IHSG Dibuka Anjlok, JPFA Terkoreksi Paling Dalam di LQ45

0
ihsg-melemah

JAKARTA – Tekanan jual di pasar saham domestik meningkat pada awal perdagangan Jumat (06/11/2026), setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot 1,38 persen hingga menyentuh level 4.960,73. Pelemahan tersebut terjadi seiring koreksi bursa saham Amerika Serikat (AS) dan sejumlah pasar saham Asia yang turut membebani sentimen investor.

Data Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui RTI Business menunjukkan IHSG berada di zona merah pada pukul 09.02 WIB. Penurunan tersebut membawa indeks utama pasar modal Indonesia kembali berada di bawah level psikologis 5.000.

Tekanan terlihat pada sebagian besar sektor perdagangan. Sektor barang baku mencatat penurunan terdalam sebesar 2,60 persen, disusul infrastruktur yang melemah 2,18 persen dan energi sebesar 2,03 persen.

Pelemahan juga terjadi pada sektor properti dan real estat sebesar 1,48 persen, transportasi 1,34 persen, barang konsumen primer 1,14 persen, perindustrian 0,92 persen, serta barang konsumen nonprimer 0,70 persen.

Aktivitas transaksi pada awal perdagangan tercatat mencapai 2,3 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp537,6 miliar. Kondisi tersebut memperlihatkan tekanan pasar telah meluas ke sejumlah kelompok saham.

Di jajaran saham unggulan yang tergabung dalam indeks LQ45, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) menjadi saham dengan penurunan terbesar, yakni 6,61 persen ke posisi Rp1.555 per saham.

Berikutnya, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) terkoreksi 6,04 persen menjadi Rp855 per saham. Sementara itu, PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) melemah 3,89 persen ke level Rp1.360 per saham.

Di tengah dominasi tekanan jual, sejumlah saham masih mampu bergerak positif. PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) menguat 1,46 persen ke Rp1.390 per saham, sedangkan PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) naik 1,15 persen menjadi Rp1.325 per saham.

Sebagaimana dilansir Kontan, Jumat (06/11/2026), pelemahan IHSG pada awal perdagangan tersebut berlangsung bersamaan dengan koreksi bursa Amerika Serikat dan sejumlah bursa Asia.

Pergerakan pasar selanjutnya akan menjadi perhatian investor untuk melihat apakah tekanan jual dapat berlanjut atau mulai mereda. Perkembangan sentimen global dan pergerakan saham sektoral menjadi sejumlah faktor yang perlu dicermati dalam menentukan arah perdagangan berikutnya. []

Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *