDKMP yang siap beroperasi akan kita dorong menjadi agen pengumpul minyak jelantah untuk dijual kepada PT Pertamina Patra Niaga, yang selanjutnya diolah menjadi bahan bakar pesawat udara berkelanjutan,” katanya dalam peluncuran percontohan pengumpulan minyak jelantah melalui koperasi di Desa Dawuhan Kecamatan Banyumas, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Kamis (29/10/2026).

Dalam skema usaha tersebut, koperasi direncanakan membeli minyak jelantah dari masyarakat seharga Rp5.000 hingga Rp6.000 per liter. Minyak yang terkumpul kemudian dijual kepada Pertamina Patra Niaga dengan harga Rp6.500 hingga Rp7.000 per liter.

“Jadi ada selisih pendapatan yang bisa dijadikan tambahan pendapatan dari Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih,” katanya.

Uji coba program ini dilaksanakan melalui empat KDKMP di Banyumas. Minyak jelantah yang berhasil dihimpun akan dikirim ke kilang Pertamina di Cilacap untuk diproses menjadi bahan bakar penerbangan atau aviation turbine fuel (avtur).

Program tersebut ditandai dengan penandatanganan kerja sama antara Kementerian Koperasi dan PT Pertamina (Persero) oleh Ferry Juliantono dan Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri.

Ferry berharap, pelaksanaan proyek percontohan di Banyumas dapat menjadi model pengumpulan minyak jelantah yang diterapkan lebih luas di seluruh KDKMP di Indonesia. Dengan demikian, koperasi tidak hanya menjalankan kegiatan ekonomi konvensional, tetapi juga berperan dalam rantai pasok bahan baku energi alternatif.

Untuk memperluas pasokan, pengurus koperasi diminta menjaring minyak jelantah dari rumah tangga, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Keterlibatan berbagai kelompok tersebut diharapkan memperbesar volume minyak yang dapat dikumpulkan secara berkelanjutan.

Selain peluang pendapatan, program ini juga diarahkan untuk mengurangi pencemaran lingkungan akibat pembuangan minyak jelantah secara sembarangan. Ferry mengatakan, satu liter minyak jelantah yang dibuang tanpa pengelolaan berpotensi mencemari hingga satu juta liter air bersih.

Untuk mendukung pelaksanaan usaha, Ferry membuka peluang akses permodalan melalui Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) Koperasi maupun program tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility/CSR) Pertamina. Dukungan tersebut diharapkan membantu koperasi menyediakan dana untuk membeli minyak jelantah dari masyarakat.

Ferry mengapresiasi dukungan Pertamina dan berharap kerja sama tersebut mampu memperkuat usaha koperasi, mendorong ekonomi sirkular, serta mendukung kemandirian energi nasional. Selain untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar penerbangan dalam negeri, pengembangan bahan bakar berbasis minyak jelantah juga dinilai berpotensi membuka peluang ekspor pada masa mendatang. []

Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *