Suku Bunga AS Berpotensi Naik Lagi, Ini Sinyal dari Pejabat The Fed
ZURICH – Perbedaan pandangan di internal bank sentral Amerika Serikat (AS) mengenai arah kebijakan suku bunga kembali mencuat. Presiden Federal Reserve (The Fed) Cleveland, Beth Hammack, mendorong kenaikan suku bunga secara bertahap dengan nominal lebih kecil tetapi lebih sering untuk menekan inflasi menuju target 2 persen tanpa menimbulkan tekanan berlebihan terhadap rumah tangga, dunia usaha, dan pasar keuangan.
Hammack menilai kebijakan moneter AS saat ini belum cukup ketat untuk mengendalikan kenaikan harga. Karena itu, The Fed perlu mengarahkan kebijakan menuju tingkat restriktif agar tekanan inflasi dapat dikendalikan dalam waktu yang tepat.
Pandangan tersebut disampaikan Hammack dalam pidato yang disiapkan untuk sebuah acara di Zurich, Swiss, Kamis (05/11/2026). Ia menekankan pentingnya penyesuaian suku bunga secara terukur dibandingkan menaikkannya dalam jumlah besar sekaligus.
“Saya memperkirakan kebijakan moneter perlu bergerak ke posisi restriktif untuk mengembalikan inflasi ke level 2 persen dalam waktu yang tepat,” ujar Hammack sebagaimana diberitakan Kompas, Jumat (06/11/2026).
Menurut Hammack, kenaikan suku bunga dengan skala lebih kecil tetapi frekuensi lebih sering dapat mengurangi risiko gangguan terhadap aktivitas ekonomi. Pendekatan tersebut juga memberikan ruang penyesuaian bagi masyarakat, pelaku usaha, dan pasar keuangan dalam menghadapi perubahan biaya pinjaman.
Ia juga memperingatkan bahwa keterlambatan dalam memperketat kebijakan moneter berpotensi membuat ekspektasi inflasi semakin mengakar. Kondisi tersebut dapat mempersulit upaya bank sentral mengembalikan stabilitas harga.
“Saya lebih memilih mencapai posisi tersebut melalui penyesuaian yang lebih kecil tetapi lebih sering jika memungkinkan. Langkah ini akan mengurangi gangguan terhadap rumah tangga, dunia usaha, dan pasar keuangan,” katanya.
Sikap Hammack muncul setelah The Fed memutuskan mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,75–4,00 persen dalam rapat pekan sebelumnya. Keputusan tersebut diambil meskipun para pembuat kebijakan mengakui tekanan inflasi masih berada di atas tingkat yang diharapkan.
Sebelumnya, The Fed telah menaikkan suku bunga pada September 2026. Sementara itu, pelaku pasar keuangan memperkirakan bank sentral AS berpeluang kembali menaikkan suku bunga pada Desember mendatang.
Dalam rapat kebijakan terakhir, Hammack bersama Gubernur The Fed Lisa Cook menjadi dua pejabat yang menyampaikan perbedaan pendapat (dissenting vote) dengan mendukung kenaikan suku bunga, berbeda dari keputusan mayoritas anggota komite.
Hammack bukan kali pertama mengambil sikap tersebut. Pada akhir Juli 2026, ia juga menyatakan ketidaksetujuan terhadap keputusan mempertahankan suku bunga. Saat itu, ia berpandangan bahwa kebijakan moneter dan kondisi keuangan secara keseluruhan belum memberikan tekanan memadai terhadap perekonomian untuk meredam inflasi.
Menurut Hammack, peningkatan biaya pinjaman jangka pendek diperlukan agar kebijakan moneter dapat bekerja lebih efektif dalam membatasi tekanan harga.
Di luar persoalan suku bunga, Hammack turut menekankan pentingnya independensi bank sentral dalam menjaga stabilitas ekonomi. Ia menilai kemampuan The Fed mengambil keputusan berdasarkan bukti dan data ekonomi menjadi fondasi utama dalam mempertahankan kepercayaan publik.
Kredibilitas bank sentral, menurutnya, harus dibangun melalui kebijakan yang berorientasi pada kondisi ekonomi, bukan dipengaruhi tekanan politik. Independensi tersebut dinilai penting agar upaya mengendalikan inflasi tetap berjalan konsisten dan target stabilitas harga dapat tercapai.
Perbedaan pandangan di internal The Fed menunjukkan bahwa arah kebijakan moneter AS masih menghadapi pertimbangan antara kebutuhan mengendalikan inflasi dan risiko pengetatan terhadap aktivitas ekonomi. Keputusan suku bunga berikutnya pun akan menjadi perhatian pelaku pasar global karena berpotensi memengaruhi biaya pinjaman, pergerakan mata uang, serta arus investasi internasional. []
Redaksi01
