Hilirisasi Tak Boleh Berhenti di Produk Antara, Industri Pendukung Harus Tumbuh

0
Screenshot 2026-10-31 102516

JAKARTA – Pengembangan industri pendukung dan keterlibatan pelaku usaha kecil menjadi sasaran lanjutan kebijakan hilirisasi nasional. Pemerintah mendorong pengolahan sumber daya alam tidak berhenti pada produk antara, tetapi berkembang menjadi ekosistem industri yang melibatkan rantai pasok domestik, teknologi, jasa, hingga logistik.

Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji mengatakan, hilirisasi merupakan tahap awal industrialisasi yang harus dilanjutkan hingga menghasilkan barang jadi dan mendorong tumbuhnya berbagai industri pendukung. Hal tersebut disampaikannya dalam Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Kamar Dagang dan Industri (Kadin) di Jakarta, Jumat (30/10/2026).

“Hilirisasi sumber daya alam kita itu adalah titik awal dari industrialisasi. Jadi hilirisasi, kata hilirisasi itu sebenarnya sebuah titik awal dari proses industrialisasi yang akan terus kita kembangkan,” kata Sarmuji.

Menurutnya, keberhasilan industrialisasi tidak cukup dinilai dari besarnya investasi yang masuk. Pemerintah juga perlu memperhatikan peningkatan nilai tambah, penguasaan teknologi, penyerapan tenaga kerja, dan terbentuknya rantai pasok dalam negeri.

Sarmuji mencontohkan pengembangan industri nikel yang telah bergerak dari pengolahan bijih menjadi produk antara, komponen baterai, hingga kendaraan listrik. Rangkaian proses tersebut diharapkan memunculkan industri pendukung sehingga manfaat investasi tidak hanya terkonsentrasi pada satu jenis produk.

Keterhubungan industri dari sektor hulu hingga hilir juga dinilai dapat menciptakan efek berganda bagi perekonomian. Peluang tersebut mencakup peningkatan investasi, penyerapan tenaga kerja, pertumbuhan industri kecil dan menengah (IKM), serta perkembangan sektor permesinan, logistik, dan jasa.

Selain nikel, pemerintah mendorong pengembangan komoditas lain yang dinilai memiliki keunggulan komparatif, antara lain kelapa sawit, rumput laut, sagu, dan keanekaragaman hayati Indonesia.

Sarmuji menilai kekayaan hayati nasional berpeluang menjadi sumber bahan baku industri farmasi. Sejumlah tanaman yang telah dikenal masyarakat, seperti pasak bumi dan kumis kucing, dapat dikembangkan lebih lanjut melalui proses ekstraksi dan penelitian untuk menghasilkan bahan baku obat.

“Syukur-syukur suatu saat keanekaragaman hayati kita ini bisa kita ekstraksi menjadi bahan baku obat yang sekarang kita terus-menerus impor dan jumlahnya sangat besar,” ujarnya.

Potensi pengembangan juga terdapat pada industri kelapa dan rumput laut. Rumput laut, misalnya, dapat diolah menjadi bahan baku untuk produk kosmetik, obat-obatan, serta makanan dan minuman. Pengembangan komoditas tersebut diharapkan memperluas manfaat ekonomi, terutama bagi masyarakat di kawasan pesisir.

Di sisi lain, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong peningkatan penggunaan produk dalam negeri melalui kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Kebijakan ini menjadi salah satu instrumen untuk memperkuat pasar bagi produk industri nasional.

Sarmuji mengungkapkan, berdasarkan penelitian dan simulasi Badan Pusat Statistik (BPS), setiap Rp1 belanja untuk produk dalam negeri dapat memberikan dampak sebesar Rp2,2 terhadap pertumbuhan perekonomian nasional.

Selain itu, substitusi impor senilai Rp400 triliun berpotensi meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 1,71 persen dan menghasilkan tambahan output ekonomi sebesar Rp627,58 triliun.

Penguatan industri nasional juga diarahkan melalui kemitraan antara IKM dan industri besar. Dengan keterhubungan tersebut, pelaku usaha kecil diharapkan dapat masuk ke dalam rantai pasok manufaktur dan memperoleh peluang sebagai bagian dari proses produksi industri berskala besar.

Pengembangan hilirisasi yang disertai perluasan kemitraan, peningkatan penggunaan produk lokal, dan penguatan industri pendukung diharapkan mampu memperbesar nilai tambah sumber daya alam di dalam negeri. Dengan demikian, manfaat industrialisasi dapat menjangkau lebih banyak sektor usaha dan tenaga kerja, bukan hanya perusahaan pengolah bahan mentah. []

Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *