Wall Street Tertekan, Investor Mulai Ragukan Bisnis AI

0
dUB6X9Pxa0

NEW YORK – Kekhawatiran investor terhadap besarnya kebutuhan modal untuk pengembangan infrastruktur kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) mulai membayangi prospek perusahaan teknologi Amerika Serikat (AS). Tekanan tersebut membuat dua indeks utama Wall Street, S&P 500 dan Nasdaq Composite, berakhir di zona merah pada perdagangan Senin (02/11/2026), meskipun Dow Jones Industrial Average berhasil mencatat penguatan.

Penurunan tersebut mencerminkan meningkatnya kehati-hatian pasar terhadap kemampuan perusahaan teknologi mengubah investasi besar di sektor AI menjadi keuntungan nyata. Investor mulai mempertanyakan apakah belanja infrastruktur yang terus membengkak sebanding dengan potensi pendapatan yang dapat dihasilkan dalam waktu dekat.

Mengutip Reuters, S&P 500 terkoreksi 0,51% menjadi 7.541,40, sedangkan Nasdaq Composite melemah lebih dalam sebesar 1,07% ke posisi 25.164,32. Sebaliknya, Dow Jones Industrial Average menguat 0,41% dan ditutup pada level 51.983,98.

Tekanan terhadap saham teknologi juga memperpanjang tren pelemahan Nasdaq setelah indeks tersebut kehilangan 5,3% sepanjang Oktober.

CEO Longbow Asset Management Jake Dollarhide menilai perusahaan teknologi perlu lebih cermat menentukan batas pengeluaran untuk pengembangan AI agar investasi yang dilakukan benar-benar memberikan manfaat bagi pemegang saham.

“Pada titik tertentu, tidak ada lagi nilai tambah yang dihasilkan, melainkan hanya tambahan biaya,” ujarnya.

Kekhawatiran terhadap pembiayaan investasi AI terlihat dari pergerakan saham Oracle yang anjlok hampir 9%. Tekanan muncul setelah dokumen regulator mengungkap rencana perusahaan menghimpun dana sebesar US$20 miliar melalui penerbitan utang dan saham.

Rencana tersebut memunculkan kekhawatiran mengenai semakin besarnya ketergantungan perusahaan teknologi terhadap pembiayaan eksternal untuk membangun infrastruktur AI, terutama di tengah meningkatnya biaya pinjaman.

Tekanan serupa terjadi pada Marvell Technology. Saham perusahaan itu merosot 13% setelah mengumumkan rencana akuisisi produsen komponen optik Lumentum senilai US$115 miliar melalui transaksi saham yang juga mencakup utang. Saham Lumentum bahkan terpuruk 18,6%.

Sementara itu, saham Intel turun 8,8%, melanjutkan tekanan setelah sebelumnya anjlok 29% pada Jumat. Penurunan tersebut berkaitan dengan proyeksi pendapatan kuartalan yang berada di bawah ekspektasi pasar serta pernyataan perusahaan bahwa arus kas positif belum diperkirakan tercapai tahun ini.

Tekanan juga membayangi sejumlah perusahaan teknologi lainnya. Saham Palantir melemah 3,1% menjelang pengumuman laporan keuangan, sedangkan Advanced Micro Devices (AMD) terkoreksi 7,5% sebelum merilis kinerja keuangan pada Selasa.

Di tengah pelemahan tersebut, sejumlah saham perusahaan besar masih mampu bertahan. Amazon menguat 2,2% dan Tesla naik 1%. Adapun Apple ditutup melemah 1,5% menjelang pengumuman laporan keuangan kuartalannya.

Namun, setelah perdagangan reguler berakhir, Apple melaporkan kinerja yang melampaui ekspektasi pasar. Hasil positif tersebut ditopang kuatnya permintaan awal terhadap lini iPhone 18 Pro serta kenaikan harga produk yang membantu mengimbangi peningkatan biaya chip memori. Setelah pengumuman itu, saham Apple bergerak relatif stabil.

Dari sisi sektoral, tujuh dari 11 sektor dalam S&P 500 justru mencatat penguatan. Sektor barang konsumsi nonprimer memimpin kenaikan sebesar 2,25%, disusul sektor material yang menguat 1,83%. Sebaliknya, sektor energi menjadi salah satu pemberat pasar setelah terkoreksi 4%.

Pergerakan harga minyak turut memengaruhi dinamika perdagangan. Harga minyak mentah dan Brent mengalami penurunan seiring munculnya optimisme terhadap peluang kesepakatan damai antara AS dan Iran setelah konflik di Timur Tengah berlangsung selama delapan bulan. Iran menyatakan terbuka terhadap pembicaraan damai.

Perkembangan geopolitik tersebut juga mendorong penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor panjang, sehingga memberikan pengaruh terhadap sentimen pasar keuangan.

Selain perkembangan geopolitik, investor turut mencermati pemilihan paruh waktu AS yang berlangsung Selasa. Hasil pemilihan tersebut akan menentukan peluang Partai Demokrat merebut kendali Kongres dari Partai Republik yang dipimpin Presiden Donald Trump.

Di tengah ketidakpastian pasar, prospek laba perusahaan sebenarnya masih menunjukkan pertumbuhan. Data London Stock Exchange Group (LSEG) memperkirakan laba perusahaan dalam indeks S&P 500 pada kuartal III-2026 tumbuh lebih dari 30% secara tahunan. Namun, sebagian besar pertumbuhan tersebut masih ditopang perusahaan-perusahaan besar di sektor AI.

Setelah mengalami koreksi dalam beberapa waktu terakhir, valuasi S&P 500 berada di kisaran 19 kali proyeksi laba. Posisi tersebut menjadi yang terendah sejak 2023.

Aktivitas perdagangan pada Senin juga tergolong ramai. Volume transaksi mencapai 18,8 miliar saham, melampaui rata-rata 17,3 miliar saham dalam 20 sesi perdagangan sebelumnya.

Perkembangan ini menunjukkan bahwa besarnya investasi AI kini menjadi salah satu faktor penting yang diperhitungkan investor dalam menilai prospek perusahaan teknologi. Ke depan, kemampuan emiten membuktikan bahwa belanja infrastruktur tersebut mampu menghasilkan pendapatan dan arus kas berkelanjutan akan menjadi penentu kepercayaan pasar terhadap sektor teknologi. []

Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *