Wall Street Terbelah, Nasdaq Menguat dan Dow Jones Melemah

0
Wall Street Terbelah, Nasdaq Menguat dan Dow Jones Melemah

NEW YORK – Saham-saham perusahaan semikonduktor dan teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI) kembali menjadi incaran investor di Wall Street. Penguatan tersebut mendorong indeks Nasdaq naik 0,83 persen ke level 25.372,01 pada penutupan perdagangan Selasa (03/11/2026), di tengah meningkatnya perhatian pasar terhadap hasil pemilu paruh waktu Amerika Serikat (AS) yang berpotensi memengaruhi arah kebijakan ekonomi pemerintahan Donald Trump.

Berbeda dengan Nasdaq, pergerakan dua indeks utama lainnya cenderung berlawanan. Indeks S&P 500 menguat 0,36 persen ke posisi 7.568,92, sedangkan Dow Jones Industrial Average terkoreksi 0,38 persen ke level 51.787,04. Perbedaan tersebut memperlihatkan bahwa penguatan pasar belum merata dan masih terkonsentrasi pada sejumlah saham teknologi.

Kenaikan Nasdaq terutama ditopang aksi beli terhadap saham produsen semikonduktor setelah sektor tersebut mengalami tekanan dalam beberapa sesi perdagangan sebelumnya. Saham Nvidia melonjak 2,3 persen dan Micron Technology naik 2,6 persen. Indeks Semikonduktor Philadelphia juga mencatat penguatan.

Sentimen positif turut menjalar ke perusahaan teknologi besar. Saham Microsoft dan Amazon masing-masing menguat lebih dari 2 persen. Sementara itu, saham Advanced Micro Devices (AMD) bergerak naik menjelang publikasi laporan keuangan kuartalan perusahaan.

Chief Executive Officer (CEO) Infrastructure Capital Management Jay Hatfield menilai pergerakan tersebut menunjukkan perubahan preferensi investor yang mulai mengalihkan dana dari saham teknologi berisiko relatif rendah menuju perusahaan semikonduktor dengan tingkat risiko lebih tinggi.

“Ini merupakan rotasi dari saham teknologi yang lebih aman seperti Apple ke saham yang lebih berisiko seperti produsen chip,” ujarnya, sebagaimana diberitakan Reuters, Selasa (03/11/2026).

Perubahan strategi investasi tersebut terlihat dari pelemahan saham Apple yang terkoreksi 1,9 persen. Penurunan terjadi setelah perusahaan memperingatkan kenaikan biaya chip memori yang berpotensi menggerus margin kotor pada kuartal liburan akhir tahun.

Tekanan di sektor teknologi juga belum sepenuhnya berakhir. Indeks Nasdaq 100 sebelumnya telah mengalami koreksi lebih dari 10 persen dibandingkan rekor penutupan tertingginya pada 6 Oktober 2026.

Kondisi tersebut mencerminkan kekhawatiran investor terhadap besarnya belanja infrastruktur AI yang belum sepenuhnya diimbangi kemampuan perusahaan menghasilkan arus kas dalam waktu dekat. Persoalan ini semakin menjadi perhatian setelah laporan keuangan kuartalan Amazon dan Alphabet memperlihatkan besarnya investasi yang dialokasikan untuk pengembangan teknologi AI.

Saham Palantir Technologies juga mengalami pelemahan meskipun perusahaan perangkat lunak analitik berbasis AI tersebut membukukan kinerja kuartal III yang melampaui ekspektasi pasar. Proyeksi pendapatan kuartal IV yang berada di atas perkiraan analis ternyata belum cukup mendorong penguatan sahamnya.

Di luar perkembangan industri teknologi, hasil pemilu paruh waktu AS menjadi perhatian penting pelaku pasar. Pemungutan suara tersebut dinilai dapat menentukan keseimbangan kekuasaan di Kongres sekaligus memengaruhi pelaksanaan agenda pemerintahan Presiden Donald Trump selama dua tahun pertama masa jabatan keduanya.

Hasil pemilu berpotensi membawa perubahan terhadap kebijakan fiskal, regulasi, perpajakan, hingga belanja pemerintah. Sejumlah jajak pendapat dan analis independen memperkirakan Partai Demokrat memiliki peluang merebut kendali Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dari Partai Republik. Namun, persaingan untuk menguasai Senat masih belum menunjukkan kepastian.

Chief Executive Officer (CEO) Mahoney Asset Management Ken Mahoney menilai hasil pemilu dapat membantu investor memperkirakan arah kebijakan pemerintah sekaligus mengurangi ketidakpastian politik yang selama ini memengaruhi keputusan investasi.

Sementara itu, tekanan masih terlihat pada sejumlah sektor di luar teknologi. Sebanyak enam dari 11 sektor utama dalam indeks S&P 500 ditutup melemah. Sektor barang konsumsi primer turun 1,76 persen, sedangkan sektor material terkoreksi 1,75 persen.

Pada perdagangan saham individual, Gartner mencatat penurunan paling tajam sebesar 13,2 persen setelah merilis laporan keuangan kuartalannya. Saham Thomson Reuters dan Shopify yang diperdagangkan di bursa AS juga masing-masing merosot 9,9 persen dan 8,7 persen.

Di pasar komoditas, harga minyak turut melemah seiring perhatian investor terhadap pembicaraan untuk mengakhiri perang di Ukraina dan Iran. Meski demikian, risiko gangguan pasokan akibat serangan dalam kedua konflik tersebut masih menjadi faktor yang membayangi pergerakan harga energi global.

Perkembangan pasar saham Wall Street selanjutnya akan dipengaruhi oleh kombinasi kinerja perusahaan teknologi, kemampuan industri AI menghasilkan keuntungan dari investasi besar, serta arah kebijakan ekonomi AS setelah hasil pemilu paruh waktu diketahui. Kondisi tersebut membuat investor perlu mencermati apakah penguatan saham semikonduktor dapat berlanjut atau hanya menjadi pemulihan sementara di tengah ketidakpastian pasar. []

Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *