BUMD Banten Gandeng Perusahaan Korea, Investasi Pabrik Pangan Rp10 Miliar Dibidik
SERANG – Kerja sama industri pangan internasional berpotensi membuka babak baru pengembangan sektor pertanian di Provinsi Banten. Melalui kemitraan antara PT Agrobisnis Banten Mandiri (ABM) dan perusahaan pangan asal Korea Selatan, PT Daesang Food Indonesia, komoditas lokal seperti cabai, tomat, dan gula aren diarahkan untuk memasuki rantai industri pengolahan berorientasi ekspor.
Tidak hanya menyerap hasil panen petani, kerja sama tersebut juga membuka peluang pembangunan pabrik pengolahan pangan di Banten. Investasi tahap awal untuk merealisasikan rencana tersebut diperkirakan mencapai Rp5 miliar hingga Rp10 miliar.
Kesepakatan awal kedua perusahaan ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) oleh Direktur Utama (Dirut) PT ABM, Asep Kurnia, bersama perwakilan PT Daesang Food Indonesia. Penandatanganan berlangsung di Gedung Negara Provinsi Banten, Kota Serang, Selasa (03/11/2026), dan disaksikan Gubernur Banten Andra Soni.
Dirut PT ABM, Asep Kurnia, mengatakan perusahaan akan memulai kerja sama dengan memasok sekitar empat ton cabai dan tomat setiap bulan. Volume tersebut menjadi tahap awal untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri pangan yang memiliki permintaan jauh lebih besar.
“Kebutuhan Daesang Food Indonesia sebagai perusahaan internasional sangat besar, mencapai ratusan ton per bulan untuk pasar ekspor. Namun, untuk kuantitas pemesanan minimum kami ditargetkan menyuplai 4 ton per bulan,” kata Asep, Selasa (03/11/2026).
“Jumlah pasokan itu tentu akan terus meningkat seiring kesiapan produksi kita,” imbuhnya.
Untuk memenuhi kebutuhan bahan baku secara berkelanjutan, PT ABM menyiapkan strategi pengembangan produksi melalui pembukaan perkebunan cabai dan tomat secara mandiri. Perusahaan juga berencana memperkuat koordinasi dengan Dinas Pertanian Provinsi Banten dan Dinas Pendidikan Provinsi Banten.
Salah satu langkah yang disiapkan adalah melibatkan pelajar Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) bidang pertanian dalam kegiatan produksi komoditas yang dibutuhkan perusahaan. Skema tersebut diharapkan dapat menghubungkan pendidikan vokasi dengan kebutuhan nyata industri pangan.
“Kita juga berencana melibatkan siswa-siswa SMK Pertanian di Banten untuk menanam dan memproduksi komoditas cabai dan tomat sesuai kebutuhan perusahaan,” ujarnya.
Selain membuka peluang pasar bagi hasil pertanian, kemitraan tersebut juga diarahkan untuk mendorong transfer pengetahuan dan teknologi pengolahan pangan kepada masyarakat. Dengan demikian, petani dan pelaku usaha lokal diharapkan tidak hanya berperan sebagai pemasok bahan mentah, tetapi juga memperoleh kesempatan terlibat dalam rantai produksi industri bernilai tambah.
Asep menilai penjajakan dengan perusahaan asal Korea Selatan tersebut memiliki prospek besar karena tidak mudah bagi produk pertanian daerah untuk menembus kebutuhan industri berskala internasional.
“Ini merupakan penjajakan pertama PT ABM dengan PT Daesang Food Indonesia, prospeknya sangat besar karena tidak mudah menembus industri besar skala internasional. Dan kami berharap kemitraan ini dapat membangkitkan ekosistem pertanian di Banten, serta meningkatkan kesejahteraan para petani lokal,” paparnya.
Sementara itu, Direktur Pemasaran PT Daesang Food Indonesia, Lim Byoungik, menyebut kualitas hasil pertanian Banten menjadi salah satu pertimbangan perusahaan dalam menjalin kemitraan. Menurut dia, komoditas yang tersedia dinilai memenuhi standar kebutuhan industri pengolahan pangan.
“Kami memilih Banten karena kualitas komoditasnya lebih baik. Bahan-bahan seperti cabai, tomat hingga gula aren akan diolah menjadi berbagai produk seperti pasta cabai, bubuk cabai dan pasta tomat untuk dipasarkan,” ucap Lim.
Melalui kerja sama tersebut, cabai, tomat, dan gula aren dari Banten berpeluang diolah menjadi produk pangan seperti pasta cabai, bubuk cabai, dan pasta tomat sebelum dipasarkan ke pasar yang lebih luas, termasuk pasar ekspor.
Jika rencana peningkatan pasokan, investasi pabrik, dan transfer teknologi dapat direalisasikan, kemitraan ini berpotensi memperkuat keterkaitan antara sektor pertanian, pendidikan vokasi, dan industri pengolahan. Keberlanjutan produksi serta peningkatan kapasitas petani menjadi faktor penting agar peluang pasar internasional tersebut dapat memberikan manfaat ekonomi jangka panjang bagi masyarakat Banten. []
Redaksi01
