Peretasan Binance Guncang Pasar Kripto

0
kantor-binance

JAKARTA – Guncangan di pasar kripto kali ini bermula dari celah keamanan sebuah bursa, lalu menjalar ke harga aset digital, posisi perdagangan berutang, hingga saham perusahaan yang terkait dengan Bitcoin. Peretasan Binance pada 29 Oktober 2026 memperlihatkan bagaimana masalah di satu platform besar dapat mengguncang kepercayaan dan aliran likuiditas di pasar kripto yang saling terhubung.

Binance memperkirakan insiden itu berdampak sekitar US$6,3 miliar. Dalam pembaruan pada 30 Oktober, perusahaan menyatakan akan menanggung kerugian melalui dana perlindungan pengguna dan kas perusahaan. Binance juga menyebut telah menyiapkan lebih dari US$6,34 miliar untuk menutup dampak insiden, sementara sekitar US$3 miliar aset terkait telah dibekukan melalui kerja sama dengan mitra. Penyebab dan nilai kerugian akhir masih menunggu hasil penyelidikan.

Dampaknya cepat terasa di pasar. Bitcoin sempat turun ke sekitar US$76.368, titik terendah dalam enam pekan, sementara Ether merosot ke level terendah dua bulan. Token BNB juga melemah. Saham Coinbase turun 4,8 persen dan Strategy—perusahaan yang dikenal menyimpan Bitcoin dalam jumlah besar—terkoreksi hampir 6 persen dalam perdagangan lanjutan di Amerika Serikat.

Penurunan harga itu diperkuat oleh mekanisme perdagangan berleverage. Ketika harga bergerak tajam melawan posisi investor, bursa dapat menutup posisi secara otomatis untuk membatasi kerugian. Pada Jumat pagi waktu Asia, likuidasi paksa di pasar kripto mencapai sekitar US$1,53 miliar dalam 24 jam, dengan posisi yang bertaruh harga akan naik menyumbang sekitar US$1,29 miliar. Penutupan posisi tersebut menambah tekanan jual ketika harga sedang turun.

Efek ekonomi yang lebih luas muncul melalui jalur kepercayaan dan likuiditas. Binance merupakan salah satu pusat perdagangan aset digital terbesar. Jika layanan penarikan atau pemindahan dana terganggu, pelaku pasar—termasuk pembuat pasar yang memindahkan modal antarbursa—dapat kesulitan menjaga kelancaran transaksi. Kondisi ini berpotensi memperlebar selisih harga beli dan jual, mengurangi kedalaman pasar, serta membuat perubahan harga lebih tajam. Sejumlah analis yang dikutip Reuters menilai gangguan operasional semacam itu dapat menekan likuiditas lintas platform.

Rambatan ke pasar saham menunjukkan bahwa guncangan tersebut tidak berhenti pada aset kripto. Saham perusahaan yang pendapatannya bergantung pada perdagangan aset digital atau yang memiliki eksposur besar terhadap Bitcoin ikut sensitif terhadap perubahan harga dan sentimen. Namun, penurunan saham Coinbase dan Strategy dalam laporan Reuters adalah reaksi pasar terhadap insiden dan tekanan yang sudah ada, bukan bukti bahwa seluruh pasar keuangan tradisional mengalami krisis akibat peretasan tersebut. Reuters juga mencatat sektor kripto sebelumnya telah menghadapi tekanan dari suku bunga Amerika Serikat yang tinggi dan permintaan yang lebih lunak terhadap produk dana investasi berbasis kripto.

Bagi investor, persoalan utamanya bukan hanya nilai aset yang berpindah, melainkan kepastian apakah dana dapat dipulihkan dan apakah bursa mampu menjaga akses pengguna. Pembekuan sebagian aset memberi ruang bagi upaya pemulihan, sementara janji Binance untuk menanggung kerugian ditujukan untuk meredam kekhawatiran nasabah. Meski demikian, klaim mengenai cakupan kerugian dan keamanan dana pengguna tetap perlu dibaca sebagai keterangan perusahaan selama penyelidikan berlangsung.

Peristiwa ini juga memperlihatkan peran penting kerja sama antara bursa, penerbit stablecoin, perusahaan analisis blockchain, dan aparat penegak hukum. Sebagian aset dapat dibekukan melalui koordinasi tersebut, tetapi tidak semua jenis aset memiliki mekanisme pembekuan yang sama. Karena itu, pemulihan dana dan penelusuran aliran aset dapat berlangsung berbeda-beda menurut jaringan dan jenis tokennya.

Seberapa jauh guncangan ini akan merembet ke perekonomian makro masih belum dapat dipastikan. Pasar kripto memang makin terhubung dengan perusahaan terbuka dan produk investasi, tetapi data yang tersedia sejauh ini lebih kuat menunjukkan tekanan pada ekosistem aset digital dan saham terkait daripada dampak langsung terhadap kegiatan ekonomi secara luas. Ukuran dampak berikutnya akan bergantung pada pemulihan aset, kelancaran operasi Binance, perilaku investor, serta apakah regulator dan pelaku industri memperketat pengawasan dan standar keamanan.

Peretas Korea Utara

Sejumlah perusahaan analisis blockchain mengaitkan serangan tersebut dengan TraderTraitor, kelompok peretas yang diduga terkait Korea Utara. TRM Labs menyatakan atribusi itu didasarkan pada informasi on-chain dan off-chain, dengan tingkat keyakinan tinggi. Elliptic juga menilai pelaku kemungkinan terkait Korea Utara, antara lain karena pola serangan dan pergerakan dana memiliki kemiripan dengan sejumlah pencurian kripto sebelumnya. Namun, Binance belum mengumumkan identitas pelaku, dan atribusi tersebut belum dikonfirmasi secara resmi oleh aparat penegak hukum.

Dalam penyelidikan awal, Binance menduga laptop seorang insinyur DevOps telah dikompromikan. Menurut keterangan perusahaan, akses melalui laptop itu memungkinkan penyerang masuk ke service container dan mengirim transaksi penarikan tanpa izin. Binance menyatakan belum menemukan bukti bahwa kunci privat dompet bocor. Namun, dalam pembaruan berikutnya, perusahaan mengatakan penyelidikan menemukan “titik-titik pelanggaran tambahan” tanpa merinci bagaimana titik tersebut digunakan. Karena itu, laptop insinyur merupakan petunjuk awal, bukan penjelasan lengkap tentang seluruh rangkaian serangan.

Analisis TRM Labs memberi gambaran tambahan mengenai transaksi di jaringan Ethereum: penyerang diduga memanfaatkan fitur EIP-7702 dan otorisasi yang telah disiapkan sebelumnya untuk mengarahkan dompet panas Binance menjalankan kontrak yang memindahkan aset. TRM menilai pola transaksi lintas jaringan juga mengarah pada kemungkinan kompromi terhadap infrastruktur penandatangan transaksi. Rincian teknis ini merupakan analisis perusahaan pelacak blockchain; Binance belum mengonfirmasi mekanisme tersebut dan masih menyelidiki urutan serangan secara menyeluruh.

Track Record Binance

Binance bermula pada Juli 2017 sebagai bursa aset kripto yang didirikan Changpeng Zhao, yang dikenal sebagai CZ, bersama Yi He dan Heina Chen. Kini perusahaan itu beroperasi sebagai ekosistem global yang mencakup perdagangan aset digital, layanan keuangan kripto, pembayaran, penyimpanan aset, dan layanan Web3. Binance menyebut jumlah penggunanya telah melampaui 300 juta pada 2025.

Produknya meliputi perdagangan spot, margin, futures, dan opsi; pembelian dan konversi aset kripto; perdagangan peer-to-peer (P2P); Binance Earn; Binance Pay; Binance Wallet; serta layanan untuk pengguna institusional. Platform ini juga menjalankan Launchpool dan layanan pendidikan serta riset melalui Binance Academy dan Binance Research. Ketersediaan produk berbeda menurut negara dan ketentuan regulator setempat.

Binance belum menjadi perusahaan terbuka dan saham Binance tidak diperdagangkan di bursa saham. Pada Maret 2025, perusahaan mengumumkan investasi US$2 miliar dari MGX, perusahaan investasi teknologi yang berbasis di Abu Dhabi. Binance menyebut investasi itu memberikan MGX kepemilikan minoritas, tetapi tidak mengungkap persentase saham maupun struktur kepemilikan lengkap. Departemen Kehakiman Amerika Serikat sebelumnya menyebut CZ sebagai pendiri, pemilik, dan CEO Binance dalam perkara hukum 2023; CZ kemudian mengundurkan diri sebagai CEO. Karena Binance tidak memublikasikan tabel kepemilikan seperti perusahaan terbuka, persentase kepemilikan para pemegang sahamnya tidak dapat dipastikan dari informasi publik yang tersedia.

Operasi Binance dijalankan melalui sejumlah badan hukum di berbagai yurisdiksi, bukan satu perusahaan operasional tunggal untuk seluruh layanan. Di Abu Dhabi Global Market, misalnya, layanan Binance.com dijalankan melalui tiga entitas berizin: Nest Exchange Limited untuk kegiatan bursa, Nest Clearing and Custody Limited untuk kliring dan kustodi, serta Nest Trading Limited untuk sejumlah kegiatan perdagangan dan layanan keuangan. Binance juga mencantumkan badan usaha berizin atau terdaftar di sejumlah negara. Daftar tersebut adalah bagian dari struktur operasi dan regulasi grup; tidak seluruhnya dapat disebut anak perusahaan tanpa memeriksa hubungan kepemilikan masing-masing entitas.

Ketahanan Aset

Binance menyatakan saldo aset pengguna yang tercakup dalam Proof of Reserves mencapai sekitar US$162,8 miliar pada awal 2026. Angka itu merujuk pada aset pengguna dalam kustodi dan bukan nilai aset perusahaan atau laporan neraca konsolidasi Binance. Binance menyatakan Proof of Reserves menunjukkan aset pengguna didukung 1:1, tetapi ukuran itu merupakan bukti cadangan dan saldo pengguna—bukan pengganti laporan keuangan perusahaan yang diaudit dan mencakup seluruh kewajiban.

Pada pembaruan setelah peretasan, Binance menyatakan telah menyiapkan lebih dari US$6,34 miliar dari dana perusahaan untuk menutup kerugian insiden, termasuk sekitar US$5 miliar dalam aset kripto yang terdampak. Angka ini adalah komitmen pendanaan untuk merespons insiden, bukan pengungkapan total aset bersih perusahaan. []

Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *