Wall Street Ambruk! Nasdaq Anjlok 2,86 Persen, Saham Teknologi Tertekan
NEW YORK – Kekhawatiran investor terhadap besarnya belanja perusahaan teknologi untuk pengembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) memicu aksi jual besar-besaran di Wall Street, Amerika Serikat (AS), Jumat (30/10/2026). Indeks Nasdaq Composite mengalami penurunan harian 2,86 persen, menjadi koreksi terdalam sejak 5 Juni 2026, setelah laporan kinerja kuartalan Intel dan Amazon tidak memenuhi ekspektasi pasar.
Tekanan tersebut memperlihatkan meningkatnya kehati-hatian investor dalam menilai prospek bisnis AI, terutama terkait kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan dari investasi teknologi yang membutuhkan belanja modal besar.
Nasdaq yang didominasi saham teknologi ditutup pada posisi 25.437,00, turun 747,73 poin. Indeks tersebut juga telah terkoreksi 7,8 persen dari rekor penutupan tertinggi sepanjang masa yang dicapai pada 6 Oktober 2026.
Pelemahan turut terjadi pada dua indeks utama lainnya. Dow Jones Industrial Average turun 572,25 poin atau 1,09 persen menjadi 51.770,31, sedangkan Standard & Poor’s 500 (S&P 500) merosot 140,32 poin atau 1,82 persen ke level 7.580,07.
Aksi jual saham teknologi dipicu laporan keuangan kuartalan Intel dan Amazon yang dirilis pada Kamis malam. Saham Intel menjadi salah satu yang paling terpukul dengan penurunan mencapai 28,6 persen. Sementara itu, saham Amazon sempat memperkecil penurunannya selama perdagangan berlangsung.
Tekanan juga menjalar ke produsen semikonduktor. Saham Nvidia turun 4,2 persen, sedangkan Advanced Micro Devices (AMD) anjlok 10,9 persen. Indeks sektor semikonduktor secara keseluruhan melemah 7,2 persen dan mencatatkan penurunan bulanan lebih dari 15 persen.
Penurunan juga menimpa produsen perangkat keras dan server. Saham Dell terkoreksi 10,8 persen, sementara Hewlett-Packard (HP) turun 9,6 persen.
Wakil Presiden Senior Wealthspire Advisors di New York, Oliver Pursche, menilai perhatian pasar sepanjang pekan tidak hanya tertuju pada hasil keuangan perusahaan, tetapi juga prospek jangka panjang pengembangan AI.
“Bisa dikatakan bahwa minggu ini—bukan hanya hari ini—lebih banyak membahas tentang masa depan AI dan akan seperti apa nantinya; apakah akan ada imbal hasil investasi yang positif, dan jika ada, seberapa cepat hal itu akan terwujud,” ujar Oliver Pursche, sebagaimana dikutip Reuters, Sabtu, (31/10/2026).
Pursche menjelaskan, perusahaan yang mampu mempertahankan kinerja dan memenuhi ekspektasi tinggi investor masih mendapatkan respons positif dari pasar. Sebaliknya, emiten yang gagal mencapai target harus menghadapi konsekuensi berupa tekanan harga saham.
“Perusahaan-perusahaan yang kinerjanya kurang memuaskan, tidak mencapai target, atau gagal memenuhi ekspektasi, kini harus menanggung konsekuensinya,” ujarnya.
Pelemahan pada Jumat memperpanjang tekanan terhadap pasar saham AS sepanjang pekan terakhir Oktober 2026. Ketiga indeks utama Wall Street mengakhiri perdagangan mingguan di zona merah.
Secara bulanan, S&P 500 dan Nasdaq mencatatkan penurunan, sedangkan Dow Jones masih mampu mengakhiri Oktober dengan kenaikan.
Sektor teknologi dalam indeks S&P 500 mengalami penurunan persentase bulanan terbesar sejak Maret 2025. Sementara itu, sektor layanan komunikasi mencatatkan penurunan bulanan terdalam sejak April 2022.
Tekanan tersebut terjadi ketika musim publikasi laporan keuangan kuartal ketiga perusahaan masih berlangsung. Dari 500 perusahaan yang tergabung dalam indeks S&P 500, sebanyak 299 perusahaan telah menyampaikan laporan keuangannya.
Data London Stock Exchange Group (LSEG) menunjukkan, sekitar 82 persen perusahaan yang telah melaporkan kinerja berhasil melampaui ekspektasi konsensus analis.
Di tengah tekanan pasar, analis masih memperkirakan pertumbuhan laba perusahaan dalam indeks S&P 500 mencapai 31,6 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy) pada kuartal ketiga.
Tidak seluruh sektor mengalami pelemahan. Saham perusahaan energi justru mencatatkan penguatan setelah Exxon Mobil dan Chevron melaporkan laba kuartalan yang melampaui ekspektasi pasar.
Kedua perusahaan minyak tersebut memperoleh keuntungan dari peningkatan margin akibat gangguan pasokan energi yang berkaitan dengan konflik Amerika Serikat dan Israel dengan Iran, serta perang Rusia di Ukraina.
Saham Exxon Mobil naik 2,2 persen, sedangkan Chevron menguat 2,8 persen.
Sebaliknya, saham Starbucks turun 1,8 persen setelah jaringan kedai kopi tersebut memperkirakan pendapatan tahunan mengalami penurunan menyusul divestasi bisnisnya di Tiongkok.
Tekanan lebih besar juga dialami perusahaan yang bergerak dalam industri mata uang kripto. Saham Coinbase, MicroStrategy, dan Robinhood masing-masing mengalami penurunan dalam rentang 7,2 hingga 10,6 persen.
Pelemahan tersebut terjadi setelah muncul laporan peretasan yang disebut mengakibatkan kehilangan dana sebesar 6,3 miliar dolar AS dari Binance, bursa mata uang kripto terbesar di dunia.
Besarnya tekanan pasar juga terlihat dari perbandingan jumlah saham yang mengalami penurunan dan kenaikan.
Di New York Stock Exchange (NYSE), jumlah saham yang melemah mencapai 1,8 kali jumlah saham yang menguat. Sebanyak 169 saham mencatatkan level tertinggi baru, sedangkan 377 saham menyentuh level terendah baru.
Di Nasdaq, sebanyak 1.196 saham mengalami kenaikan dan 3.622 saham mengalami penurunan. Dengan demikian, jumlah saham yang melemah mencapai 3,03 kali lebih banyak dibandingkan saham yang menguat.
Indeks S&P 500 mencatatkan 43 saham pada level tertinggi baru dalam 52 minggu terakhir dan lima saham pada level terendah baru. Sementara itu, Nasdaq Composite membukukan 70 level tertinggi baru dan 355 level terendah baru.
Aktivitas transaksi juga meningkat di tengah gelombang aksi jual. Volume perdagangan gabungan di bursa saham AS mencapai 19,87 miliar lembar saham, lebih tinggi dibandingkan rata-rata harian 17,26 miliar lembar saham dalam 20 hari perdagangan terakhir.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa investor semakin selektif dalam menentukan perusahaan yang memiliki prospek pertumbuhan dan kemampuan menghasilkan keuntungan secara berkelanjutan. Ke depan, realisasi keuntungan dari investasi AI serta kemampuan emiten memenuhi ekspektasi kinerja keuangan akan menjadi faktor penting yang memengaruhi arah pergerakan saham teknologi di Wall Street. []
Redaksi01
