PMI Manufaktur Tertinggi 31 Bulan, Peluang Industri Daerah Terbuka
JAKARTA – Pengolahan komoditas unggulan daerah seperti sagu, alga, dan kelapa berpeluang menjadi sumber pertumbuhan baru bagi industri kecil dan menengah (IKM). Pemerintah bersama Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mendorong penguatan rantai pasok agar pelaku usaha daerah dapat terhubung dengan industri berskala besar dan memperoleh nilai tambah dari sumber daya lokal.
Peluang tersebut mengemuka dalam audiensi Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji dengan Kadin Indonesia di Jakarta, Senin (02/11/2026). Pertemuan itu berlangsung ketika sejumlah indikator menunjukkan aktivitas manufaktur nasional masih berada dalam fase ekspansi.
Sarmuji menilai keragaman sumber daya alam dan komoditas unggulan di berbagai daerah menjadi keunggulan Indonesia yang perlu dikembangkan melalui kerja sama pemerintah dan dunia usaha. Menurut dia, jaringan Kadin yang mencakup perusahaan besar hingga pelaku usaha daerah dapat dimanfaatkan untuk memperkuat keterkaitan antarpelaku industri.
Ia juga mengapresiasi komitmen Kadin dalam mendorong pengembangan IKM sebagai bagian dari ekosistem industrialisasi nasional. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu meningkatkan daya saing pelaku usaha sekaligus memperkuat hubungan antara industri kecil dan perusahaan berskala besar.
Dorongan itu berlangsung di tengah membaiknya indikator manufaktur. Indeks Kepercayaan Industri (IKI) pada Oktober 2026 tercatat sebesar 53,77, sedangkan Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang dirilis S&P Global mencapai 54,0.
Kedua indikator berada di atas ambang 50, yang menandakan aktivitas manufaktur mengalami ekspansi. Bahkan, capaian PMI manufaktur pada Oktober 2026 menjadi yang tertinggi dalam 31 bulan terakhir.
“Ini menunjukkan bahwa kepercayaan investor terhadap Indonesia sedang baik. Saatnya momentum tersebut kita manfaatkan untuk mendorong industri agar tumbuh lebih tinggi lagi,” ucap Sarmuji.
Sementara itu, Ketua Umum (Ketum) Kadin Indonesia Anindya Bakrie menilai ekspansi manufaktur menjadi sinyal positif bagi penguatan industrialisasi nasional. Kadin, kata dia, berkomitmen mendukung agenda tersebut melalui semangat Indonesia Incorporated yang didorong Presiden Prabowo Subianto.
Anindya menekankan industrialisasi tidak semestinya hanya berpusat pada proyek besar dan berteknologi tinggi, seperti hilirisasi nikel menjadi bahan baku baterai. Pengolahan komoditas unggulan daerah juga dinilai memiliki peluang besar untuk menciptakan nilai tambah dan memperluas kesempatan usaha.
Komoditas seperti sagu, alga, dan kelapa dapat dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi lebih tinggi. Pengembangan sektor tersebut sekaligus membuka ruang bagi IKM di daerah untuk meningkatkan kapasitas produksi dan memperluas skala usaha.
Anindya turut mengapresiasi upaya Kementerian Perindustrian (Kemenperin) dalam membangun keterkaitan dan kesesuaian (link and match) antara kebutuhan industri dengan pengembangan kapasitas pelaku usaha.
Menurut dia, sinergi pemerintah dan Kadin perlu terus diperkuat agar manfaat industrialisasi tidak hanya dinikmati perusahaan besar, tetapi juga menjangkau pelaku IKM di berbagai daerah. Penguatan kemitraan dan pengolahan sumber daya lokal diharapkan menjadi jalan untuk membangun struktur industri nasional yang lebih inklusif dan berkelanjutan. []
Redaksi01
